PEKANBARU – BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi sebanyak 620 titik panas (hotspot) tersebar di Pulau Sumatera pada Minggu (31/5/2026). Temuan ini menjadi perhatian serius karena hotspot merupakan salah satu indikator awal potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari total 620 hotspot yang terpantau, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 347 titik. Disusul Sumatera Utara sebanyak 67 titik, Sumatera Barat 58 titik, Sumatera Selatan 56 titik, dan Kepulauan Bangka Belitung 39 titik.
Sementara itu, Provinsi Riau tercatat memiliki delapan titik panas yang tersebar di empat kabupaten.
"Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Minggu (31/5/2026), terdeteksi sebanyak delapan titik panas di wilayah Provinsi Riau yang tersebar di Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi," ujar Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Indah.
Rinciannya, empat titik panas terpantau di Kabupaten Rokan Hilir, dua titik di Kabupaten Kuantan Singingi, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Indragiri Hulu.
Meski jumlah hotspot di Riau masih tergolong lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera, keberadaan titik panas tetap perlu diwaspadai karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditangani.
"BMKG terus melakukan pemantauan perkembangan titik panas secara berkala sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau maupun Sumatera," kata Indah.
Pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang terdeteksi memiliki titik panas. Langkah pencegahan dini dinilai penting guna menghindari terjadinya kebakaran yang dapat berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi.