PEKANBARU - Tidak sekadar memeriksa kesehatan fisik ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau tahun ini mengusung misi besar, mengawinkan standarisasi kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) dengan konsep ramah lingkungan dan digitalisasi lapangan.
Langkah preventif ini diambil guna memastikan seluruh daging kurban yang didistribusikan ke masyarakat berada dalam kondisi sehat, memenuhi syariat (cukup umur), serta diproses melalui lingkungan yang higienis.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, DPKH Riau menginstruksikan para petugas untuk mengambil langkah jemput bola.
Petugas diminta mendatangi simpul-simpul panitia kurban, seperti masjid dan musala, jauh sebelum hari penyembelihan tiba.
Kadis PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir menegaskan, interaksi dini ini sangat krusial untuk meminimalisir kekeliruan fatal di tingkat panitia lokal, baik dari segi penentuan umur hewan hingga tata cara pemotongan.
“Petugas diminta datang lebih awal ke masjid agar sosialisasi terkait syarat umur hewan dan tata cara penyembelihan yang higienis bisa maksimal,” ujar Mimi, Senin (18/5/2026).
Sebagai bentuk dukungan konkret di lapangan, DPKH Riau tidak hanya membawa penyuluhan, tetapi juga logistik kesehatan.
Setiap masjid yang masuk dalam peta pengawasan akan disuplai dengan alat pelindung diri (APD) serta 4 liter cairan desinfektan untuk menjaga sterilitas area penyembelihan.
Menyadari luasnya wilayah pengawasan di Bumi Lancang Kuning, DPKH Riau mempertebal barisan tim medisnya.
Tahun ini, otoritas peternakan daerah tersebut resmi berkolaborasi dengan dunia akademis.
Sebanyak 67 mahasiswa dari Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Riau (Unri) diterjunkan langsung ke lapangan.
Kehadiran para calon dokter hewan ini diharapkan mampu mempercepat proses skrining kesehatan ternak secara masif, mulai dari deteksi penyakit mulut dan kuku, hingga pemeriksaan post-mortem (setelah disembelih) demi memastikan daging bebas dari parasit berbahaya.
Salah satu angle menarik yang menjadi sorotan DPKH Riau kali ini adalah tata kelola limbah kurban.
Mimi Yuliani Nazir mengimbau panitia kurban untuk mulai menggeser kebiasaan lama yang kurang ramah lingkungan, salah satunya penggunaan alas plastik berlebih di atas terpal tempat pencacahan daging.
Selain itu, pemisahan antara daging merah dengan jeroan harus dilakukan secara ketat demi menghindari kontaminasi silang bakteri.
“Penggunaan plastik di atas terpal juga diupayakan dikurangi. Daun pisang bisa menjadi alternatif yang lebih hemat dan ramah lingkungan,” tutur Mimi.
Guna menghindari adanya celah dalam pengawasan, DPKH Riau memanfaatkan teknologi informasi.
Seluruh pergerakan, hasil pemeriksaan fisik hewan, hingga kondisi sanitasi di lokasi kurban wajib dilaporkan oleh petugas secara real-time melalui sistem pelaporan digital yang telah disiapkan.
Langkah digitalisasi ini mempermudah pemetaan situasi di lapangan sekaligus mempercepat proses evaluasi berkala antara tim pengawas, dinas terkait dan pengurus masjid.
"Kami berharap pengawasan yang lebih ketat tahun ini dapat membuat pelaksanaan kurban berjalan lebih aman, sehat, dan sesuai standar kesehatan masyarakat veteriner," pungkas Mimi.