PEKANBARU – Sebanyak 1.489 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera pada Minggu (18/10/2026). Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 1.121 titik. Sementara itu, Provinsi Riau tercatat nihil hotspot, meski kondisi asap di sejumlah wilayah masih dilaporkan tebal.
Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Mari Frystine, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan terbaru, sebaran hotspot di Sumatera masih didominasi wilayah Sumatera Selatan.
“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera mencapai 1.489 titik. Dari jumlah tersebut, Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 1.121 titik, sedangkan Riau tidak terdeteksi adanya titik panas,” ujar Mari, Minggu (18/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan BMKG, selain Sumatera Selatan, hotspot juga terdeteksi di Lampung sebanyak 180 titik dan Bangka Belitung sebanyak 119 titik. Selanjutnya, Jambi tercatat 45 titik, Bengkulu 16 titik, Sumatera Barat lima titik, dan Aceh tiga titik.
Sementara itu, Riau menjadi satu-satunya provinsi dalam daftar tersebut yang tidak mencatatkan hotspot pada pemantauan hari ini.
Meski demikian, masyarakat Riau diminta tidak lengah. Nihilnya hotspot bukan berarti kondisi udara otomatis terbebas dari pencemaran asap. Asap dapat terbawa angin dari lokasi kebakaran di wilayah lain, sehingga kondisi udara tetap perlu diwaspadai.
Mari mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap, terutama bagi kesehatan sistem pernapasan.
“Dengan kondisi asap yang masih tebal di wilayah Riau, kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampaknya pada kesehatan, terutama sistem pernapasan,” imbaunya.
Ia juga meminta masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, aktivitas di luar rumah sebaiknya dibatasi apabila kondisi asap semakin pekat.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan dan membatasi aktivitas di luar rumah apabila kondisi asap semakin pekat,” tambahnya.
Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara serta mengurangi paparan asap, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi nihil hotspot perlu disikapi secara proporsional. Masyarakat tetap harus memperhatikan kondisi udara yang dirasakan di lingkungan masing-masing dan mengambil langkah perlindungan kesehatan selama asap masih menyelimuti wilayah Riau.