PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat sebanyak 193 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Pulau Sumatera pada Sabtu (6/6/2026). Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 31 titik panas yang tersebar di sembilan kabupaten.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Mari Frystine, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan satelit, jumlah hotspot di Sumatera masih cukup tinggi dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Bangka Belitung sebanyak 39 titik, disusul Sumatera Selatan 32 titik dan Riau 31 titik.
"Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 193 titik. Untuk Provinsi Riau terdapat 31 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten," ujar Mari Frystine, Sabtu (6/6/2026).
Dari 31 titik panas yang terpantau di Riau, Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni delapan titik. Disusul Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu masing-masing enam titik, serta Kabupaten Rokan Hilir sebanyak empat titik.
Sementara itu, Kabupaten Rokan Hulu terdeteksi tiga titik panas. Sedangkan Kabupaten Kampar, Siak, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir masing-masing terpantau satu titik panas.
"Sebaran hotspot di Riau terdapat di Kabupaten Rokan Hilir empat titik, Rokan Hulu tiga titik, Bengkalis delapan titik, Kampar satu titik, Siak satu titik, Pelalawan enam titik, Kuantan Singingi satu titik, Indragiri Hulu enam titik, dan Indragiri Hilir satu titik," jelasnya.
Secara regional, hotspot di Sumatera terpantau tersebar di Aceh 16 titik, Bengkulu tujuh titik, Jambi 20 titik, Lampung delapan titik, Sumatera Barat 24 titik, Sumatera Selatan 32 titik, Sumatera Utara 12 titik, Bangka Belitung 39 titik, Kepulauan Riau empat titik, dan Riau 31 titik.
Meningkatnya jumlah titik panas menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah cuaca yang mulai cenderung kering di sejumlah wilayah.
BMKG bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan secara intensif guna mengantisipasi munculnya titik api yang dapat berkembang menjadi kebakaran lahan maupun hutan.
"Kami terus memantau perkembangan hotspot setiap hari sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau maupun Sumatera," tutup Mari Frystine.