PEKANBARU — Kota Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir tampak diselimuti kabut. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memastikan bahwa kabut tersebut bukan disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Pekanbaru, Irwansyah Nasution, menyampaikan bahwa hingga Selasa (1/7/2025), wilayah di sekitar Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II belum menunjukkan tanda-tanda adanya kabut asap.
"Belum ada indikasi kabut asap di kawasan sekitar bandara. Pemantauan kami menunjukkan bahwa visibilitas udara masih dalam kondisi normal," ujar Irwansyah.
Sementara itu, pantauan satelit pada Rabu pagi (2/7/2025) juga belum menunjukkan keberadaan titik panas (hotspot) di wilayah Riau.
"Hingga pembaruan terakhir pagi tadi, belum ada hotspot yang terdeteksi oleh satelit. Ini berarti aktivitas kebakaran belum melampaui ambang batas yang dapat dikenali oleh sistem pemantauan satelit," jelasnya.
Meski demikian, Irwansyah mengakui bahwa terdapat laporan kebakaran terbatas di beberapa wilayah Kabupaten Kampar yang menyebabkan munculnya asap lokal. Namun, kejadian tersebut masih berskala kecil dan belum cukup untuk terdeteksi oleh satelit.
"Memang ada laporan kebakaran di sebagian wilayah Kampar yang menimbulkan asap, namun skalanya kecil dan belum masuk kategori signifikan dalam sistem deteksi kami," tambahnya.
Terkait kondisi udara, ia memastikan jarak pandang di Pekanbaru masih tergolong baik dan tidak mengganggu aktivitas penerbangan. Namun, mengingat saat ini memasuki puncak musim kemarau, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap suhu tinggi.
"Bulan Juli dan Agustus merupakan puncak musim kemarau. Kami sarankan masyarakat menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan dan memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi," ujar Irwansyah.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan membakar lahan guna mencegah potensi kebakaran yang lebih luas.
"Jangan melakukan pembakaran lahan, karena sangat mudah menyebar apinya, apalagi saat angin bertiup kencang secara tiba-tiba," pungkasnya.
Penulis: Dini
Editor: Riki