PEKANBARU – Jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera mencapai 2.596 titik pada Jumat (9/10/2026) sore, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumsel sebanyak 2.015 titik.
Sementara itu, Riau mencatat 14 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun menyampaikan, sebaran hotspot di Riau mencakup wilayah pesisir hingga sejumlah daerah lainnya.
Inhu menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak di Riau, yakni empat titik.
Berdasarkan data yang disampaikan BMKG Pekanbaru, sebaran hotspot di Riau terdiri atas Kota Dumai dua titik, Kabupaten Rohil satu titik, Bengkalis satu titik, Kuansing satu titik, Pelalawan satu titik, Siak dua titik, Inhil dua titik, serta Inhu empat titik.
Dominasi Inhu menunjukkan wilayah tersebut perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, keberadaan hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit dan tidak serta-merta memastikan adanya kebakaran di setiap lokasi.
Di tingkat Sumatera, Sumsel menjadi penyumbang hotspot terbesar dengan 2.015 titik. Posisi berikutnya ditempati Jambi dengan 416 titik dan Lampung sebanyak 92 titik.
Sementara itu, Babel mencatat 47 titik, Aceh empat titik, Kepri tiga titik, Sumut dua titik, Bengkulu dua titik, serta Sumbar satu titik.
Besarnya konsentrasi hotspot di Sumsel dan Jambi menjadi perhatian dalam pemantauan karhutla lintas wilayah.
Namun, jumlah titik panas saja belum cukup untuk menggambarkan luas kebakaran maupun tingkat keparahan dampaknya.
Di Riau, penambahan titik panas perlu diikuti verifikasi lapangan oleh instansi terkait, terutama untuk memastikan apakah deteksi satelit berkaitan dengan kebakaran lahan yang membutuhkan penanganan segera.
Pemantauan lanjutan juga diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan hotspot, khususnya di daerah yang memiliki sebaran titik panas lebih banyak.
Langkah tersebut penting agar potensi karhutla dapat ditangani sejak dini sebelum meluas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.