www.halloriau.com
BREAKING NEWS :
Mahasiswa KKN Universitas Andalas Bagikan Masker Gratis di Simpang Garoga Duri
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
Tinggal Sebatang Kara di Gubuk, Gatot Sempat Tak Makan Nasi Selama 7 Bulan
Selasa, 25 Agustus 2020 - 20:54:05 WIB
Gatot Sugianto terima bantuan dari Rumah Yatim.
Gatot Sugianto terima bantuan dari Rumah Yatim.

Hidup sebatang kara terpaksa harus dijalani Gatot Sugianto (64) setelah lama berpisah dengan istrinya. Meski memiliki anak, namun saat ini mereka tinggal terpisah dan sudah jarang bertemu satu sama lain.

Pria yang mendekati Lansia tersebut tinggal di kawasan Jalan Pelita, RT 018 RW 005, Desa Tasik Serai Barat, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Ia tinggal jauh dari pemukiman warga, tepatnya di tengah-tengah kebun sawit.

Dulunya, rumah yang ditempati Gatot sangat alakadarnya dan hanya cukup untuk beristirahat di malam hari. Kemudian, Ia bangun rumah tersebut dengan sangat sederhana, yakni menyusunkan batu bata tanpa diplester.

Dinding rumahnya hanya terbuat dari batang-batang kayu yang ditutupi terpal dengan tiang-tiang kayu sebagai penyangga. Sementara atap rumahnya hanya ditutupi seng bekas yang dialasi terpal.

Kondisi bangunan rumah yang serba alakadarnya dan tidak tertutupi semua tersebut tentu tidak mampu kuat bertahan. Bahkan tatkala hujan mengguyur, air yang cukup lebat dan deras masuk ke rumah Gatot. 

"Kalau hujan turun saya berlari ke sana sini buat nutupin yang bocor dan agar rumahnya tidak banjir. Sekarang saya pindah di rumah sebelah yang dibangun ala kadarnya berkat bantuan dari Bapak Kepala Desa dulunya. Alhamdulillah agak lebih baik dari bangunan kemarin," ujar Gatot menceritakan kepahitan hidupnya yang sudah tinggal 18 tahun di tempat tersebut.

Mungkin sebutan yang tepat untuk tempatnya tinggal bukanlah rumah, melainkan hanya bangunan gubuk. Saat ini, kondisi bangunan atau gubuk tempat Gatot tinggal nampaknya hanya tinggal menunggu hari-hari untuk kayunya satu persatu roboh, manakala hujan deras disertai angin kencang menerjang.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Gatot bekerja sebagai pembuat batu bata. Tiap harinya, Ia sendiri yang mencangkul dan mengambil tanah liat untuk kemudian dicetak, dijemur, hingga mengangkat serta membakar batu bata tersebut. Padahal, kondisi kesehatan matanya sudah tidak berfungsi sebelah dan hanya bisa melihat dengan satu mata.

Seiring tubuh yang dimakan usia, kini Gatot tidak mampu lagi memproduksi batu bata dengan jumlah banyak layaknya masih muda. Padahal, Ia dulu mampu menghasilkan Rp 4-3 juta dari harga Rp 300 per bata yang dijual. Saat ini, Gatot pun memiliki harapan untuk memiliki pekerjaan lain, seperti menanam cabai dan lainnya yang lebih mudah dan ringan.

Bahkan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Gatot menceritakan, dirinya amat sangat terdampak. Semenjak pandemi, Ia sudah hampir tujuh bulan tidak makan nasi. Gatot hanya makan Kates atau Pepaya yang Ia rebus dan hanya ditambahi bumbu penyedap dari warung, termasuk makanan dari hutan lainnya.

"Setiap hari saya hanya makan itu untuk mengganjal rasa lapar karena saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli beras. Dan mungkin saya sudah lupa bagaimana rasa nasi itu sekarang," ucap Gatot lirih menceritakan kepahitan hidupnya yang sudah tidak bisa membeli beras untuk makan.

Kendati demikian, Gatot sangat semringah dan mengaku bahagia ketika mendapat Bantuan Biaya Hidup dari Rumah Yatim. Sebelumnya, Ia juga mengaku sempat mendapat bantuan dari pemerintah setempat, sehingga dapat merasakan kembali makan nasi.

"Dulunya bukan dapur yang berasap, malah yang berasap tungku dari pembuatan batu bata saja. Alhamdulillah, pak gatot tetap semangat dalam jalani hidup," ujar Relawan Rumah Yatim Cabang Riau, Rahmat.

#pejuangkebaikan, masih banyak saudara-saudara kita yang ada dipelosok negeri membutuhkan uluran tangan kita. Satu uluran tanganmu sangat berarti bagi mereka. Donasi terbaikmu bisa disalurkan melalui :

Rekening Donasi : 

BCA 220 139 8888
Mandiri 1720 000 384 125
An Yayasan Rumah Yatim Arrohman



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA LAINNYA    
Mahasiswa KKN Universitas Andalas Bagikan Masker Gratis di Simpang Garoga Duri
IlustrasiBus Vaksinasi Keliling Dihentikan Sementara, Warga Pekanbaru Diminta Suntik Vaksin di Lokasi Ini
Ketum PBNU KH Said Aqil SiradjSaid Aqil: Ada Kiai yang Suuzan Vaksinasi Itu Pembantaian Massal
IlustrasiKasus Kematian Covid-19 di Indonesia Tembus 80 Ribu
Kapolres Bengkalis AKBP Hendra Gunawan saat meninjau penerapan PPKM Mikro di Desa Teluk Pambang Tambah 30 Orang, Total Warga Pambang Positif Covid 52 Orang
  Polres Dumai Bagikan Paket Bansos Kepada PKL Terdampak Pandemi Covid-19Polres Dumai Bagikan Paket Bansos Kepada PKL Terdampak Pandemi Covid-19
Menko Marves Luhut Binsar PandjaitanKasus Kematian Tinggi di 4 Provinsi Ini, Luhut Minta Laporkan Penyebabnya
Kadiskes Riau Mimi Yuliani NazirPekanbaru Berlakukan PPKM Level 4: WFH 100% hingga Semua Tempat Makan Wajib Tutup
Kadiskes Riau Mimi Yuliani NazirPecah Rekor 1.008 Kasus, Pekanbaru Berlakukan PPKM Level 4 Mulai 28 Juli
IlustrasiSeleksi CPNS Pemprov Riau Diperpanjang
Komentar Anda :

 
Potret Lensa
Balai PPW Riau Monev Program Pamsimas dan IPAL Pesantren di Bengkalis
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2021 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved