BAGANSIAPIAPI - Penjara kini tak lagi sekadar tempat untuk menjalani masa hukuman, melainkan ruang transformasi dan kemandirian.
Hal ini dibuktikan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi yang sukses menyulap area lapas menjadi lahan pertanian produktif beromzet lokal.
Keberhasilan program kemandirian ini memantik perhatian jajaran TNI Kodim 0321/Rohil yang turun langsung ke lokasi untuk meninjau sekaligus memperkuat sinergi pengamanan dan pemberdayaan wilayah.
Kunjungan aparat TNI tersebut bertepatan dengan momentum panen raya sawi hijau dan peninjauan kebun melon yang tumbuh subur di area perkebunan Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Bagansiapiapi.
Menariknya, aparat TNI tak sekadar memantau. Usai panen, mereka berbaur bersama Kepala Lapas (Kalapas) dan para narapidana turun ke tanah berlumpur untuk menanam kembali benih-benih sawi yang baru.
Kalapas Bagansiapiapi, Agus Imam Taufik menegaskan, kebun di balik jeruji besi ini adalah langkah konkret instansinya dalam menjawab tantangan nasional.
"Kegiatan pertanian ini merupakan bentuk pembinaan kemandirian yang nyata bagi para WBP agar mereka memiliki bekal keterampilan yang bermanfaat setelah bebas kelak," ungkap Agus Imam Taufik, Kamis (27/8/2026).
"Langkah ini juga menjadi wujud dukungan aktif Lapas Bagansiapiapi terhadap program ketahanan pangan nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden," sambungnya.
Lebih lanjut, inisiatif yang dipimpin oleh Kasi Giatja Mismin Handoko dan jajarannya ini selaras dengan instruksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Tujuannya jelas: menggeser paradigma penjara menjadi tempat pembinaan yang menghasilkan output ekonomi bagi narapidana itu sendiri.
Dampak dari program ini sangat dirasakan oleh para narapidana. Lahan garapan tersebut tidak hanya mengisi waktu luang, tetapi memberikan harapan hidup baru bagi mereka.
"Kami sangat bersyukur dan senang bisa diberikan wadah serta ilmu bercocok tanam selama di dalam Lapas. Mulai dari mengolah tanah, merawat tanaman seperti sawi dan melon, sampai bisa panen dan dijual," tutur seorang warga binaan dengan antusias.
"Kegiatan ini membuat hari-hari kami lebih produktif dan menjadi bekal keterampilan yang sangat berharga untuk kami gunakan saat bebas nanti," tambahnya.
Kualitas hasil bumi dari tangan para tahanan ini nyatanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain sawi dan melon, komoditas lain seperti kacang panjang dan kangkung tumbuh dengan kualitas premium.
Hasil panen tersebut tidak hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan internal lapas, tetapi juga terbukti laris manis diburu pembeli saat dilempar ke pasar lokal Bagansiapiapi.
Kolaborasi penanaman benih bersama TNI ini menjadi simbol kuat bahwa reintegrasi sosial dan ketahanan pangan bisa dimulai dari mana saja—termasuk dari balik tembok penjara.