PEKANBARU - Belum usai jilatan api di Kabupaten Siak dan Rokan Hilir (Rohil), kini dua titik api baru terdeteksi di kawasan terisolasi, yakni Pulau Mendol dan Sokoi, Kabupaten Pelalawan pada Kamis (28/5/2026).
Menyikapi eskalasi ini, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan langsung mengaktifkan status siaga penuh dan mengerahkan personel Manggala Agni ke titik koordinat baru tersebut.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengungkapkan, dua tim dari Daops Rengat telah dimobilisasi sejak Kamis sore untuk mempersiapkan seluruh armada tempur pemadaman dan pasokan logistik.
“Siang tadi terdeteksi dua lokasi kebakaran baru di Pulau Mendol dan Sokoi Pelalawan. Sore ini dua tim Manggala Agni Daops Rengat mulai menyiapkan sarana prasarana dan logistik untuk diberangkatkan besok pagi,” ujar Ferdian.
Operasi pemadaman di Pulau Mendol dan Sokoi diprediksi akan menguras fisik personel.
Selain faktor cuaca yang tidak menentu, tantangan terbesar adalah topografi wilayah yang terisolasi.
Untuk mencapai titik api, tim Manggala Agni harus melakukan pergerakan hibrida dengan mengombinasikan jalur darat dan transportasi perairan.
Berdasarkan estimasi taktis, perjalanan dari posko utama menuju lokasi kebakaran via Pulau Muda akan memakan waktu hingga tujuh sampai delapan jam.
Sementara itu, pertempuran melawan api di Kabupaten Siak dan Rohil telah memasuki hari kedua.
Karakteristik lahan yang terbakar didominasi perkebunan masyarakat di atas tanah gambut dalam, jenis tanah yang sangat rentan menyimpan bara di bawah permukaan.
Berdasarkan data estimasi luasan area terdampak dari Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera meliputi Kabupaten Siak, Kecamatan Kandis ± 20 Hektare dan Kabupaten Rohil, Kecamatan Pasir Limau Kapas ± 8 Hektare.
Di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, personel Daops IV Pekanbaru menerapkan taktik defensif-agresif dengan melakukan penyekatan pada kepala api.
Langkah ini krusial untuk memutus jalur perambatan api agar tidak melumat area perkebunan produktif lainnya. Operasi darat ini diperkuat oleh Satgas Udara melalui bombardir air (water bombing).
"Proses penyekatan berhasil dilakukan dan besok akan terus dilanjutkan mopping up (pembersihan) untuk memastikan seluruh potensi api benar-benar padam," ujarnya.
Di sisi lain, kondisi di Pasir Limau Kapas, Rohil, masih membutuhkan penanganan intensif. Tim Manggala Agni Daops III Labuhanbatu Selatan (Sumut) terus melakukan pendinginan.
Hingga Kamis sore, kepulan asap tipis masih keluar dari dalam tanah. Karakteristik gambut yang menipu, tampak padam di atas namun membara di bawah, menuntut ketelitian ekstra dari petugas.
Tantangan di lapangan kian berlipat ganda akibat lonjakan suhu udara yang ekstrem di wilayah Riau. Panas menyengat mempercepat penguapan air, sekaligus memicu sisa bara gambut untuk kembali menyala.
“Kendala di lapangan saat ini cuaca sangat panas. Air untuk kebutuhan pemadaman masih tersedia, walaupun volumenya sudah mulai terus berkurang,” jelas Ferdian.
Untuk menyiasati jarak tempuh dan memotong waktu mobilisasi, tim Manggala Agni mengambil keputusan taktis dengan menggeser posko peristirahatan mereka.
Para personel kini menginap di rumah-rumah warga setempat yang berdekatan dengan titik api.