PEKANBARU – Kekalahan PSPS Pekanbaru dari Sumsel United pada pekan ke-15 membuat persaingan di papan bawah Liga 2 Championship kian panas. Posisi Askar Bertuah belum sepenuhnya aman, masih harus berjuang keras untuk bertahan di kasta kedua sepak bola Indonesia.
PSPS Pekanbaru masih menyisakan tiga pertandingan 'hidup mati' untuk menentukan nasib mereka musim ini. Dua laga akan digelar di kandang sendiri, Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai, sementara satu pertandingan lainnya harus dijalani di kandang lawan.
Jadwal sisa PSPS Pekanbaru terbilang menentukan. Pada Jumat, 16 Januari 2026, PSPS akan menjamu Persekat, disusul laga kandang menghadapi Adhyaksa FC pada 23 Januari 2026. Laga terakhir akan menjadi ujian berat saat PSPS bertandang ke markas Persiraja Banda Aceh pada 31 Januari 2026.
Situasi klasemen membuat PSPS Pekanbaru tak boleh terpeleset. Poin Askar Bertuah saat ini sama dengan Persekat yang berada tepat di batas akhir zona degradasi ke Liga 3. Kondisi tersebut memaksa PSPS ekstra waspada dalam setiap laga yang tersisa.
Duel kontra Persekat menjadi pertandingan paling menentukan. Selain berpotensi menambah poin, kemenangan juga akan menjadi pukulan langsung bagi pesaing terdekat dalam perebutan tiket bertahan di Liga 2.
Keuntungan bagi PSPS, laga krusial ini akan dimainkan di hadapan pendukung sendiri. Atmosfer Stadion Kaharuddin Nasution dipastikan bergemuruh, dengan suporter siap memberikan dukungan penuh demi menjaga asa bertahan tetap menyala.
Kemenangan atas Persekat disebut sebagai harga mati bagi PSPS Pekanbaru. Jika gagal meraih poin penuh, langkah Askar Bertuah untuk mengamankan posisi akan semakin berat, terutama menghadapi dua laga berikutnya yang juga tak kalah menantang.
Dengan selisih poin yang sangat ketat, siapa pun yang mampu memaksimalkan laga hidup-mati ini akan memiliki jalan sedikit lebih lapang. Meski masih ada tiga pertandingan tersisa, hasil laga ini diyakini akan sangat menentukan arah perjuangan PSPS di akhir musim.
Target realistis PSPS Pekanbaru saat ini adalah bertahan di Liga 2. Peluang menembus empat besar dinilai sangat tipis, sehingga fokus penuh diarahkan untuk menghindari degradasi dengan semangat juang tanpa kompromi di sisa kompetisi.