www.halloriau.com
HalloSawit
BREAKING NEWS :
Bupati Suyatno Resmikan Jembatan Kasang Bangsawan Baru
 
Pemerkosaan Makin Mengerikan di India, Warganya Malu dengan Negara Sendiri
Selasa, 10/12/2019 - 10:39:36 WIB

INDIA - "Hentikan pemerkosaan. Hentikan pemerkosaan." Seruan itu bergema di sekitar monumen Samta Sthal ketika ratusan perempuan dari Delhi dan sekitarnya mengepalkan tangan dalam sebuah aksi.

Di tengah mereka duduk Leena (35).

"Saya saat itu berusia enam tahun ketika saya diperkosa dan saya tidak pernah bisa bersuara," ujarnya.

"Ini adalah penyakit terburuk India dan kita harus mengatasinya sebelum lebih jauh melukai perempuan," lanjutnya, sebagaimana dilansir dari The Guardian, diberitakan merdeka, Senin (9/12/2019).

Kemarahan yang melanda India pekan lalu berawal dari kasus pemerkosaan keji di Hyderabad, dimana dokter hewan 27 tahun diperkosa massal oleh empat pria saat pulang kerja dan dibunuh, jasadnya dibakar di bawah sebuah jembatan.

Dalam beberapa hari kemudian, kasus mengerikan serupa terus terjadi. Seorang remaja di Bihar diperkosa massal, dibunuh dan dibakar. Bocah enam tahun di Rajashtan diperkosa dan dibunuh tetangganya, dan seorang korban pemerkosaan di Uttar Pradesh dibakar hidup-hidup oleh pemerkosanya, yang penahanannya ditangguhkan, saat tengah berada di jalan menuju pengadilan. Dokter mengatakan pada Sabtu perempuan tersebut akhirnya meninggal karena luka bakar.

Di seluruh negeri, perempuan berbagai usai turun ke jalan menuntut keadilan untuk korban pemerkosaan Hyderabad dan meminta pemerintah mengambil tindakan tegas menghentikan kekejaman yang dialami perempuan India setiap hari. Tapi bagi Swati Maliwal, Ketua Komisi Perempuan Delhi dan salah satu aktivis vokal di India, takut tuntutan mereka akan diabaikan lagi sehingga membuatnya mengambil langkah-langkah yang lebih ekstrem.

Mogok Makan

Sejak Minggu lalu, Maliwal melakukan aksi mogok makan, berdiam permanen di monumen Samta Sthal, menuntut pemerintah mengubah sistem peradilan dan memprotes negara yang gagal menghentikan kejahatan seksual dan memberikan keadilan bagi perempuan.

"Lebih dari tiga tahun terakhir, saya telah menangani 55.000 kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual tapi ketika saya mendengar pemerkosaan Hyderabad, dan kemudian anak enam tahun, saya tidak bisa lagi menerimanya," kata Maliwal, terbungkus selimut, suaranya lirih.

"Sistem ini, dari polisi sampai pengadilan, gagal. Tuntutan saya adalah sumber daya polisi yang lebih besar, akuntabilitas polisi yang lebih besar, jalur pengadilan yang lebih cepat, sistem yang kuat yang memberikan hukuman bagi pemerkosa dan pesan untuk pemerintah bahwa tidak ada lagi pemerkosaan yang akan ditoleransi. Dan jika saya harus mati untuk melihat itu terjadi, biarlah," tegasnya.

Terlepas dari sejumlah kekejaman terhadap perempuan yang muncul pekan lalu, ia menunjuk pada bungkamnya Perdana Menteri Narendra Modi sebagai bukti kurangnya perhatian dari pemerintah dalam menangani masalah tersebut. Pada tahun 2016, India mendata 106 kasus pemerkosaan setiap hari, dan kasus tersebut meningkat setiap tahun tetapi sumber daya yang dialokasikan negara minim dan sistem peradilan tidak efektif dan kelebihan beban. Beberapa petugas masing-masing menangani lebih dari 600 kasus perkosaan, dan ada 133.000 kasus perkosaan yang tertunda di pengadilan.

"Apa masalahnya bagi Perdana Menteri Modi bahwa semua perempuan menderita di seluruh negeri setiap hari? Jika saya mati besok saat puasa, saya tidak berpikir itu akan mengganggu pemerintah pusat sama sekali," kata dia.

"Ketakutan akan pemerkosaan adalah pikiran permanen perempuan di negara ini; itu dikondisikan ke dalam diri kita sejak kita dilahirkan dan tidak mungkin untuk melarikan diri. Saya terus-menerus memikirkan keselamatan saya, dan bisa dikatakan bagi hampir setiap perempuan di India. Bayangkan India akan berada di mana jika waktu dapat digunakan untuk kemajuan negara kita," imbuhnya.

Ini bukan pertama kali Maliwal melakukan aksi mogok makan atas apa yang disebutnya India darurat kasus pemerkosaan. Dia mogok makan setelah dipukuli oleh polisi pada 2012 ketika memprotes perkosaan massal seorang mahasiswa dalam sebuah bus di Delhi, dan kemudian tahun lalu demi menuntut hukuman berat dalam waktu enam bulan bagi pemerkosa anak. Kendati undang-undang baru disahkan untuk kedua kali, pada dasarnya, kata para aktivis, UU itu hanya macan kertas.

"Sejak 2012, iya, hukum baru telah diperkenalkan, tapi semua gagal dan tak ada yang diterapkan," ujarnya.

"Setiap kali pemerkosaan yang ganas terjadi, orang-orang berteriak dan unjuk rasa di jalanan, mereka kemudian memperkenalkan beberapa formalitas dan kemudian melupakannya. Tapi tidak kali ini," tegasnya.

'Malu dengan Negara Sendiri'

Pada Jumat pagi, empat pelaku pemerkosaan dokter hewan Hyderabad ditembak polisi, diduga mereka berusaha melarikan diri selama olah TKP, meskipun banyak yang percaya itu adalah pembunuhan di luar proses hukum. Pendapat warga India terbelah atas penembakan ini, banyak yang merayakan tindakan polisi sebagai "keadilan cepat", sementara yang lain mengecam petugas karena bertindak sendiri.

Bagi Maliwal, itu adalah contoh lain dari kegagalan sistemik dalam proses kepolisian dan peradilan ketika menyangkut kasus perkosaan.

"Saya pikir kemungkinannya adalah bahwa polisi juga kehilangan kepercayaan terhadap sistem, mereka juga merasa marah dan tahu jika mereka membiarkan orang-orang ini melalui sistem peradilan, mereka tidak akan dihukum sebagaimana mestinya. Jika pemerintah tidak bertindak, ini hanya akan terus terjadi."

Sementara kekuatan dan energinya semakin memudar setiap hari, Maliwal bertekad untuk terus melakukan mogok makan, dia didukung ratusan orang yang datang ke Samta Sthal setiap hari. Mereka berbondong-bondong mendatanginya memberikan dukungan dan meneriakkan yel-yel Swati terus berjuang, kami bersamamu yang menggema di udara.

Ram Yadav, 43, seorang agen asuransi jiwa, berdiri di antara kerumunan. "Saya di sini karena pria harus berbicara menentang budaya pemerkosaan ini sebagaimana perempuan," katanya.

"Berbagai serangan yang terjadi ini membuat saya malu dengan negara sendiri," pungkasnya. (*)




Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Bupati Suyatno Resmikan Jembatan Kasang Bangsawan Baru
  • Pimpin Upacara HKN 2020, Asisten I: ASN Harus Netral, Jangan Memihak di Pilkada
  • Polres Rohul Gunakan Aplikasi Lancang Kuning‎ dan Drone untuk Antisipasi Karhutla
  • Peraih Perak Porwanas Juara Kejurda Biliar Wartawan
  • Sempat Kisruh, Fajrul Akhirnya Terpilih Sebagai Ketua Ipmarohu Sumut 2020-2021
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Potret Lensa
    PWI Riau Kunjungi Chenzhen Daily Newspaper di Cina
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved