www.halloriau.com
BREAKING NEWS :
Ikuti Arahan Presiden, Pemkab Kampar Komit Permudah Perizinan Investasi
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
Viral, Perahunya Dihantam Gelombang, Guru di Meranti Nekat Terjun ke Laut
Rabu, 22/01/2020 - 10:12:22 WIB
Guru terjun ke laut agar perahu mereka tidak tenggelam dalam perjalanan menuju sekolah terisolir di SDN 10 Lukun, Dusun Keridi Desa Bathinsuir, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Meranti, Riau.
Guru terjun ke laut agar perahu mereka tidak tenggelam dalam perjalanan menuju sekolah terisolir di SDN 10 Lukun, Dusun Keridi Desa Bathinsuir, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Meranti, Riau.
TERKAIT:
SELATPANJANG - Baru-baru ini, kisah beberapa orang guru di Kepulauan Meranti, Provinsi Riau viral di media sosial. 

Para pahlawan tanpa tanda jasa itu diketahui mengajar disebuah sekolah yang berada di daerah terisolir, tepatnya di SDN 10 Lukun, Dusun Keridi Desa Bathinsuir, Kecamatan Tebingtinggi Timur.

Untuk mencapai lokasi tersebut, hanya ada satu jalur, yakni melalui Sungai Suir dengan menaiki perahu kecil yang disebut Pompong dengan lama perjalanan hampir satu jam.

Dalam video yang berdurasi selama 39 detik itu tampak perahu yang ditumpangi para guru ini dihantam gelombang besar pada Selasa (21/1/2020) siang, akibatnya kapal yang dikemudikan oleh kepala sekolah yang bernama Suardi ini terpaksa harus menepi ke tepian hutan bakau. 

Bahkan seorang guru berstatus PNS  nekat melompat ke laut. Guru yang diketahui bernama Syamsul Bahri itu berniat mengamankan perahu agar tidak oleng dan tenggelam. Sementara itu guru - guru perempuan terlihat berteriak histeris karena ketakutan.

Sampai saat ini video itu ditonton lebih dari 5.000 tayangan dan sebanyak 200 kali dibagikan.

Perahu kecil itu memang diketahui menjadi alat transportasi satu-satunya bagi para guru ini yang mengajar di daerah terisolir, karena jika harus melalui jalur darat, maka membutuhkan waktu hampir tiga jam lamanya karena harus memutar.

Perahu ini dibeli oleh kepala sekolah sendiri. Dia bersama 4 orang guru lainnya setiap hari berangkat dari pelabuhan Desa Banglas Barat Barat.

Perahu itu dibelinya dengan menggunakan uang pribadinya seharga Rp8 juta, selama mengabdi sudah lima perahu dia gunakan. Tak jarang mereka membuka perbekalan dan makan bersama, karena tidak ada kesempatan bagi mereka untuk sarapan di rumah.

Setiap hari mereka berangkat menggunakan perahu kecil ini, tak kira menentang badai, gelombang maupun kabut, hal itu mengingat puluhan murid sudah menunggu disana, kepala sekolah bersama empat guru lainnya terpaksa menyeberangi Sungai Suir walaupun harus ada resiko yang akan dihadapi.

Dikatakan Suardi, kapal Pompong miliknya itu merupakan satu-satunya moda transportasi menuju ke tempat mengajar.

"Kalau Pompong ini rusak, kami bersama para guru dipastikan tidak bisa pergi mengajar, karena ini merupakan satu satunya transportasi menuju kesana," kata Suardi.

Selama mengabdi sudah banyak suka duka pria yang menjadi guru sejak tahun 1988 ini, mulai dari perahunya tenggelam, mesin rusak di tengah perjalanan, sampai dengan kipas perahu tersangkut sampah yang berada di dasar sungai.

"Kalau kipas perahu tersangkut, terpaksa saya sendiri yang menyelam ke bawah dasar sungai," kata Suardi.

Hambatan perjalanan menuju sekolah tempat mendidik anak anak suku Akit tidak sampai disitu, setelah menyusuri sungai yang ditempuh selama 1 jam, perjalanan panjang sudah menanti dengan kondisi jalan berlumpur yang membenamkan hingga diatas mata kaki.

Agar bisa melewati jalan tersebut, mereka juga harus melepas sepatu dan menyisingkan celana mereka hingga ke lutut.

"Kalau sepatu tidak dilepas, tidak bisa jalan karena lengket oleh lumpur tanah liat. Tidak ada base ataupun semenisasi, hanya tanah liat yang berlumpur," ujarnya.

Tak jarang mereka saling bercanda untuk menghilangkan lelah, sesekali mereka berpegangan tangan satu sama lain agar tidak tergelincir akibat jalan licin dan tidak tercebur kedalam sungai ketika melalui jembatan yang rapuh dan berlobang.

"Di dalam perjalanan, kami bersama guru lainnya selalu bercanda, ini sengaja dilakukan untuk mengusir rasa penat kami," cerita Suwardi.

Perjuangan kepala sekolah yang sudah mengabdi sejak tahun 1996 ini tidak hanya saat menuju sekolah, lahan seluas 3240 m2 tempat sekolah ini berdiri pun dibelinya seharga Rp250 ribu pada tahun 2000 silam.

Suardi mengungkapkan, sebelum mengajar di SDN 10 Lukun, Desa Batinsuir, ia mengajar di sekolah SDN 6 Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur.

Namun, saat itu ia mendengar jika desa tetangga, Desa Batinsuir tidak memiliki guru dan sekolah untuk mengajar membaca, menulis dan menghitung bagi anak-anak suku Akit.

"Saat saya mengajar dulu, tanah ini sengaja saya beli untuk dibangun sekolah, agar anak-anak disini bisa bersekolah. Pembangunannya kami ajukan proposal pada zaman Bengkalis tahun 2002, kalau tidak ada kami disini siapa lagi, tidak ada yang sanggup bertahan mengajar di sini," ungkap Suardi. 

Penulis: Ali Imroen​
Editor: Yusni Fatimah



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Ikuti Arahan Presiden, Pemkab Kampar Komit Permudah Perizinan Investasi
  • Satu Orang Tewas Akibat Virus Corona di Korea Selatan
  • Agar Sesuai Standar, KLHK Awasi Pembangunan Terowongan Gajah di Proyek Tol Pekanbaru-Dumai
  • Di Bawah Ancaman Pisau, Empat Anak Ini Dipaksa Lakukan Oral Seks
  • Tiba di Riau, Ini Agenda Presiden Jokowi, Resmikan Pabrik hingga Tinjau Jalan Tol
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    Potret Lensa
    Gubri Dampingi Menaker Upacara K3
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved