PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Provinsi Riau. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 15.318 hektare, dengan mayoritas kejadian terjadi di kawasan lahan gambut.
Data tersebut menunjukkan bahwa upaya pengendalian karhutla di Riau masih menghadapi tantangan besar, meskipun berbagai langkah pencegahan dan mitigasi terus dilakukan oleh pemerintah bersama sejumlah pihak terkait.
Berdasarkan data Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (BPKH) Wilayah Sumatera, sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut yang dikenal sangat rentan terhadap kebakaran dan sulit dipadamkan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh melalui analisis citra satelit yang dilakukan secara kolaboratif oleh sejumlah instansi pemerintah.
"Data luasan karhutla periode Januari hingga Mei ini merupakan hasil analisis citra satelit melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional," kata Ferdian Krisnanto di Pekanbaru, Rabu (17/6/2026).
Dari total 15.318 hektare lahan yang terbakar, sebanyak 14.162,6 hektare berada di lahan gambut, sedangkan 1.155,4 hektare lainnya merupakan lahan mineral.
Sejumlah daerah di Riau tercatat mengalami kebakaran lahan dalam skala besar sepanjang awal tahun 2026.
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 8.237 hektare yang terdiri dari 219,4 hektare lahan mineral dan 8.017,6 hektare lahan gambut.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas kebakaran mencapai 4.538,8 hektare, terdiri dari 210,3 hektare lahan mineral dan 4.328,4 hektare lahan gambut.
Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hilir mencatat luas kebakaran 947,2 hektare, dengan rincian 423,5 hektare lahan mineral dan 523,7 hektare lahan gambut.
Kota Dumai juga masuk dalam daftar daerah terdampak dengan luas kebakaran mencapai 600,9 hektare, yang sebagian besar terjadi di kawasan gambut.
Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya terjadi di wilayah pedalaman, tetapi juga menjangkau daerah perkotaan yang memiliki kawasan gambut cukup luas.
Dominasi kebakaran pada lahan gambut menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla di Riau.
Karakteristik gambut yang mudah mengering saat musim kemarau membuat lahan ini sangat rentan terbakar. Selain itu, api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Karena itu, penanganan kebakaran di lahan gambut memerlukan strategi khusus seperti pembasahan lahan secara intensif, pembangunan sekat kanal, hingga patroli rutin pada wilayah rawan.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir, luas karhutla pada 2026 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Pada 2025, luas karhutla di Riau tercatat 751,1 hektare. Sementara pada 2024 mencapai 3.942,7 hektare, tahun 2023 seluas 1.860,5 hektare, tahun 2022 mencapai 2.325,9 hektare, dan tahun 2021 sebesar 6.471,5 hektare.
Meski angka tahun 2026 masih berada di bawah puncak kebakaran besar pada 2019 yang mencapai 27.724 hektare, lonjakan dibandingkan tahun sebelumnya menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
Untuk menekan risiko meluasnya kebakaran, tim gabungan terus melakukan berbagai langkah pencegahan dan penanganan di wilayah rawan karhutla.
Ferdian mengatakan patroli dilakukan secara rutin baik melalui jalur darat maupun udara guna mempercepat deteksi dini terhadap titik panas dan potensi kebakaran.
"Upaya pencegahan karhutla terus dilakukan melalui patroli darat dan udara untuk mempercepat respons apabila terdeteksi kebakaran maupun titik panas, disertai sosialisasi serta pemantauan kondisi lapangan di desa-desa rawan karhutla," ujarnya.
Pemerintah berharap penguatan deteksi dini, patroli terpadu, serta keterlibatan masyarakat dapat menekan potensi kebakaran yang lebih luas pada musim kemarau tahun ini.