PEKANBARU – Pemantauan satelit terbaru menunjukkan tren penurunan titik panas di Pulau Sumatera. Data pada Sabtu (9/5/2026) sore mencatat total 14 hotspot yang tersebar di sejumlah provinsi, dengan Riau hanya menyisakan satu titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia menegaskan, kondisi ini menjadi indikator awal membaiknya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski kewaspadaan tetap harus dijaga.
“Total titik panas wilayah Sumatera sore ini terpantau 14 titik, tersebar di beberapa provinsi dengan Riau tersisa satu hotspot di Kabupaten Indragiri Hulu,” ujar Bella.
Pemantauan menunjukkan hotspot masih tersebar di lima provinsi, yakni Sumatera Selatan 5 titik, Jambi 4 titik, Lampung 3 titik, Sumatera Utara 1 titik dan Riau 1 titik yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Penurunan jumlah hotspot di Riau menjadi sorotan karena wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai daerah rawan karhutla saat musim kemarau.
Satu hotspot yang tersisa berada di Kabupaten Indragiri Hulu. Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode awal musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menandakan bahwa langkah pencegahan dini, patroli darat, serta pemantauan satelit mulai memberikan dampak nyata di lapangan.
Namun, otoritas tetap mengingatkan bahwa satu titik panas tetap berpotensi berkembang menjadi kebakaran bila tidak ditangani cepat.
Meski jumlah hotspot menurun, Sumatera masih memasuki fase rawan kebakaran lahan. Perubahan cuaca cepat dan potensi hari tanpa hujan tetap menjadi faktor risiko utama.
BMKG mengingatkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat, agar tidak lengah dan terus meningkatkan pengawasan.
“Pemantauan harus tetap dilakukan secara intensif karena potensi kebakaran masih ada,” tegas Bella.