PEKANBARU - Provinsi Riau kembali berpotensi terdampak kabut asap kiriman dari provinsi tetangga. Kondisi ini terjadi di tengah masih tingginya jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Gita Dewi, melaporkan terdapat 3.734 hotspot yang terpantau di wilayah Sumatera pada Rabu (30/9/2026).
Dari jumlah tersebut, hotspot terbanyak terdeteksi di Sumatera Selatan yang mencapai 2.639 titik. Selanjutnya Jambi 603 titik, Lampung 265 titik, Bangka Belitung 183 titik, Sumatera Barat 13 titik, Sumatera Utara 17 titik, Bengkulu 4 titik dan Kepulauan Riau 4 titik.
Sementara itu, Riau hanya mencatat enam hotspot yang tersebar di empat kabupaten.
Enam hotspot tersebut terdiri dari Kabupaten Bengkalis satu titik, Pelalawan dua titik, Siak dua titik dan Indragiri Hulu satu titik.
Kondisi ini menunjukkan jumlah hotspot di Riau jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi tetangga, khususnya Sumatera Selatan dan Jambi yang masih mencatat ratusan hingga ribuan titik panas.
BMKG juga mencatat arah angin saat ini bergerak dari timur hingga selatan dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam. Kondisi arah angin tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi pergerakan asap dari wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal memastikan saat ini tidak ada lagi titik Karhutla di wilayah Riau.
Terkait munculnya kabut asap di sejumlah daerah, Edy menjelaskan bahwa asap tersebut bukan berasal dari kebakaran yang terjadi di Riau. Menurutnya, kabut asap merupakan kiriman dari provinsi tetangga yang hingga kini masih menghadapi Karhutla.
Dengan kondisi hotspot di Sumatera yang masih tinggi, masyarakat Riau diminta tetap mewaspadai kemungkinan memburuknya kualitas udara apabila asap dari daerah lain terbawa angin ke wilayah Riau.