PEKANBARU - Hujan yang mengguyur Kota Pekanbaru selama dua hari berturut-turut mulai membawa perubahan pada kondisi udara. Kabut asap yang sebelumnya menyelimuti sejumlah wilayah perlahan terlihat membaik. Warga pun mulai kembali beraktivitas di luar rumah.
Membaiknya kualitas udara turut membawa harapan bagi guru dan siswa yang dalam beberapa hari terakhir harus menjalani pembelajaran dari rumah akibat kondisi asap.
Mereka berharap kondisi tersebut terus membaik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung normal di sekolah.
Prima, seorang guru sekolah swasta di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, mengaku sudah cukup lama berharap pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan.
Menurutnya, pembelajaran secara daring cukup menyulitkan, terutama saat mengajar siswa kelas 1 SD yang masih membutuhkan pendampingan dan interaksi secara langsung.
"Memang sudah lama ingin sekolah kembali. Kalau daring itu susah mengajarnya, apalagi kelas 1. Anak-anak masih kecil, jadi tidak mudah membuat mereka fokus mengikuti pelajaran dari rumah," kata Prima.
Ia mengatakan, tantangan semakin terasa ketika proses pembelajaran dilakukan melalui Zoom Meeting. Perhatian siswa lebih mudah teralihkan karena mereka berada di lingkungan rumah.
Tidak jarang, bahan atau media pembelajaran yang seharusnya digunakan untuk mengikuti pelajaran justru menjadi alat bermain bagi siswa. Kondisi itu membuat guru harus berulang kali mengingatkan siswa agar kembali memperhatikan pelajaran.
Selain persoalan konsentrasi siswa, pembelajaran daring juga membuat guru harus melakukan persiapan teknis tambahan.
Sebelum kelas dimulai, guru harus menyiapkan tautan Zoom Meeting, memastikan perangkat berfungsi, menyiapkan materi, hingga memastikan seluruh siswa dapat bergabung dalam pembelajaran.
Meski siswa belajar dari rumah, para guru tetap harus datang ke sekolah dan menjalankan jadwal kerja seperti biasa.
"Jadi sebenarnya guru tetap ke sekolah dan harus on time. Kami menyiapkan Zoom, materi, kemudian mengajar dari sekolah. Tapi interaksinya tetap tidak seperti ketika anak-anak ada di depan kita," ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Putri, seorang guru SMP di Pekanbaru. Ia berharap kondisi udara terus membaik sehingga siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.
Putri juga berharap kondisi asap tidak kembali memburuk setelah siswa kembali masuk sekolah.
"Semoga kali ini benar-benar membaik dan anak-anak bisa kembali sekolah. Jangan sampai baru masuk sekolah beberapa hari, asapnya kembali dan akhirnya online lagi. Kami berharap bisa kembali normal dan seterusnya belajar di sekolah," katanya.
Kerinduan untuk kembali ke sekolah juga dirasakan para siswa.
Aryo, siswa salah satu SD IT di Pekanbaru, mengaku sudah tidak sabar kembali belajar bersama teman-temannya.
Menurutnya, suasana belajar di sekolah terasa lebih menyenangkan karena dapat bertemu langsung dengan teman dan guru.
"Sudah tidak sabar mau sekolah lagi. Lebih enak belajar di sekolah, bisa bertemu teman-teman dan belajar langsung dengan guru," ujar Rio.
Bagi guru dan siswa, hujan yang mengguyur Pekanbaru menjadi angin segar setelah beberapa hari aktivitas pendidikan harus menyesuaikan dengan kondisi udara.
Namun, kondisi kualitas udara tetap menjadi perhatian. Kelanjutan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran dari rumah tetap perlu menyesuaikan perkembangan kualitas udara dan kondisi kabut asap di Kota Pekanbaru.
Guru dan siswa kini berharap perbaikan kondisi udara tidak hanya berlangsung sementara, tetapi dapat terus bertahan sehingga kegiatan belajar mengajar bisa kembali berjalan normal.