KAMPAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kampar mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan kasus keracunan di Kecamatan Tapung Hulu.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sejumlah temuan pada makanan yang dikonsumsi para korban, mulai dari zat NO2, bakteri E. Coli dan Staphylococcus, hingga fungi atau jamur.
Kepala Dinas Kesehatan Kampar, Zulhendra Das'at mengatakan, hasil pemeriksaan tersebut telah disampaikan kepada Satuan Tugas (Satgas) MBG Kampar.
Hasil tersebut juga telah disampaikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampar Tapung Hulu Bukit Kemuning selaku penyedia menu MBG.
Terkait langkah yang akan diambil berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, Zulhendra mengatakan hal itu menjadi kewenangan Satgas MBG.
"Itu wewenang satgas," katanya kepada media, Senin (7/9/2026).
Kasus keracunan tersebut terjadi pada Selasa (18/8/2026). Jumlah korban kemudian terus bertambah hingga Kamis (20/8/2026).
Para korban mengalami sejumlah gejala, seperti pusing, mual, muntah, sakit perut hingga diare.
Dinkes Kampar mencatat total 158 orang menjadi korban dalam kejadian tersebut. Mereka terdiri dari guru dan siswa SMK Negeri 1 Tapung Hulu serta siswa SD Negeri 008 Rimba Beringin.
Sampel makanan diperiksa di UPT Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Provinsi Riau. Sampel dikirim pada Rabu (19/8/2026).
Adapun makanan yang diperiksa meliputi nasi putih, sup ayam, tahu goreng dan mentimun.
Dari pemeriksaan kimia, ditemukan adanya zat NO2 pada menu sup ayam dan tahu goreng.
Zulhendra menjelaskan, keberadaan NO2 tersebut dapat berkaitan dengan proses penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar suhu.
"Bisa disebabkan dari adanya proses penyimpanan yang tidak sesuai dengan standar suhu," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan degradasi zat NO3 menjadi NO2 pada daging olahan. Perubahan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh mikroorganisme yang terdapat dalam makanan.
Selain temuan kimia, pemeriksaan bakteriologi juga menunjukkan hasil positif E. Coli dan Staphylococcus.
Kedua bakteri tersebut ditemukan pada sampel sup ayam dan tahu goreng.
Zulhendra mengatakan, keberadaan E. Coli kemungkinan berkaitan dengan kontaminasi silang setelah proses pemasakan, cooling time, maupun penanganan makanan matang yang tidak higienis.
"Temuan ini mengindikasikan adanya kontaminasi yang berkaitan dengan sanitasi yang kurang baik. Baik dari bahan baku, air pencuci peralatan, pengolahan, maupun penanganan makanan," ujarnya.
Sementara itu, bakteri Staphylococcus umumnya berkaitan dengan kontaminasi dari penjamah makanan.
"Bakteri ini (Stahylococcus) banyak ditemukan di kulit, tangan, rongga hidung, dan saluran pernapasan manusia," jelasnya.
Tak hanya bakteri, pemeriksaan terhadap fungi atau jamur juga menunjukkan adanya temuan pada sejumlah sampel makanan.
Jamur ditemukan pada sup ayam, tahu goreng dan mentimun.
Zulhendra menjelaskan, jamur tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, melainkan menyerap nutrisi dari lingkungan sekitarnya.
"Keberadaan jamur menunjukkan penurunan mutu," ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan mikrobiologis pada pangan dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya penyimpanan yang terlalu lama, kelembapan terlalu tinggi, serta kontaminasi lingkungan selama proses penyimpanan dan penyajian.
Dengan adanya hasil pemeriksaan tersebut, Dinkes Kampar telah menyampaikan temuan laboratorium kepada pihak terkait. Sementara langkah lanjutan terhadap penyedia menu MBG menjadi kewenangan Satgas MBG Kampar.
Untuk gaya portal berita yang lebih kuat, saya merekomendasikan judul nomor 1 karena langsung menonjolkan temuan laboratorium dan memiliki daya tarik klik yang tinggi.