Meranti
Pemkab Meranti | DPRD Meranti
 
+ INDEX BERITA

11:25 - Abrasi di Pulau Rangsang M...
22:18 - Sudah Ketok Palu, APBD Kep...
13:46 - Tidak Miliki IMB dan Langg...
21:00 - Jalan Pramuka Tergenang Ai...
17:44 - Diresmikan, Ekowisata Mang...
17:40 - Disdagprinkop-UKM Kepulaua...
16:23 - Kelabui Petugas, Wisma Kin...
19:41 - Kabar Gembira, Pemkab Mera...
18:21 - Ada Perbedaan IPK pada Tes...
15:20 - 44 Desa di Meranti Teranca...
18:01 - Batal Hari Ini, Pendaftara...
14:57 - Perda Tibum Disahkan, Satp...
12:52 - Sempena HUT XI Kepulauan M...
15:07 - OJK Riau Dorong Petani dan...
18:49 - Sagu akan Jadi Menu Altern...
09:01 - Tunggakan BPJS Kesehatan d...
15:16 - Warga Dusun Manggis Desa B...
21:23 - Naik 8,51 Persen, UMK Mera...
20:14 - Moratorium Gambut Dinilai ...
19:47 - Sempat Dirawat di RSUD, Bo...
21:01 - Pasangan Terindikasi Mesum...
16:18 - Satpol PP Meranti Amankan ...
19:04 - Sempat Kisruh, Zuriyadi Fa...
21:35 - Satpol PP Meranti Razia Pe...
18:38 - Dialog Mengenang Sejarah S...
19:53 - Daftar ke PPP, Pasangan Be...
06:25 - Sumpah Pemuda, Camat Tebin...
21:59 - Peringati HDKD, Kantor Imi...
15:40 - Seluruh Desa di Tebingting...
12:14 - Bawaslu Kepulauan Meranti ...
16:57 - Hingga 22 Oktober, 38 Anak...
21:04 - Ada yang Beda, Tradisi Man...
14:54 - Kuota CPNS 2019, Jatah Kep...
14:14 - Program School Improvement...
17:38 - Tiang Patah Akibat Keropos...
18:20 - Tradisi Mandi Safar Akan D...
12:05 - Disdikbud Meranti Akan Per...
18:48 - Gelar Coffe Morning, Kapol...
19:26 - Insan Media di Kepulauan M...
18:48 - Enam Kelompok Nelayan di M...
18:41 - Korban Tewas Tertimpa Poho...
18:19 - Suhu Politik Memanas, Sekd...
18:20 - Satpol PP Meranti Kesal, A...
21:20 - Bupati Ungkap Peredaran Na...
17:03 - Hampir Seminggu Pelayanan ...
12:51 - Jadi Irup, Kasat Pol PP Me...
19:44 - Ketagihan Suasana Desa Bok...
18:36 - Petugas Perikanan Meranti ...
15:08 - Heru Sandra dari Kepulauan...
18:11 - Listrik Kecamatan Tebing T...
 
Feature PLN Menembus Batas Riau Terang
Jumat, 20/09/2019 - 21:16:08 WIB
Petugas PLN sedang memasang instalasi dan Trafo di Pulau Padang
Petugas PLN sedang memasang instalasi dan Trafo di Pulau Padang
TERKAIT:

Tak Lagi Menunggu Purnama, Kini
Pulau Padang Terang Benderang

Masyarakat Pulau Padang sangat menantikan datangnya bulan purnama hanya sekadar untuk menikmati malam yang terang benderang. Tetapi itu dahulu. Saat ini, Pulau Padang berpendar-pendar sepanjang malam seiring listrik masuk desa

Pulau Padang merupakan bagian dari gugusan pulau di Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Pulau itu memiliki luas 931,40 kilometer persegi, terdiri dari dua kecamatan, yakni Merbau dan Tasik Putri Puyu dengan jumlah masyarakat pada 2018 lalu sekitar 30.690 jiwa yang tersebar di 19 desa dan satu kelurahan.

Ketika jarum jam merangkak tepat pukul 06:00 petang, matahari pun sudah duluan pulang ke peraduan. Kampung-kampung di Pulau Padang itu  sudah dalam keadaan gelap gulita sejak Kepulauan Meranti masih di bawah pemerintahan Kabupaten Bengkalis.

Kondisi itu bahkan masih dialami masyarakat hingga 2017 lalu atau sekitar sembilan tahun setelah Kepulauan Meranti menjadi kabupaten sendiri.

Seorang warga Desa Meranti Bunting, Kecamatan Merbau, Sri berbagi cerita. Ia mengisahkan, dahulu, jika malam hari tiba, suasana di luar rumah benar-benar senyap. 

Jarang sekali warga beraktivitas pada malam hari karena sangat minim penerangan. Kala itu, sebagian warga memanfaatkan mesin diesel untuk keperluan rumah tangga. 

Adapun sebagian rumah masyarakat telah tersambung listrik desa, namun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) khusus untuk malam hari itu sering rusak dan tidak beroperasi jika distribusi bahan bakar minyak putus. 

Alhasil, banyak yang memilih menggunakan lampu petromak saat malam hari.

"Jangankan untuk menghidupkan televisi dan kipas angin, untuk ngecas handphone pun kami selalu menunggu PLTD menyala pada malam hari. Tapi mesin sering rusak dan minyak sering putus, kami terpaksa numpang di rumah tetangga yang pakai mesin diesel pribadi, terkadang harus antre," ungkap Sri.

Sri juga menuturkan, aktivitas masyarakat pada malam hari baru meningkat ketika memasuki bulan purnama, yang di Pulau Padang lebih populer dengan sebutan 'Bulan Beso'. Anak-anak pun bisa berkumpul dan bermain di halaman rumah bermandikan cahaya purnama.

Begitu juga para orang tua. Dengan suguhan makanan ala kadarnya, mereka bisa bercengkerama dengan keluarga dan tetangga di teras rumah yang diterangi sang rembulan. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya, berduyun-duyun pergi menonton televisi ke rumah warga yang memiliki mesin diesel. Bagi yang mempunyai mesin diesel pun tidak bisa bebas sepanjang malam menikmati listrik. 

Mesin diesel hanya dihidupkan sekitar pukul 18.00 dan dimatikan pukul 22:00 WIB, ketika jam tidur tiba, maka desa akan kembali gelap gulita. Untuk rentang waktu tersebut mesin menghabiskan bahan bakar minyak solar sebanyak empat liter dengan harga solar per liternya mencapai Rp10.000.

"Menghidupkan mesin tidak bisa terlalu lama, karena harga minyak terlalu mahal," ungkap Sri.

Di balik cerita Sri itu, Pulau Padang ternyata banyak menyimpan kekayaan alam berupa minyak dan gas (Migas). Limpahan Migas di pulau bertekstur gambut itu kini menjadi anugerah yang membawa masyarakat ke arah kemakmuran. Puluhan tahun gelap gulita, masyarakat Pulau Padang akhirnya tersentuh listrik.

Pada awal 2017 lalu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) berkerja sama dengan PT Energi Mega Persada Mallacca Strait SA (EMP MSSA), salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah naungan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), yang mengelola Blok Selat Malaka di Pulau Padang.

Kerja sama itu pun tidak terlepas dari sentuhan tangan Dahlan Iskan yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PLN dan menyempatkan diri berkunjung ke Kepulauan Meranti.

"Saya merasa berdosa tidak memikirkan Kepulauan Meranti selama ini. Saya kira Kepulauan Meranti hanyalah sebuah kota kecil saja, tapi ternyata tidak. Daerah ini sangat luas dan harus ditopang dengan kelistrikan untuk mempercepat proses pembangunan," ucap Dahlan saat mengunjungi Kepulauan Meranti pada 2011 silam.

Dahlan lantas menjanjikan PLN akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Kepulauan Meranti karena kabupaten termuda di Riau tersebut memiliki sumber energi gas yang sangat besar. 

"Sumber energi gas yang kita punya harus dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Kita akan bicarakan lagi dengan bupati langkah konkrit untuk pengadaan listrik tersebut. Bagaimana pun caranya, Kepulauan Meranti harus mewujudkan penggunaan gas menjadi basis energi bagi seluruh masyarakat," kata  Dahlan ketika itu.

Berdasarkan data EMP, sepanjang Januari-September 2017, produksi minyak dari Blok Malacca Strait sebesar 1.132 barel per hari (bph). Sedangkan gas sebesar 1,8 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Selanjutnya pada 2018 produksi minyak sebanyak 3.500 bph dan produksi gas mencapai 5,5 mmscfd.

Gas yang melimpah pun kemudian dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik. Gas untuk kebutuhan energi Pulau Padang hanya berasal dari satu sumur dominan yang berasal dari area autiriti produksi Pedas, Desa Bagan Melibur.

Kerja sama kedua perusahan itu dalam bentuk penggunaan gas sebagai sumber energi listrik. Selain menerangi, juga menggunakan kearifan lokal sehingga tidak perlu menggunakan energi dari luar.

Untuk menerangi Pulau Padang, PLN membutuhkan sebanyak 340 mmscfd pasokan gas. Kebutuhan tersebut untuk menyalakan delapan dari 10 mesin yang ada saat ini.

PLN menilai banyak keuntungan dengan menggunakan gas sebagai sumber energi pembangkit listrik. Salah satunya, harga lebih murah daripada menggunakan diesel. 

Hal itu juga turut berimbas pada turunnya biaya produksi. Lalu, PLN menawarkan kepada masyarakat desa di Pulau Padang untuk memanfaatkan listrik dari energi baru terbarukan tersebut.

Masyarakat pun dengan antusias menyambut tawaran itu. Kemudian beramai-ramai mendaftarkan diri agar rumah mereka segera dialiri listrik. Tiang-tiang listrik pun berdiri tegak hingga ke sudut-sudut desa, kabel-kabel listrik mulai membentang dan bertebaran di setiap atap rumah.

Berdasarkan data PLN Rayon Selatpanjang, panjang kabel yang membentang tersebut terdiri dari panjang jaringan tegangan menengah 20 kilo volt 72.3 kilo meter sirkuit (KMS) dan panjang jaringan tegangan rendah 105.73 KMS dengan trafo berjumlah 30 unit. Sejak saat itu, 12 dari 19 desa dengan 5.053 pelanggan yang ada di Pulau Padang  sudah teraliri listrik. Sedangkan tujuh desa lainnya sedang dalam tahap penyambungan jaringan pada tahun 2019 ini.

Manager PLN Rayon Selatpanjang, Jannatul Firdaus mengatakan pihaknya berusaha menjangkau layanan kelistrikan hingga ke desa.

Dirinya memaparkan mengenai daya untuk kabupaten Kepulauan Meranti khususnya di Pulau Padang tidak ada masalah, posisinya saat ini PLN mengalami surplus daya.

Kendati demikian, dalam hal ini PLN berkomitmen memberikan pelayanan secara prima kepada masyarakat. Jannatul menjelaskan bahwa tidak ada persoalan dengan jumlah penduduk mengenai pemberian layanan kelistrikan.

“Tidak ada harus berapa jumlah KK yang harus dilayani untuk sambungan listrik. Kita akan coba terus memberikan layanan dan menjangkau setiap rumah di pelosok desa," ujar Jannatul.

Masuknya listrik ke rumah-rumah mulai mengubah wajah dan pola kehidupan masyarakat Pulau Padang. Malam hari menjadi terang benderang, sehingga tidak terasa lagi perbedaan suasana antara bulan sedang purnama dengan bulan yang sedang tidak menampakkan wujudnya. Pulau Padang menggeliat karena kegiatan ekonomi dan kegiatan lainnya sangat mungkin untuk dilakukan pada malam hari.

Seperti yang dirasakan keluarga Abdullah, warga Desa Mayang Sari, Kecamatan Merbau. Abdullah mengaku sangat senang, karena bisa menggunakan listrik kapan saja. Apalagi bagi mereka yang berprofesi nelayan.

Selama ini, upaya peningkatan taraf ekonomi masyarakat lewat perikanan kerap menghadapi kendala karena kurangnya suplai listrik. Kondisi tersebut membuat banyak nelayan kesulitan mengawetkan ikan-ikan hasil tangkapan.

"Terimakasih PLN. Sangat senang listrik sudah masuk, soalnya ini sudah kami mimpikan sejak lama.  Untung saja saya masih hidup dan bisa menikmatinya," ujar Abdullah.

Ia mengaku sebelumnya sangat kesusahan mendapatkan es untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan. Persoalan ini karena tidak memiliki listrik yang memadai sehingga tidak ada pabrik es di desanya. Ikan cepat membusuk dan memaksa nelayan harus menjual murah, bahkan membuang ikan yang telah diperoleh.

"Dengan adanya listrik, sekarang kami bisa beli kulkas untuk buat es batu. Tidak pusing lagi untuk mencari es batu yang akan dibawa untuk melaut dan mengawetkan ikan. Kalau dulu, untuk mendapatkan es batu saja harus pergi ke ibukota kecamatan di Teluk Belitung dan itu sangat jauh," kata Abdullah.

Saat ini, benda elektronik yang sangat beragam jenisnya juga sudah membanjiri setiap rumah warga, menggantikan alat rumah tangga konvensional yang biasa digunakan pada zaman pra-listrik. Televisi yang dulu masih dianggap langka, kini hampir di setiap rumah dapat ditemui dan mereka dapat menikmati aneka siaran selama 24 jam.

Kehadiran listrik di desa itu juga tidak hanya dipergunakan untuk kepentingan rumah tangga saja, tapi banyak yang memanfaatkannya untuk kepentingan usaha dan kegiatan kehidupan lainnya. Ada warga yang membuka usaha fotocopy, rental komputer dan internet, serta aneka usaha lainnya yang mengandalkan setrum. Seperti diungkapkan warga Desa Mekarsari, Suparto. Pria yang berprofesi sebagai tukang las itu mengaku sangat terbantu dengan kehadiran listrik.

"Sekarang sudah enak, kalau mau ngelas tinggal naikkan saklar dan biaya pun murah. Kalau dulu harus engkol mesin dulu, dan biaya untuk mesin serta minyak sangat mahal, 
tidak tertutup biaya," ungkapnya.

Apa yang dirasakan warga di Pulau Padang itu merupakan potret pelayanan listrik yang terus menjangkau pelosok. Pada tahun-tahun mendatang, ditargetkan semakin banyak daerah bisa menikmati listrik yang bersumber dari energi alam itu. Gemerlapnya prestasi elektrifikasi ini tidak terlepas dari kontrak kerjasama yang dijalani oleh kedua perusahaan besar tersebut.

Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir mengucapkan terima kasih kepada  PLN dan EMP yang membantu mengalirnya listrik di Pulau Padang selama 24 jam. Irwan  mengakui kehadiran listrik di Pulau Padang sangat membantu masyarakat. Irwan pun menyebut sebelum Kepulauan Meranti dimekarkan, di Pulau Padang untuk merasakan listrik saat malam hari saja sangat sulit. Apalagi sampai menikmatinya di pagi atau siang hari.

"Kehadiran PLTG memang menjadi asa besar bagi kita untuk dapat berbuat lebih banyak dan terus berbuat bagi daerah ini terutama bagi masyarakat. Sehingga membantu pemerintah dalam memakmurkan masyarakat," tutur Irwan.

Makanya rasa syukur tak terhingga patut diutarakan dengan telah beroperasinya PLTG lebih kurang dua tahun belakangan. Bupati mengharapkan PLN dengan tenaga gas itu dapat terus meningkatkan kapasitasnya. Sehingga bukan hanya di Pulau Padang saja nantinya, tapi listrik bertenaga gas itu juga bisa dirasakan di pulau lainnya di kabupaten berpulau tersebut.

Penulis : Ali Imron


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Cara Mengatasi dan Merawat Kulit Wajah Kering
  • GAPKI Riau Pendukung Utama LKTW Raja Ali Kelana
  • Riau Baru Kumpulkan 3 Perak dan 3 Perunggu di Ajang Popnas 2019
  • 8 Tips Bagi Pemilik Mobil Hadapi Musim Hujan
  • Korban DBD Makin Banyak, Dewan Nilai Diskes Kuansing Lamban
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved