www.halloriau.com
Hukrim
BREAKING NEWS :
Tolak Kedatangan TKA China, Massa Ancam Blokade Bandara Haluoleo Kendari
 
Penipuan Pembelian Tanah, Hakim Tolak Eksepsi Ketua SP3S Pekanbaru
Jumat, 14 Februari 2020 - 15:29:42 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PEKANBARU - Ketua Serikat Pedagang Pasar Plaza Sukaramai (SP3S) Pekanbaru, Al Asri, hanya tertunduk ketika majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru menolak eksepsi atau keberatannya atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU)  dalam perkara dugaan penipuan jual beli tanah. Hakim memerintahkan, perkara dilanjutkan.

Majelis hakim yang diketuai Mahyudin, menyebutkan, terdakwa menyatakan perkara yang melilitnya adalah perdata bukan pidana. Hal itu langsung ditolak.

"Menyatakan, keberatan terdakwa atau penasehat hukum tidak diterima dan perkara harus dilanjutkan," ujar ketua hakim Mahyudin, didampingi hakim anggota Dahlia Panjaitan, dan Sarudi dalam  putusan sela di PN Pekanbaru, Kamis (13/2/2020).

Al Asri didakwa melakukan penipuan jual beli tanah seluas 1,5 hektare  di Jalan Suka Makmur, Desa Tarai Bangun RT 02, Kabupaten Kampar. Setelah korban Muhammad Imran membayar uang muka  Rp200 juta, ternyata terdakwa menjual lagi tanah itu kepada orang lain.

Majelis hakim menyebutkan, perbuatan terdakwa harus dibuktikan di persidangan. JPU juga diperintahkan untuk menghadirkan saksi-saksi pada Kamis (20/2/2020). "Perkara dilanjutkan dengan pembuktian," kata Mahyudin.

Dalam perkara ini, terdakwa Al Asri tidak dilakukan penahanan badan. Majelis hakim memintanya untuk kooperatif menghadiri  persidangan. "Kalau tidak kooperatif akan dialihkan (ditahan) karena akan mempersulit persidangan," tegas Mahyudin.

JPU Hasnah dalam dakwaannya menyebutkan, perbuatan terdakwa Al Asri terjadi medio Agustus 2018 silam.  Berawal ketika Muhammad Imran dihubungi oleh Hanafi  melalui handphone dan menawarkan tanah milik terdakwa Al Asri seluas 1,5 hektare. Tanah di Jalan Suka Karya itu dijual seharga Rp100 ribu per meter  persegi.

Pada  28 Agustus 2018, Muhammad Imran bertemu dengan terdakwa Al Asri di Rumah Makan Bare Solok. Hadir di pertemuan itu  saksi Kasmi, dan Kepala Desa Tarau Bangun Andra Maistar.

Saat pertemuan itu dibicarakan kesepakatan harga tanah, status tanah  serta kesediaan terdakwa menghadirkan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN). Menurut terdakwa tanah miliknya seluas 1,5 haktare dijual Rp1,5 miliar.

"Terdakwa menyebutkan tanah itu aman dan tidak ada permasalahan. Kalau saksi Muhammad Imran serius, diminta sebagai tanda uang jadi sebesar Rp50 juta," kata JPU.
 
Permintaan itu disetujui Muhammad Imran. Dia mentranfer uang Rp 50 juta ke rekening Bank BNI dan Bank Mandiri milik terdakwa, masing-masing sebesar Rp25 juta.

Tiga hari setelah itu, Muhammad Imran bersama Marsum berangkat ke Desa Tarai Bangun untuk melihat lokasi tanah yang akan dibeli. Setelah dilakukan pengecekan, beberapa hari kemudian lahan dibersihkan untuk selanjutnya diukur bersama pihak BPN.

Namun setelah dua minggu, pihak dari BPN belum datang. Malah terdakwa Al Asri mengajak saksi untuk bertemu di Cafe Komplek Giant dan meminta uang Rp 100 juta agar bisa mendatangkan pihak BPN.

Percaya, Muhammad Imran kembali mentransfer uang Rp 100 juta  ke rekening Bank Mandiri milik terdakwa. Satu hari kemudian, pada 19 September 2018,  terdakwa kembali meminta uang Rp 50 juta dengan kesepakatan mendatangkan BPN untuk pengukuran tanah. Setelah itu baru dilakukan pelunasan pembayaran tanah.

Ditunggu, ternyata pihak BPN tak kunjung datang. Masalah justru muncul ketika Muhammad Imran ditelpon oleh saksi Alfian Bachtiar yang mengatakan kalau dirinya akan membeli tanah milik terdakwa, jika Muhammad Imran tidak jadi membelinya.

Muhammad Imran mempersilahkan saksi Alfian membeli tanah itu, asalkan uang yang sudah diserahkan kepada terdakwa Al Asri dikembalikan. Tanpa sepengetahuan korban, ternyata terdakwa telah menjual tanah miliknya kepada Alfian pada 30 November  2018.

Tidak terima, Muhammad Imran mendatangi terdakwa Al Asri di toko tekstil miliknya di Jalan HOS Cokro Aminoto  dan meminta uangRp 200 juta dikembalikan. Terdakwa tidak mau mengembalikan uang tersebut dengan alasan korban tidak menepati janji pelunasan.

Terdakwa juga mengaku, dirinya mengalami kerugian karena telah membayar uang muka (DP) pembelian tekstil di Jakarta.  Dia menyalahkan korban karena tidak melunasi pembayaran pembelian tanah hingga uang DP-nya hangus.

Tidak terima, korban melapor ke polisi. Terdakwa dijerat dengan Pasal 378 KUHPidana atau Pasal 372 KUHPidana.

Penulis : Linda Novia
Editor : Yusni Fatimah


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
Ilustrasi.Pria Ini Ditipu Rp488 Juta oleh Calon Istri Sendiri, Bikin Geram saat Tahu Dihabiskan untuk Apa
IlustrasiPenipuan Pembelian Tanah, Hakim Tolak Eksepsi Ketua SP3S Pekanbaru
Pelaku saat diamankan dan diinterogasi.Spesialis Tipu Proyek Masjid, Satpol PP Gadungan Dijebak Warga di Hotel
  IlustrasiPonakan di Pekanbaru Tilap Uang Perusahaan Pamannya Rp373 Juta
Anggota TNI gadungan di Bantul tipu daya para janda.TNI Gadungan Tipu Para Janda dengan Modus Ini
Tersangka dan uang palsu yang dibeli dari E.Pria Ini Beli Uang Palsu Rp21 Juta Seharga Rp 5 Juta

 
Berita Lainnya :
  • Tolak Kedatangan TKA China, Massa Ancam Blokade Bandara Haluoleo Kendari
  • Amankan 5 Kg Sabu dan 8 Ribu Ekstasi, Polresta Pekanbaru Bekuk Pengedar Narkoba Bersenjata Api
  • Serahkan Piagam, Masyarakat Apresiasi Pejuang Pemadam Karhutla Riau
  • Triwulan Pertama 2020, PMA Riau Capai Rp5 Triliun, Naik Dibanding Tahun Lalu
  • Golkar Akan Serahkan SK untuk 4 Pasangan di Pilkada Riau Besok
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
    Potret Lensa
    Beli Rumah untuk Curi Minyak
     
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2020 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved