PEKANBARU - Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera mencapai 778 titik pada Senin (28/9/2026) sore.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, sementara Riau terdeteksi 11 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi, mengatakan data pemantauan menunjukkan Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 424 hotspot.
"Total titik panas wilayah Sumatera Senin sore ada 778 titik," kata Gita Dewi.
Selain Sumatera Selatan, titik panas juga terdeteksi cukup banyak di Jambi sebanyak 148 titik dan Bangka Belitung 115 titik.
Sementara Lampung memiliki 52 titik, Sumatera Utara 16 titik, Aceh 10 titik, dan Sumatera Barat dua titik.
Di Riau, BMKG mencatat 11 hotspot. Sebarannya berada di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak dua titik, Pelalawan tiga titik, Rokan Hulu satu titik, Siak dua titik, serta Indragiri Hulu tiga titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski jumlah hotspot Riau jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Selatan, aktivitas panas tetap terdeteksi di beberapa wilayah yang memiliki potensi kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Jika dibandingkan antarprovinsi, Sumatera Selatan menyumbang lebih dari separuh total hotspot Sumatera yang terpantau pada Senin sore.
Kondisi ini membuat perhatian terhadap perkembangan karhutla di wilayah tersebut tetap menjadi faktor penting dalam membaca potensi dampak asap lintas wilayah.
Sementara itu, keberadaan hotspot di Riau tersebar dan tidak terkonsentrasi pada satu kabupaten. Pelalawan mencatat jumlah terbanyak dengan tiga titik, disusul Kuantan Singingi dan Siak masing-masing dua titik.
BMKG mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi titik dengan suhu relatif tinggi yang terdeteksi satelit, sehingga tidak serta-merta dapat disamakan dengan titik kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.
Karena itu, data hotspot tetap membutuhkan verifikasi lebih lanjut oleh petugas di lapangan untuk memastikan apakah indikasi tersebut benar merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Data hotspot yang dipantau BMKG Pekanbaru pada Senin (28/9/2026) sore meliputi Sumatera Selatan 424 titik, Jambi 148 titik, Bangka Belitung 115 titik dan Lampung 52 titik.
Kemudian, Sumatera Utara 16 titik, Riau 11 titik, Aceh 10 titik dan Sumatera Barat 2 titik.
Perkembangan hotspot ini perlu terus dipantau, terutama apabila kondisi cuaca kering dan angin mendukung penyebaran asap.
Perubahan jumlah dan lokasi hotspot pada pemantauan berikutnya akan menjadi indikator penting untuk melihat dinamika potensi karhutla di Sumatera dan Riau.