PEKANBARU – Provinsi Riau kembali menjadi wilayah dengan jumlah titik panas atau hotspot terbanyak di Pulau Sumatera berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sabtu (23/5/2026) sore.
Kondisi ini memicu kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di sejumlah daerah rawan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris mengungkapkan, total hotspot yang terpantau di Sumatera mencapai 85 titik.
Dari jumlah tersebut, Riau menyumbang 23 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.
“Total titik panas wilayah Sumatera sore ini mencapai 85 titik dan Riau menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 23 titik,” ujar Alfa Nataris.
Berdasarkan data BMKG Pekanbaru, sebaran hotspot di Riau paling banyak terdeteksi di Kabupaten Kampar dengan delapan titik panas.
Selanjutnya, Kabupaten Pelalawan tercatat empat titik, Kabupaten Rokan Hilir tiga titik, serta Kabupaten Bengkalis tiga titik.
Sementara itu, Kabupaten Siak terpantau dua titik panas. Sedangkan masing-masing satu titik panas terdeteksi di Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru.
Selain Riau, BMKG juga mencatat titik panas tersebar di sejumlah provinsi lain di Sumatera. Aceh menjadi daerah dengan hotspot terbanyak kedua yakni 19 titik, disusul Sumatera Utara 14 titik, Sumatera Barat 12 titik, dan Sumatera Selatan 10 titik.
Kemudian, Jambi terpantau lima titik panas dan Bangka Belitung dua titik panas.
Meningkatnya jumlah hotspot di Riau menjadi perhatian serius mengingat wilayah ini kerap menghadapi ancaman karhutla saat cuaca panas dan minim hujan berlangsung dalam beberapa hari.
Titik panas sendiri merupakan indikator awal yang digunakan BMKG untuk mendeteksi potensi kebakaran lahan maupun hutan melalui pemantauan satelit.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait biasanya meningkatkan patroli dan pengawasan di wilayah rawan guna mencegah munculnya kebakaran yang lebih luas.
Selain itu, masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama di lahan gambut.
Data hotspot BMKG menjadi salah satu acuan penting dalam upaya mitigasi dini karhutla di Provinsi Riau yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah rawan kebakaran lahan di Indonesia.