PEKANBARU - Kabut asap tipis masih menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Pekanbaru, Jumat (2/10/2026). Meski hujan sempat mengguyur dalam beberapa hari terakhir, aroma asap pembakaran masih tercium kuat, terutama pada pagi hari.
Kondisi ini membuat warga kembali khawatir terhadap dampak kabut asap, khususnya bagi kesehatan pernapasan dan aktivitas belajar anak-anak.
Salah satu kawasan yang masih terlihat berkabut berada di Jalan H Imam Munandar Ujung. Ruas jalan tersebut merupakan jalur penghubung menuju Jalan Hangtuah sekaligus akses ke kawasan Lintas Timur.
Kabut asap tampak tipis menyelimuti kawasan tersebut. Sejumlah pengendara sepeda motor terlihat mengenakan masker saat melintas untuk mengurangi paparan asap.
Meski secara visual tidak terlalu pekat, bau asap masih dirasakan warga dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas udara.
Eti, salah seorang pengendara, mengatakan kabut asap di Pekanbaru belum benar-benar menghilang. Padahal, hujan sempat turun pada sore hingga malam hari dalam beberapa hari sebelumnya.
"Aneh saja. Padahal beberapa hari lalu turun hujan. Kabut asap justru masih tampak. Pagi hari saat mengantar anak ke sekolah, tercium sekali aroma pembakaran," ungkapnya.
Eti mengaku khawatir kondisi tersebut kembali berdampak terhadap kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, Pemerintah Kota Pekanbaru sebelumnya beberapa kali menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kondisi kabut asap.
Ia berharap kualitas udara segera membaik agar anak-anak dapat kembali menjalani pembelajaran secara normal di sekolah.
"Ada waktu sampai Senin nanti. Semoga kabut asap berkurang dan kalau bisa hilang. Repot juga nanti kalau anak-anak belajar daring (PJJ) lagi," ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Fely, warga Jalan Singgalang, Kecamatan Tengkerang Timur. Ia berharap kabut asap tidak kembali mengganggu kesehatan anak-anak maupun aktivitas pendidikan.
Menurutnya, meski kabut asap terlihat tipis, dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari tetap dirasakan, terutama ketika anak-anak harus beraktivitas di luar rumah.
"Anak jadi tidak maksimal belajarnya. Belum lagi masalah penyakit. Kabut asap memang tipis, tapi sangat berpengaruh pada pernafasan," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi dampak paparan asap, Fely membatasi aktivitas anaknya di luar rumah. Ia juga mewajibkan anak mengenakan masker ketika harus bepergian.
Warga berharap kondisi udara di Pekanbaru segera membaik sehingga aktivitas masyarakat, terutama kegiatan belajar mengajar, tidak kembali terganggu akibat kabut asap.