www.halloriau.com  
BREAKING NEWS :
Manajemen PTPN V Dilaporkan ke Menteri Erick Thohir
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 
Kereta Api dan Nasionalisme di Tengah Badai Covid-19
Senin, 06 September 2021 - 14:25:17 WIB
Suasana kereta api di tengah pandemi Covid-19. (net)
Suasana kereta api di tengah pandemi Covid-19. (net)

Oleh: Andy Indrayanto

Naik kereta api, tut, tut, tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

LAGU kanak-kanak era 70-an itu spontan saja keluar dari mulut gadis kecil yang baru masuk ke Stasiun Kereta Api Bandung, siang di pertengahan tahun 2016. Binar matanya terlihat girang, menatap rangkaian gerbong panjang, yang membujur kaku di Jalur 1 Stasiun Kereta Api Bandung. Keriuhan lalu lalang orang di Stasiun Kereta Api Bandung yang berusia lebih dari satu abad itu, tak diindahkannya. Begitu juga dengan toko jajanan yang menawarkan berbagai jajanan kanak-kanak, tak juga menggodanya.

Di belakang, kedua orangtua gadis itu terus memperhatikannya. Sampai akhirnya kemudian, suara mendayu dari pengeras suara mengingatkan para penumpang jurusan Jakarta untuk segera menaiki kereta Argo Gede. Kesibukan di Stasiun Kereta Api berangsur-angsur surut, seiring keberangkatan kereta api dari Bandung, yang berlarian ke segala jurusan.

Cepat keretaku jalan, tut, tut, tut
Banyak penumpang turut
Keretaku sudah penat
Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun
Penumpang semua turun

Lagu ciptaan Saridjah Niung atau yang populer dipanggil Ibu Soed itu, masih terdengar dari mulut gadis kecil bernama Aqila. Matanya kini tak lepas memandang pepohonan yang seolah berlarian di depan matanya. Gerbong yang dinaiki Aqila dan kedua orangtuanya, nyaris terisi penuh.

Gadis kecil yang baru duduk dibangku TK itu tanpa sungkan berlarian di sepanjang koridor gerbong. Terkadang ada satu dua penumpang yang tersenyum melihat tingkahnya dan menjawil pipinya yang tembem. Dibalas Aqila dengan senyuman bingung, lantas dia berlari lagi kemana dia mau.

Ingatan sekilas itulah yang terbayang dibenak Aqila yang kini telah duduk di bangku SD kelas 3, di sebuah sekolah negeri di Kota Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Sepotong ingatanya saat naik kereta api pertama kali kala berlebaran di rumah kakek dari pihak ayahnya di Bandung beberapa tahun lalu itu, masih membekas di sudut-sudut alam bawah sadarnya.

"Kapan kita naik kereta api lagi, Yah," tanyanya pada penulis.

Aku hanya terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena memang tak memiliki jawaban untuk pertanyaan tersebut. Badai Corona yang masuk ke Indonesia awal Maret 2020, meluluhlantakan semua tatanan yang telah berjalan normal. Virus yang konon berasal dari China itu tak hanya merubah perilaku manusia tapi juga merubah sistim yang sudah berjalan, termasuk juga transportasi kereta api.

Perubahan semua sistim akibat Covid-19, sedikit banyak telah melumpuhkan hampir semua transportasi baik darat, laut dan udara, tak terkecuali kereta api sendiri. Di awal pandemi saja, pada akhir Maret 2020, jumlah penumpang kereta api turun drastis sampai 40% hingga 50%.

"Penurunan okupansi terjadi hampir di semua KA, tapi yang terbesar pada KA Ciremai jurusan Semarang-Bandung dengan angka mencapai 37% dan 48%. Kemudian, KA Ambarawa dengan penurunan 33%. Disusul KA jurusan Semarang-Pasar Senen KA Tawang Jaya 23% dan KA Argo Muria turun 18%," kata VP Public Relations KAI Yuskal Setiawan, seperti dikutip kontan.co.id, Rabu (25/3/2020).

Menurutnya, anjloknya okupansi penumpang KAI ini disebabkan karena kebijakan pemerintah yang menghimbau kerja dari rumah atau Work From Home (WFH).

"Banyak yang melakukan pembatalan. Jika dipersentase maka kenaikan angka pembatalan tiket KA saat pandemi corona melonjak," ujarnya. 

Begitulah, tak hanya perilaku manusia yang berubah atau harus (dipaksa!) untuk berubah seperti kini harus menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan, bidang transportasi pun harus mau berubah agar bisa survive di tengah kondisi pandemi, yang entah kapan akan berakhir ini.

Di awal-awal pandemi, penyebaran dan peningkatan Covid-19 yang begitu massif di tanah air, membuat pemerintah lintang pukang mengantisipasnya agar grafiknya tidak menaik. Di sinilah diperlukan upaya bersama agar kondisi dan situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, tak menghalangi mobilitas masyarakat hingga produktivitas masyarakat dan kondisi perekonomian tidak lumpuh. Apalagi sektor transportasi jenis apapun, diakui atau tidak, turut berperan dalam penyebaran Covid-19.

Show must be go on! Karena hidup harus terus berjalan di tengah ketidakpastian ekonomi yang limbung akibat terhantam badai Covid-19, begitu juga dengan transportasi kereta api. Adanya badai Covid-19 yang kini telah "paten" menjadi pandemi membuat moda transportasi kereta api pun mau tak mau harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Dirilis dari balitbanghub.dephub.go.id, terjadi peralihan penggunaan moda dari angkutan umum ke mobil pribadi (64.8%), berjalan (42.3%), sepeda (35.6%), dan sepeda motor (19.7%). Perubahan pola pergerakan tersebut disebabkan oleh perubahan pola hidup di masa pandemi (online working, ketergantungan mobil pribadi, online shopping).

Tren volume penumpang kereta api baik KRL maupun non KRL mulai mengalami penurunan sejak awal pandemi mulai meningkat di Indonesia, yaitu fase work from home (WFH) dan school from home (SFH) pada awal Maret 2020, serta mengalami stagnasi pada fase PSBB, saat pembatasan kapasitas penumpang dan social distancing mulai diterapkan pada bulan April-Mei 2020.

Hasil penelitian di atas menunjukan bahwa pandemi COVID-19 berdampak cukup besar terhadap sektor transportasi. Selain karena ketidakpercayaan masyarakat akan keamanan dari sisi penularan virus, sehingga berdampak pada masyarakat untuk merubah kebiasaan termasuk berpindah menggunakan kendaraan pribadi. Kondisi ini terjadi di semua moda transportasi publik baik itu darat, kereta api, laut, dan juga udara.

Namun dalam masa adaptasi kebiasaan baru yang digaungkan Presiden Jokowi di pertengahan tahun 2020, geliat transportasi perlahan-lahan mulai mengalami peningkatan kembali. Meski tak signifikan namun volume kenaikan para penumpang yang menggunakan transportasi ini patut disyukuri. Berdasarkan hasil survei Balitbang tahun 2020 terjadi shifting penggunaan transportasi yang digunakan oleh penumpang. Dari hasil survei tersebut didapatkan bahwa sekitar 6,41% pengguna moda non kereta api mau beralih menggunakan moda kereta api.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, berbagai fasilitas juga KAI sediakan untuk pelanggan sebagai bentuk adaptasi kebiasaan baru, seperti menyediakan wastafel portabel dan hand sanitizer, serta memberikan healthy kit untuk penumpang jarak jauh. Selain itu, untuk mengurangi mobilitas dan kontak fisik, KAI menambah sejumlah fitur pada aplikasi KAI Access sehingga pelanggan dapat mengatur perjalanannya secara daring tanpa perlu ke stasiun.

Ini artinya, kata Didiek, berbagai inovasi, adaptasi dan kontribusi terus KAI lakukan demi memberikan rasa aman dan nyaman, baik bagi pelanggan maupun masyarakat di masa pandemi Covid-19. Tak hanya itu, dalam rangka mendukung pemerintah mempercepat program vaksinasi Covid-19, KAI bersama anak usahanya yakni KAI Commuter menyediakan layanan vaksinasi Covid-19 gratis bagi pelanggan dan masyarakat di berbagai stasiun.

"Tujuan vaksinasi gratis di stasiun ini adalah agar pembentukan kekebalan tubuh secara komunal atau herd immunity dapat segera terwujud," katanya.

Menurutnya, layanan vaksinasi Covid-19 gratis tersebut telah KAI Group sediakan di 24 stasiun kereta api. Jumlah stasiun yang melayani vaksinasi gratis ini akan terus ditambah agar semakin banyak masyarakat yang mengikuti kegiatan vaksinasi Covid-19 gratis di stasiun. Hingga 15 Agustus 2021, sebanyak 36.226 orang yang telah mengikuti vaksinasi gratis di Stasiun.

Selama pandemi, masih kata Didiek, KAI pun membatasi jumlah maksimal pelanggan di dalam kereta yaitu 70% untuk rute jarak jauh, 50% untuk rute lokal, dan 32% untuk KRL. Seluruh upaya itu turut didukung dengan penerapan protokol kesehatan ketat di lingkungan stasiun, mulai dari mengecek suhu tubuh, menggunakan masker hingga menjaga jarak.

“Adaptasi, inovasi, dan kolaborasi menjadi kunci penting untuk KAI agar tetap bertumbuh di dalam situasi krisis ini,” tandasnya.

Arti Strategis Kereta Api
Kereta api memiliki arti strategis bagi banyak bangsa, tak terkecuali Indonesia. Di Amerika Serikat, gerakan pembukaan ke barat wilayah itu dalam abad ke-19 dipelopori pembangunan jalur kereta api yang kemudian dapat mengangkut berbagai hasil produksi di bagian barat, dalam jumlah besar dan cepat ke bagian timur Amerika Serikat yang sudah mulai membangun industri.

Kemudian kereta api memiliki peran besar atas kemenangan pihak utara dalam perang saudara dengan selatan, karena memperoleh keunggulan strategis melalui kereta api yang dapat mengangkut pasukan dan alat dalam jumlah besar serta cepat ke medan tempur. Eropa abad ke-19 mulai membangun kereta api secara teratur yang mendukung kemenangan Jerman atas Prancis dalam perang Jerman-Prancis tahun 1870.

Di Indonesia, transportasi kereta api lah yang membawa proklamator Republik Indonesia, Soekarno-Hatta, saat hijrah dari Jakarta ke Jogyakarta di awal tahun 1946. Kala itu, Jakarta sebagai Ibukota RI yang belum berumur satu tahun dianggap sudah begitu gawat, karena kedatangan tentara Belanda yang baru saja direorganisasi dalam bentuk NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Mereka membonceng tentara Sekutu dan kerap bertindak brutal terhadap kaum Republiken di sekitar Jakarta.

Dikutip dari sejarah-tni.mil.id, pasca Soekarno memutuskan ibukota pemerintahan pindah ke Jogyakarta, Djawatan Kereta Api diminta menyiapkan dua kereta yaitu IL 7 dan IL 8. Kereta ini sebelumnya dibuat khusus oleh Staatspoorwegen (perusahaan Kereta Api Hindia Belanda) untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda di  Hoofd Werkplaats di Bandung pada 1919. Dua kereta ini kelak disebut Kereta Luar Biasa (KLB).

Adapun IL8 adalah gerbong khusus untuk Presiden Soekarno. Untuk  lokomotifnya adalah lokomotif  C2849  yang tersimpan di Dipo Jatinegara. Saat itu, bersama dua gerbong istimewa tersebut diangkut gerbong barang DL8009, gerbong penumpang kelas 1 dan 2 ABGL 8001 serta ABGL 8004, gerbong makan FL 8001 dan dua gerbong tidur SAGL 9006, dan SAGL 9004. Dengan masinis Husein, juru api Murtadi dan Suad, pelayan KA Sapi’e dan Kasban. Dan koki restorasi Moh.Saleh dan Sulaiman, mekanik Tukimin, Kun Hai, dan Irie, serta Opseter listrik Hidayat.

Rangkaian KLB yang sudah disiapkan dikeluarkan dari bengkel Manggarai oleh Ali Noer dan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dan tepat pukul 17.30 dilangsir ke belakang rumah Bung Karno. Langsiran kereta api dari Manggarai ke Pegangsaan Timur pada waktu itu memang lazim dilakukan. Para pengawal mengatur pemberangkatan dengan sebaik mungkin agar seolah-olah tidak ada tanda-tanda bahwa Bung Karno dan rombongan akan meninggalkan Jakarta.

Sore hari tanggal 3 Januari 1946, Soekarno mengambil keputusan untuk memindahkan ibukota pemerintahan ke daerah yang bebas dari gangguan Belanda. "Kita akan pindahkan ibukota besok malam. Akan tetapi tak seorang pun boleh membawa harta bendanya, saya juga tidak," kata Bung Karno pada Cindy Adams yang menulis biografi sang proklamator dengan tajuk 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia'.

Diceritakan dalam buku yang cetakan pertamanya terbit tahun 1966 itu, Saat Presiden pertama itu memindahkan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, karena situasi dan kondisi di Jakarta sudah begitu gawat sehingga Soekarno tidak bisa menetap lebih lama di situ. Tanpa kesatuan polisi yang kuat, mereka takkan dapat menandingi NICA. Soalnya bukan hanya sekedar nyawa dari pemimpin negara saja melainkan nyawa dari negara dalam keseluruhan berada dalam bahaya.

Masih cerita Soekarno dalam buku yang dialih bahasa kan oleh Abdul Bar Salim itu, rumah sang proklamator letaknya tepat di jalan kereta api, jadi pada jam enam sore besoknya serangkaian kereta yang digelapkan berhenti tanpa bersuara di belakang rumah. Dengan diam-diam dan tanpa bernapas keras sedikit pun, Bung Karno dan Bung Hatta beserta rombongan menyusup ke belakang rumah dan menaiki salah satu gerbong.

NICA memeriksa semua kereta api yang keluar masuk. Gerbong yang dinaiki dua proklamator RI itu tidak digandengkan dengan gerbong lain, karena dibiarkan gelap. Kelihatannya seperti grbong yang terpisah sebagaimana seringkali kelihatan di rel sebelum disambungkan pada rangkaian yang lain. Orang-orang NICA mengira, bahwa kereta yang berisi Bung Karno dan Bung Hatta kosong karena akan dihubungkan ke rel yang lain.

Seandainya mereka ketahuan, maka seluruh Negara yang baru berumur beberapa bulan akan dapat dihancurkan hanya dengan satu granat saja. Bung Karno dan rombongan tak pernah berhenti berpikir di saat-saat genting itu, mereka berpikir apakah perjalanan menuju Jogjakarta di awal tahun Januari 1946 itu akan berjalan aman atau akan berakhir dengan ending yang menyedihkan.

"Sudah tentu berbahaya, tetapi Republik dilahirkan dengan resiko. Setiap gerakan revolusioner menghendaki keberanian," tandas Soekarno dalam buku itu.

Dan begitulah, di malam gelap tiada berbulan tanggal 4 Januari 1946, Soekarno beserta rombongan mengangkat buaian bayi Republik Indonesia ke ibukotanya yang baru, yakni Jogyakarta, dengan menumpang Kereta Api Luar Biasa (KLB).

Suasana perjalanan rombongan Presiden pertama RI dengan naik KLB ini lebih dramatis diceritakan oleh pengawal pribadi Bung Karno, H. Mangil Martowidjojo, dalam biografinya berjudul 'Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967'. Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa rombongan Bung Karno memang tak ada yang membawa barang, termasuk juga para pengawalnya. Seolah-olah rombongan hanya ingin jalan-jalan saja ke suatu tempat.

"Satu-satunya yang agak mencolok dalam KLB itu adalah dua buah mobil kepresidenan, merk Buick 7 seat cat hitam dan merk de Soto cat kuning," kata Mangil dalam biografi bukunya yang dieditori Julius Pour itu.

KLB yang dipergunakan oleh Presiden Indonesia pertama beserta rombongan itu, sebelum meninggalkan kota Jakarta telah beberapa kali langsir di belakang kediaman Bung Karno, untuk mengelabui tentara Belanda. Jadi waktu itu tidak ada tanda-tanda bahwa Bung Karno dan rombongan akan meninggalkan Jakarta dengan menggunakan KLB.

Dengan aksi langsir, KLB bergerak perlahan-lahan meningalkan kota proklamasi. Sampai stasiun Manggarai, KLB berhenti. Di stasiun ini, banyak anggota tentara Belanda yang terdiri dari orang-orang Indonesia melihat-lihat kereta api di bagian depan. Tapi karena keadaan gelap, mereka tidak memperhatikan gerbong yang ada di belakang karena mungkin mengira semua gerbong kosong.

Meski lolos namun tak urung kondisi ini membuat para polisi Pengawal Pribadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang turut mengawal rombongan dua proklamator itu harus menapas napas sambil berdoa agar Tuhan melindungi mereka. Lepas dari Stasiun Manggarai menuju Stasiun Jatinegara, kekhawatiran Mangil sebagai bagian dari anggota polisi pengawal pribadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang dipimpin Bapak Winarso ini makin bertambah lagi.

Pasalnya, di stasiun ini tentara Belanda baru saja mendapat serangan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Masih terdengar ramainya tembak-tembakan di sekitar Jatinegara. KLB berhenti lagi dan dari dalam mereka dapat melihat dengan jelas tentara Belanda yang terdiri dari orang Indonesia yang sedang memperhatikan KLB secara seksama. Tetapi mereka tidak ada yang masuk ke gerbong karena situasinya memang gelap.

Anggota tentara Belanda asal orang Indonesia yang ada di Stasiun Jatinegara terlihat seram-seram. Hati para pengawal pribadi kedua proklamator itu berdegup kencang tak henti-henti seraya terus memohon perlindungan pada Tuhan semoga tentara Belanda itu tidak melihat mereka yang ada di dalam KLB. Meski hanya sebentar KLB berhenti di Stasiun Jatinegara namun situasi tersebut tak urung membuat perasaan mereka begitu tegang.

Saat itu, mereka begitu berharap KLB dapat bergerak cepat namun yang terjadi malah sebaliknya, KLB yang mengangkut para pejabat penting Republik di awal kemerdekaan ini, malah berjalan lambat yang membuat hati para pengawal menjadi kesal. Tetapi mereka cepat sadar, jika KLB berjalan terlalu cepat maka otomatis tentara Belanda akan curiga.

Semakin menjauh dari Stasiun Jatinegara, barulah KLB bisa berjalan cepat sehingga hati para polisi pengawal pribadi Presiden dan Wakil Presiden RI berjumlah 14 orang itu bisa menarik napas lega. Plong! Bahkan ketika sampai di Stasiun Klender, para pengawal itu tak ragu-ragu berteriak, "Merdeka, merdeka, merdeka."

"Karena sangat gembira, suara kami terasa habis karena betul-betul merasakan kemerdekaan yang sejati. Tidak ada rasa takut lagi. Di Stasiun Klender, lampu-lampu mulai dinyalakan sehingga terang-benderang," kisah Mangil dalam buku tersebut.

Dari goresan sejarah di atas, terlihat nyata betapa pentingnya peran kereta api dalam mengangkut rombongan kedua proklamator menuju ibukota pemerintahan yang baru. Tanpa adanya peran kereta api mungkin akan sulit memindahkan Bung Karno dan rombongan menuju Jogyakarta di awal-awal kemerdekaan dengan menggunakan transportasi mobil.

Harus diakui, kereta api memiliki manfaat amat banyak bagi masyarakat, karena ia menjawab tuntutan adanya transportasi massal (mass transportation). Kereta api juga berpengaruh banyak terhadap kesejahteraan maupun keamanan bangsa. Ia menjadi sarana utama untuk angkutan darat bagi orang dan barang dalam jumlah besar, waktu relatif cepat dan ongkos paling rendah. Angkutan manusia dan barang dalam jumlah besar secara otomatis akan meningkatkan produktivitas dan ekonomi suatu bangsa.

Sesuai Pembukaan UUD 1945, pemerintah RI berkewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi serta keadilan sosial.

Artinya, dengan memperhatikan peran kereta api yang luas dan bermanfaat baik di Eropa maupun di Indonesia sendiri, pemerintah tidak boleh dan tidak dapat mengabaikan pembangunan kereta api guna memenuhi kehendak UUD itu. Dan peran itu terus dijalankan oleh KAI meski di tengah pandemi yang mendera saat ini.

Sebut saja, misalnya, pembangunan proyek LRT Jabodebek misalnya, per 30 Juli 2021 progres pekerjaan telah mencapai 73,31%. Sementara untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung progres fisiknya sudah mencapai 54,16%.

Kondisi pandemi memang sedikit banyak mempengaruhi capaian target penyelesaian pekerjaan, namun KAI melakukan upaya maksimal dengan intens berkoordinasi dengan para stakeholders. KAI bertekad akan menjalankan amanah penugasan tersebut agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan layanan transportasi massal berbasis rel yang nyaman dan maju meski di tengah kondisi saat ini.

"Kemajuan ini nantinya diharapkan tidak hanya akan menambah volume angkut semata, tapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang juga berimbas bagi kemajuan bangsa,” tukas Didiek.

Pembangunan kereta api merupakan investasi negara yang jauh jangkauannya, baik dilihat dari sudut daerah, waktu maupun keperluan. Dan dampaknya terhadap ketahanan nasional pun besar sekali. Apa yang dilakukan PT KAI di masa pandemi saat ini hakekatnya merupakan sebuah wujud dari nasionalisme yang harus terus tumbuh di tengah ketidakpastian masa depan transportasi khususnya kereta api dalam situasi dan kondisi saat ini. Tanpa adanya nasionalisme yang tercipta di tubuh perusahaan BUMN itu, mustahil berbagai inovasi dan kebijakan yang dilakukan KAI dapat terwujud.

Nasionalisme ternyata bukan hanya terbentuk dari rasa senasib sepenanggungan sebagai orang terjajah saja seperti yang dirasakan oleh para pengawal Bung Karno dan rombongan saat mengawal kedua proklamator RI tersebut hijrah ke Jogyakarta, tapi rasa itu dapat terbentuk dan menyatu dengan progres pekerjaan proyek strategis nasional yang diamanahkan Pemerintah pada KAI, meski di masa pandemi. Dan itulah nasionalisme yang sesungguhnya. ***


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
IlustrasiManajemen PTPN V Dilaporkan ke Menteri Erick Thohir
Direktur Politehnik Negeri Padang, DR Surfa Yondri, ST,SST,M.Kom memberikan sambutan saat acara kuliah umum dan peningkatan link & match dengan dunia industri di Kampus PNP Pelalawan.Beri Kuliah Umum, Bupati Zukri Sebut akan Bangun Kampus Utama PSDKU Pelalawan
Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, Arfan Usman 526 PNS Pemkab Siak Terima Penghargaan Satyalencana Karya Sayta
Suasana penutupan Musda V DPD Demokrat Riau. Agung Nugroho Terpilih Aklamasi Jadi Ketua Demokrat Riau
IlustrasiTak Digubris, DPRD Pekanbaru Kembali Desak PDAM Tirta Siak Segera Atasi Persoalan Pipa Bocor
  Program CSR Asian Agri, perusahaan perkebunan kelapa sawit Group RGE, sentuh sarana rumah ibadah masjid.Asian Agri Fasilitasi Sarana Air Bersih Rumah Ibadah
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru Abdul JamalNaik Rp51.704, UMK Pekanbaru Jadi Rp3.049.675
Polres Inhu gelar upacara serah terima jabatan (Sertijab) Kapolsek Batang Cenaku, Selasa (30/11/2021).Ipda Asep Saifurrohman Jabat Kapolsek Batang Cenaku
IlustrasiAnggota Dewan Ini Setuju Jika Tarif Parkir di Pekanbaru Naik, Ini Alasannya
Kepala Disparpora Kepulauan Meranti bersama istri yang mendampingi Bujang dan Dara tampil di ajang Pemilihan Bujang dan Dara Provinsi RiauNur Indahyani Asal Kepulauan Meranti Dinobatkan Jadi Dara Provinsi Riau Tahun 2021
Komentar Anda :

 
Potret Lensa
Kepala Balai PPW Riau Tepung Tawari Marulis Menuju MTQ Korpri Nasional
 
 
 
 
 
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2021 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved