www.halloriau.com
Hukrim
BREAKING NEWS :
Bak Film Laskar Pelangi, Tenaga Pengajar di Desa Terpencil Inhil Sabar Ajari Murid di Sebuah Gubuk
 
Lolos dari Tuntutan Rp1 Triliun, Ini Bukti PT NSP Bakar Hutan 3 Ribu Ha
Senin, 07/09/2015 - 18:02:40 WIB
Presiden Jokowi meninjau lokasi kebakaran lahan dan hutan
Presiden Jokowi meninjau lokasi kebakaran lahan dan hutan

PEKANBARU - PT NSP lolos dari tuntutan Rp1 triliun untuk memulihkan hutan 3 ribu hektare yang dibakarnya di Riau. Padahal, PT NSP jelas-jelas membakar hutan di Riau tersebut.

Untuk membuktikan kelalaian PT NSP, Polda Riau menghadirkan saksi ahli Prof DR Ir Bambang Hero Saharjo, M Agr.

"Fakta-fakta yang dikumpulkan di lapangan dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pembakaran dengan sengaja dan sistimatis di konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu PT NSP," kata Bambang sebagaimana tertuang dalam putusan Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru yang dikutip dari
website Mahkamah Agung (MA) oleh detik.com, Senin (7/9/2015).

Hal itu berdasarkan pengamatan lapangan khususnya pada areal yang disampling ditemukan areal yang telah terbakar nyaris sempurna karena seluruh areal terbakar dan menghitam akibat permukaannya ditutupi oleh arang bekas kebakaran, pada areal bekas terbakar tersebut ditemukan pula telah ditanam sagu khususnya pada lokasi tanaman sagu belum produktif. Kebakaran yang terjadi dapat dinyatakan nyaris sempurna karena tampak tidak ada upaya untuk menahan laju api yaitu melalui tindakan pemadaman bahkan tampak dibiarkan.

"Berdasarkan data hotspot (titik panas) yang berhasil terdeteksi khususnya pada priode waktu 31 Januari 2014 hingga 10 Maret 2014 pada petak-petak bekas terbakar tersebut tampak berkelompok dan terjadi pada priode dan blok-blok tertentu saja. Hasil analisa data hotspot modis (Terra Aqua) memastikan bahwa titik hotspot yang terdeteksi tersebut benar titik api artinya memang benar telah
terjadi kebakaran. Hal tersebut menegaskan kembali bahwa seluruh titik api yang terdeteksi di PT NSP berasal dari dalam kawasan yaitu terdapat di dalam IUPHHBK-HTI Tanaman Sagu PT NSP," ujar Bambang.

PT NSP membuka hutan tersebut dengan alat berat yaitu eksavator, mesin potong ataupun parang.

Alat berat itu digunakan memotong pohon dan membuka rerimbunan dan ditumpuk begitu saja dan kemudian dibakar. Kebakaran ini berlangsung sekitar 3 bulan lamanya, dari januari hingga Maret 2014 lalu.

"Pergerakan hotspot yang terus bergerak dari hari ke hari baik yang melanjutkan hotspot hari sebelumnya maupun timbulnya hotspot baru dilain petak memastikan bahwa upaya pengendalian kebakaran yang dilakukan oleh PT NSP nyaris hampir tidak dilakukan, kalaupun dilakukan itu diduga dilakukan ketika api akan menuntaskan tugasnya menghanguskan isi petak tersebut," papar guru besar IPB Bogor itu.

Menurut penelitian Bambang, di areal bekas terbakar tersebut tidak ditemukan adanya tower pemantau api sebagai sarana dan prasarana deteksi dini pengendalian kebakaran. Akibat dari tidak bekerjanya early warning system dan early detection system membuat upaya pengendalian kebakaran di PT NSP
menjadi tumpul atau dapat dikatakan nyaris tidak dilakukan bahkan dibiarkan.

"Hal ini terbukti ketika verifikasi lapangan dilakukan dan diketahui terdapat kebakaran pada berbagai lokasi, namun upaya pengendalian khususnya pemadaman tidak dilakukan, meskipun air tersedia cukup banyak di dalam kanal yang bersebelahan dengan petak yang sedang terbakar," beber Bambang seperti dilansir detik.com.

Menurut perhitungan Bambang, dalam rangka pemulihan lahan gambut yang rusak akibat kebakaran lahan di areal IUPHHBK-HTI Tanaman Sagu PT NSP seluas 3 ribu hektare melalui pemberian kompos, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk memfungsikan faktor ekologis yang hilang maka dibutuhkan
biaya sebesar Rp 1.046.018.923.000.

Atas kelalaian PT NSP, jaksa menuntut PT NSP dihukum denda Rp 5 miliar dan biaya pemuliaan lahan Rp 1 triliun. Apa daya, baik Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis dan Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru hanya menghukum PT NSP dengan denda Rp 2 miliar.(*)

Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
Kebakaran lahan di RupatKLHK Panggil 6 Perusahaan Penyebab Titik Api di Riau
Ilustrasi kebakaran hutan di RiauSidang Gugatan Kebakaran Hutan Rp1 Triliun PT NSP Ditunda
Ilustrasi 35 Berkas Tersangka Pembakar Lahan di Riau Dinyatakan Lengkap
  Ratusan Hektar Lahan Terbakar di Rohul, Polda Selidiki Dua Perusahaan
 Manager PT LIH jadi Tahanan Kota
IlustrasiPT Palm Lestari Makmur Tersangka Karhutla

 
Berita Lainnya :
  • Bak Film Laskar Pelangi, Tenaga Pengajar di Desa Terpencil Inhil Sabar Ajari Murid di Sebuah Gubuk
  • Event Lovely Yamaha Lexi, Masyarakat Tumpah Ruah Saksikan Kemeriahan Acara
  • Kapal Karam Hanya Mengangkut 18 Orang, 14 Dipastikan Selamat, 3 dalam Pencarian
  • BKPP Rohul Simulasi CAT SKD CPNS, Ruangan di Convention Hall Islamic Disterilkan
  • Pengurus DPD LAN Riau Dilantik, Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah Perangi Narkoba
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
    Potret Lensa
    Beli Rumah untuk Curi Minyak
     
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved