www.halloriau.com
BREAKING NEWS :
Sharing Budget, KPU Rohul Dapat Anggaran Pilkada Serentak Tahap I Rp2,86 Miliar dari KPU RI
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
Menjaga Bahasa, Merawat Indonesia
Kamis, 28 Mei 2020 - 14:20:54 WIB
Puluhan wartawan berfoto bersama Kadiskominfo Pelalawan, Hendri Gunawan dan panelis dan usai mengikuti penyuluhan Bahasa Indonesia di Kabupaten Pelalawan, beberapa waktu lalu. FOTO: Andy Indrayanto
Puluhan wartawan berfoto bersama Kadiskominfo Pelalawan, Hendri Gunawan dan panelis dan usai mengikuti penyuluhan Bahasa Indonesia di Kabupaten Pelalawan, beberapa waktu lalu. FOTO: Andy Indrayanto

Oleh: Andy Indrayanto

Dalam dunia media massa, penggunaan dan penguasaan bahasa jurnalistik memang mutlak tak hanya dimiliki oleh redaktur saja, tapi juga wajib dimiliki oleh wartawan sebagai ujung tombak dalam mencari berita, dan juga penulis pada umumnya. Bahasa Jurnalistik atau language of mass communication adalah bahasa yang digunakan wartawan untuk menulis naskah atau berita di media massa.

Bahasa Jurnalistik adalah bahasa komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan, tidak berbunga-bunga dan tanpa basa-basi (straight to the point). Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, sebuah gaya bahasa yang sederhana, kalimat-kalimatnya pendek dengan kata-kata yang jelas dan mudah dimengerti.

Pertimbangan atau landasan penggunaan gaya demikian (langsung ke pokok masalah) adalah demi kepentingan pembaca atau konsumen. Ingat, kita menulis untuk pembaca bukan untuk kita. Maka, harus menggunakan perspektif mereka. Raba kondisi pikiran dan psikologis mereka. Pembaca diasumsikan selalu dalam keadaan bergegas atau punya sedikit waktu untuk membaca.

"Orang sering membaca koran untuk bersantai," kata Editor Buku Handbook for Third Journalist dari Amerika, Albert Hester. "Mereka tidak ingin dipersulit untuk memikirkan apa yang dikatakan, sekalipun mereka sangat berpendidikan."

Dalam komunikasi, satu pihak menyampaikan pesan sementara pihak lain menerimanya. Komunikasi akan lancar ketika pesan yang disampaikan dapat dipahami penerima sesuai dengan niat pengirim pesan. Karena itu, khususnya dalam bahasa lisan, kaidah tak terlalu penting selama pesan sampai ke tujuan. Bahkan logika bahasa pun bisa dikesampingkan.

Artinya, ketika seseorang mengatakan, "Saya mau naik busway," maka lawan bicara kita akan paham bahwa dia hendak naik bus yang berjalan di jalur khusus. Padahal busway bukanlah bus karena tak ada misskomunikasi yang terjadi dari pembicaraan itu, "naik busway" jadi diterima sebagai bentuk yang lazim. Sebagai bahasa lisan, asalkan komunikasi lancar maka bentuk semacam itu tak terlampau menjadi persoalan. Namun saat muncul dalam bahasa tulis, barulah itu jadi masalah.

Lihat saja, saat ini banyak sekali orang mengeja merubah bukannya mengubah. Sudah jelas bahwa`merubah merupakan penyimpangan jika maksudnya "menjadikan lain dari yang semula", tapi kata bentukan itu masih saja muncul di media massa apalagi di media sosial. Hal ini hampir sama dengan usul agar agar kata "tau" diterima sebagai kata baru yang sama maknanya dengan kata "tahu" - karena kata itu kerap muncul dalam bahasa lisan. Tapi persoalannya, justru bahasa lisan tidak bisa seenaknya masuk ke bahasa tulis.

Ini artinya bahwa insan pers dituntut untuk menyajikan berita dengan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan berpatokan pada KBBI, selain penulisan tetap terjaga keakuratannya juga hal yang lain adalah tidak kacaunya semak belukar kata yang ingin disampaikan dalam suatu pemberitaan.

"Jika kurang dalam pemahaman maupun ejaan, wartawan dapat menggunakan KBBI sehingga mutu penulisan tetap terjaga," kata Kepala Balai Bahasa Indonesia Kantor Kemendikbud Provinsi Riau, Drs Songgo Siruah, dalam suatu seminar Bahasa di Kabupaten Pelalawan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ejaan bahasa Indonesia itu sudah baku dan harus dipahami juga dimengerti sehingga hasil tulisan itu dapat dimengerti oleh pembaca. Dengan penulisan sesuai bahasa yang baku tentu ini akan menjadi bukti kemampuan seorang wartawan dalam menyampaikan pesan kepada para pembacanya.

"Apalagi profesi wartawan merupakan ujung tombak dari media massa, karena itulah ia harus menyajikan berita dengan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kamus besar Bahasa Indonesia. Karena dalam menulis berita, Wartawan harus mampu menyusun kata-kata dengan baik dan benar dan mudah dimengerti oleh pembaca. Jangan sampai ejaan yang ditulis ke dalam berita salah dan tidak sesuai dengan kamus Bahasa Indonesia," jelasnya.

Bahasa jurnalistik pada hakikatnya adalah bahasa yang jujur dan tidak mengaburkan makna. Sementara media, sesuai dengan arti kata dan fungsinya, harus ekstra-hati-hati saat menyaring kata dan istilah yang dikutip dari sumber resmi ataupun tak resmi. Sedangkan tugas pers adalah menjernihkan bahasa yang kabur menjadi bahasa yang menerangkan fakta sesungguhnya untuk disampaikan ke publik. Ia ada untuk meluruskan sesuatu yang melenceng, menjernihkan kalimat yang keruh, dan mencegah aliran deras istilah yang keliru.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kini insan pers menjenguk kembali sejarah kelahiran Bahasa Indonesia di tahun 1928. Dengan menengok kembali kebesaran masa silam, diharapkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan yang masih perlu perbaikan di sana-sini dapat diperbaiki. Karena hanya lewat bahasa lah, pers akan mampu menjaga dan merawat Indonesia. Semoga!***



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau, Zulmansyah SekedangKetua PWI Riau Minta Polisi Usut Tuntas Pengancaman Wartawan di Pelalawan
Kapolda gelar pertemuan terbuka dengan mitra di ballroom Hotel Aryaduta Pekanbaru dengan tema Pererat Silaturrahim dengan Mitra, Kapolda Ingin Tingkatkan Kecepatan Perubahan di Riau
Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang Panitia HPN 2020 Terbitkan Buku, Wartawan PWI Riau Diharapkan Berpartisipasi
  Kadisbud Riau Yoserizal ZenDisbud Riau Akan Realisasikan Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik
Penyerahan bantuan kepada M Said, wartawan Pekanbaru MX  di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, yang mendapat musibah kebakaranPWI Riau Serahkan Dana Sumbangan ke Anggota PWI Pelalawan Korban Kebakaran
Foto bersama. PWI Riau Sambangi VJA, Silaturahmi dan Bertukar Informasi Terkait Perkembangan Media

 
Berita Lainnya :
  • Sharing Budget, KPU Rohul Dapat Anggaran Pilkada Serentak Tahap I Rp2,86 Miliar dari KPU RI
  • Merasa Bernostalgia, Pangdam I/BB yang Merupakan Putra Prajurit Brimob Berkunjung ke Polda Riau
  • Pekan Depan, Transportasi Selatpanjang - Pekanbaru Via Buton Sudah Normal
  • Ketua TP PKK Siak Minta Kader Berperan Aktif Tekan Dampak Wabah Corona
  • Hadapi Petahana, Kader PKB Rohul Siap Menangkan Hafit Syukri-Erizal di Pilkada Rohul
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Potret Lensa
    Serahkan Figura Gerakan 1.000 Kantong Darah Relawan Peduli Covid-19
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2020 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved