www.halloriau.com


Ekonomi
BREAKING NEWS :
Wawako Sugiyarto Buka Konferkot PWI Dumai, Bambang Kembali Terpilih Aklamasi
 
Dari Kilau Jelantah Negeri Bertuah ke Langit Biru Nusantara
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:25:01 WIB
Perwira menunjukkan SAF produksi Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai dengan formulasi injeksi UCO atau minyak jelantah sebanyak 5% (foto/Riki)
Perwira menunjukkan SAF produksi Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai dengan formulasi injeksi UCO atau minyak jelantah sebanyak 5% (foto/Riki)

Oleh Riki Ariyanto

Siang itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Permata Sari berhadapan dengan dua kuali penuh dengan minyak panas di kompor gas yang sedang menyala. Satu kuali berisi dengan ayam geprek, sebelahnya ada seporsi tela-tela (cemilan singkong goreng) yang sudah matang dan siap ditiriskan.

Rutinitas ini dijalani Sari bertemankan bisingnya lalu lalang kendaraan, sesekali deru mesin pesawat terdengar melintas di atas warungnya di Simpang Palas, Rumbai Barat, Kota Pekanbaru.

Sudah empat tahun, ibu dua anak itu berjualan ayam geprek dan gorengan. “Kalau tengah hari, biasanya satu kuali menggoreng jajanan, satunya lagi menggoreng lauk untuk dimakan keluarga di rumah,” katanya saat dijumpai Sabtu (3/10/2026).

Bagi Sari, gorengan merupakan “denyut nadi” dari usahanya. Setiap hari minimal seliter minyak goreng habis dipakai. “Biasanya beli minyak kemasan dua liter Rp36 ribu. Itu biasanya untuk dua hari,” ujarnya.

Saat ditanya tentang minyak jelantah, Sari mengaku jarang bersisa. “Jajanan yang digoreng itu kan banyak menyerap minyak. Jadi jelantah biasanya sedikit. Jadi saya pakai lagi untuk goreng sambal, kadang juga dibuang sih,” katanya.

Sari hanya satu dari cerita banyak orang yang menganggap jelantah sebagai limbah atau sampah yang tidak bernilai. Kenyataannya, dari tetes jelantah sisa penggorengan itu ada potensi renewable energy atau energi terbarukan yang bisa menyelamatkan masa depan.

Sejauh 146 Km dari Simpang Palas, di antara cerobong, tangki, dan jaringan pipa milik PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Dumai) telah “lahir” Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur buatan dalam negeri.
Kilang yang berusia lebih setengah abad itu, sukses “menyulap” minyak jelantah menjadi energi yang bisa menerbangkan pesawat terbang. Para perwira Pertamina berhasil memproduksi SAF atau bahan bakar pesawat dengan formulasi injeksi used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebanyak 5%. 

Kilang Dumai, Provinsi Riau sejak lama sudah menjadi tulang punggung energi nasional. Kilang yang berada di pesisir timur Pulau Sumatra ini menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) 170 ribu barel per hari (MBSD). Kilang Dumai berkontribusi 16,5 persen suplai BBM untuk seluruh negeri.

Keberhasilan produksi SAF dari bahan baku limbah ini menjadi solusi transisi energi hijau di Indonesia. Sekaligus memperluas sumber energi baru terbarukan dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

Terobosan inovasi ini bukan saja membuka jalan kemandirian energi, tetapi menunjukkan dari Dumai yang berjuluk Negeri Bertuah juga mampu menciptakan terobosan inovasi energi yang lebih bersih, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk masa depan energi dunia.

Itu disampaikan Farhan Hadi Putra, Jr Engineer II HCU Plant Process Engineering Development. Ia menyebut saat ini SAF yang berhasil dikembangkan oleh Kilang Dumai memiliki keunggulan utama yaitu komposisi kandungan UCO sebesar 5%, komposisi bio feedstock tertinggi melalui teknologi Co-Processing UCO di unit hydrocracker unibon (HCU) #212. Plant trial untuk pengolahan UCO untuk produksi SAF tersebut sukses dilaksanakan pada 25 Juli 2026.

“Kilang Dumai di unit pengembangan terus berinovasi, agar tidak ada produk yang sia-sia. Sehingga kita berhasil memproduksi bioavtur atau SAF dengan campuran UCO 5 persen dengan menggunakan katalis Merah Putih,” ujarnya pada awal Oktober ini.

Farhan mengambarkan 5% bioavtur atau SAF yang diproduksi Kilang Dumai setara tujuh toren per jam. Kalau untuk keseluruhan kapasitas produksi SAF dari Kilang Dumai saat ini sudah mencapai 11.300 barel per hari operasi (MBSD).

Dalam menjamin keamanan serta kualitas mutu produk, produk SAF Kilang Dumai juga sudah melalui serangkaian proses pengujian di laboratorium. Selain itu, Kilang Dumai juga telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) EU dan ISCC CORSIA, yang memastikan proses pengolahan dan produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keberlanjutan internasional.

Ini pencapaian yang mengembirakan, setelah setahun lalu Kilang Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) uji coba SAF 3 persen. Pencapaian kilang yang beroperasi sejak tahun 1971 ini menegaskan komitmen mendukung pemerintah dalam memperkuat transisi energi baru terbarukan, khususnya untuk memenuhi bahan bakar penerbangan yang ramah lingungan dan rendah emisi.

Farhan menambahkan, tentunya jelantah tidak serta merta dicampurkan untuk menjadi bioavtur. Limbah dari rumah tangga atau UMKM itu terlebih dulu dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti sisa makanan, sebelum diolah menjadi avtur nabati.

Hanya saja untuk bahan baku, dominan masih didatangkan dari wilayah Sumatera Utara (Sumut). Namun, Kilang Dumai sudah mempersiapkan Commissioning Fasilitas Co-processing UCO merupakan bagian dari rangkaian program pengumpulan bahan baku yang diberi nama jelantah menjadi manfaat atau Jelma. Pada program ini, Pertamina Kilang Dumai melalui Agent of Change (AOC) mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat untuk diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).

sistem-jelma-kilang-dumai.jpeg
(Program Jelma Pertamina Kilang Dumai, agent of change mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat untuk diolah menjadi BBM/foto-istimewa).

Sejak pertengahan April 2026, jelantah dengan kriteria tidak tercampur air maupun kotoran dan disimpan di wadah yang bersih, lalu dikumpulkan di Bank Jelantah dengan skala pilot project, berpusat di kawasan Komperta Bukit Datuk, Kota Dumai. Masyarakat yang ikut serta diberi insentif berupa minyak baru sebagai bentuk apresiasi.

Program Jelma Kilang Dumai ini hadir sebagai solusi nyata dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah ke saluran air dan tanah, mendukung transisi energi melalui produksi BBM yang sustainable dan rendah emisi. Bukan itu saja, secara tidak langsung giat ini mewujudkan ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi masyarakat penyetor. Selain itu, inisiatif ini juga memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Peluang Ekonomi Hijau
Dalam upaya mewujudkan energi ramah lingkungan SAF, keikutsertaan masyarakat memang sangat dibutuhkan. Itu sudah dibuktikan Bank Jatah (Minyak Jelantah) yang berpusat di Kota Pekanbaru, Riau. Direktur Bank Jatah, Mohammad Adriyo Habibi mengatakan usaha ini bermula dari gerakan pemuda Karang Taruna Umbansari, Rumbai sejak tahun 2021. Kini program tabung jelantah ini sudah punya ratusan nasabah.

“Kami mendapati untuk skala rumah tangga itu bisa terkumpul rata-rata 1 Kg, paling banyak 2 Kg minyak jelantah. Tapi kalau itu kita jumlahkan minimal 100 ribu keluarga, setidaknya ada potensi 100 ton jelantah per bulan. Bayangkan, kalau sebanyak itu jelantah diserakkan ke alam, betapa merusaknya. Tetapi kalau kumpulkan malah punya potensi ekonomi yang sangat besar,” katanya saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, potensi bahan baku tersebut juga pastinya tersedia di Kota Dumai. Mengingat dari data, penduduk Dumai tahun 2024 berkisar 343.597 jiwa. Artinya kalau setengah jumlah penduduk bisa diberdayakan untuk penyediaan UCO, pasti sangat memudahkan dalam rantai suplai bahan baku SAF.

“Karena kalau pemain besar itu sistemnya cash and carry. Jadi minyak jelantah dari hotel, restoran atau kafe itu mereka beli putus untuk kemudian dijual lagi ke eksportir. Kalau dengan sistem pemberdayaan masyarakat, seperti yang kami lakukan, setidaknya bahan baku selalu ada dan kontinu. Selain menyelamatkan lingkungan, juga mendatangkan nilai tambah ekonomi di masyarakatdari modal limbah minyak jelantah rumah tangga,” katanya.

Saat ini Bank Jatah milik Habibi bisa mengumpulkan minyak jelantah 8 sampai 9 ton per minggu. Itu didapat dari nasabah rumah tangga dan juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Setiap 1 Kg jelantah yang disetor dihargai Rp7 ribu dan otomatis menjadi saldo tabungan dalam aplikasi Bank Jatah Indonesia. Nasabah bisa mencairkannya minimal saldo Rp100 ribu.

Habibi menyatakan siap jika diajak bermitra dengan Kilang Dumai, terutama untuk penyediaan bahan baku atau pemberdayaan masyarakat di Dumai dan sekitarnya.

Sejalan dengan itu, Ekonom Senior Universitas Riau (Unri), Dahlan Tampubolon, Ph.D punya pandangan nilai ekonomi dari transformasi energi ini terlihat nyata ketika membandingkan dengan harga bahan baku dan produk akhirnya.

“SAF dari Kilang Dumai bukan sekadar inovasi teknologi energi. Ini peluang ekonomi yang, jika dikelola dengan benar, bisa mengubah cara Riau memandang masa depannya sendiri,” katanya, Selasa (27/10/2026).

Selain itu juga terdapat pesan besar yang tidak bisa diabaikan dari transformasi energi ini, yaitu Indonesia tidak semestinya lagi hanya menjadi pemasok minyak jelantah mentah bagi industri energi negara lain, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga berlipat.

Lanjut Dahlan, bagi daerah, manfaat SAF bisa mengalir jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan kilang. Minyak jelantah yang dikumpulkan dari rumah tangga, warung makan, restoran, hotel, pasar, dan katering menciptakan kegiatan ekonomi di banyak titik pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, pemeriksaan mutu, hingga pemasokan ke kilang.

Pertamina sendiri menyebut ekosistem SAF ini akan melibatkan masyarakat dan UMKM dalam pengumpulan minyak jelantah, sehingga mampu mendorong ekonomi sirkular di tingkat akar rumput.

“Jika rantai pasoknya dirancang secara inklusif, masyarakat Riau tidak sekadar menjadi objek kampanye lingkungan, mereka menjadi pemasok yang menerima imbalan ekonomi nyata,” katanya.

Yang menjadi catatan, upaya tersebut mestinya juga didukung oleh pemerintah daerah. Seperti dengan membangun bank jelantah di tingkat kelurahan atau desa, mendorong kemitraan koperasi dan UMKM, serta memastikan sistem pencatatan transaksi yang transparan.

“Ukuran keberhasilannya bukan jumlah poster kampanye yang terpasang, melainkan pendapatan yang benar-benar diterima pemasok, jumlah usaha yang bertahan, pekerjaan yang tercipta, dan nilai tambah yang tinggal di Riau,” tegasnya.

DEN-Kilang-Dumai.jpeg
(Anggota DEN, Dr Unggul Priyanto bersama rombongan mendapat penjelasan produksi SAF di Kilang Dumai/foto-istimewa) 

Namun upaya Kilang Dumai ini bukan tanpa tantangan. Ada pasokan yang tersebar geografis, persaingan dengan eksportir dan industri biofuel lain, fluktuasi harga, serta risiko pencampuran dengan minyak lain dapat menekan kelayakan usaha secara signifikan.

Karena itu, Pertamina perlu menerbitkan neraca bahan baku tahunan yang terbuka: dari mana pasokan berasal, berapa volume aktual yang masuk, bagaimana kualitasnya, berapa harga belinya, dan berapa biaya angkutnya. Transparansi ini bukan formalitas, ia adalah fondasi kepercayaan yang menentukan apakah masyarakat dan UMKM mau terlibat dalam ekosistem ini secara serius dan berkelanjutan.

Ekosistem yang dibutuhkan harus menghubungkan kilang, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu sistem yang saling memperkuat, bukan masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Pertamina dapat memimpin pemetaan pasokan serta kontrak pembelian jangka menengah yang memberikan kepastian harga kepada pemasok. Pemerintah daerah membangun jaringan pengumpulan dan basis data pemasok yang bisa diverifikasi. Pemerintah pusat merancang insentif yang dibayarkan berdasarkan kinerja terverifikasi: volume bahan baku yang memenuhi standar, pengurangan emisi yang terukur, dan keterlibatan pemasok lokal yang nyata. Evaluasi fiskalnya harus menghitung biaya dukungan per liter SAF yang diproduksi, tambahan investasi swasta yang masuk, nilai tambah domestik yang tercipta, penerimaan pajak yang dihasilkan, dan manfaat lingkungan yang dapat diverifikasi.

Dengan cara itu, dukungan negara tidak menjadi subsidi permanen bagi industri yang tidak kompetitif, ia menjadi instrumen untuk menurunkan hambatan awal dan menarik investasi jangka panjang yang berkelanjutan.

“Jika pemerintah dan Pertamina mampu menyatukan kepastian pasokan, disiplin fiskal, dan permintaan pasar yang nyata, minyak jelantah Riau bisa berkembang dari sekadar limbah dapur menjadi aset ekonomi hijau yang mengangkat daya saing bangsa ke langit yang lebih biru,” harapnya.

Kilang Dumai yang berhasil memproduksi SAF berkualitas tinggi serta ramah lingkungan juga sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN). Itu disampaikan anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc dalam sosialisasi KEN yang digelar di Universitas Riau pada akhir September 2026. Ia menyatakan pengembangan berbagai bahan baku seperti singkong, jagung, tebu, dan sorgum serta pengaturan proses pencampuran bahan bakar seperti mnyak jelantah diharapkan bsia mengurangi beban ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak yang bersumber dari fosil.

“Sekaligus memperkuat cadangan energi dan meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi sumber daya dalam negeri,” tegas Unggul.

peluncuran-SAF-Kilang-Dumai.jpeg
(Peluncuran SAF Kilang Dumai dilakukan langsung Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman/foto-istimewa)

Dukung Pencapaian Target NZE 2060
Pencapaian Kilang Dumai dalam pengembangan SAF dengan kandungan minyak jelantah sebanyak 5 persen ini merupakan bentuk komitmen Pertamina dalam mendukung Asta Cita program pemerintah untuk menghadirkan energi yang ramah lingkungan guna percepatan pengurangan emisi karbon untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060 serta mendukung pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.

Executive General Manager (GM) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Iwan Kurniawan, mengatakan perjalanan Kilang Dumai dalam pengembangan energi ramah lingkungan sudah dimulai sejak 2015. Saat itu, Kilang Dumai menjadi yang pertama uji coba co-processing minyak sawit menjadi bahan bakar pada unit diesel hydrotreating (DHDT).

Kemudian dilanjutkan dengan berbagai penelitian, termasuk dari aspek katalis. Pada 2019, Kilang Dumai berhasil menjadi satu-satunya kilang di Pertamina yang bisa memproduksi green diesel atau D100 melalui teknologi hydrotreated vegetable oil (HVO).

Jadi pengembangan SAF merupakan hasil dari proses panjang yang dipersiapkan secara menyeluruh dengan mengedepankan aspek keselamatan, keandalan operasi, tata kelola perusahaan yang baik, serta pemenuhan standar keberlanjutan internasional.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan,” kata Iwan. Itu terlihat dari persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC yang menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan dapat diterima serta siap diperdagangkan di pasar global.

Kehadiran SAF dengan komposisi injeksi UCO sebanyak 5 persen ini semakin melengkapi portfolio produk energi yang selama ini telah diproduksi Kilang Dumai, seperti Solar, Avtur, Pertalite, Pertadex, MFO-LS, LSFO, LPG, SF-05, Green Coke, dan produk turunan lainnya.

Pencapaian ini juga menjadi bagian dari langkah strategis Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai sebagai bagian dari entitas bisnis PT Pertamina (Persero) dalam mendukung penerapan mandatori SAF 1% yang ditargetkan mulai berlaku pada 2027.

Apalagi SAF sendiri sudah dilakukan dalam tes penerbangan. Uji coba itu antara lain dilakukan memakai pesawat CN235, lalu bersama Garuda Indonesia, termasuk penerbangan Pelita Air rute Jakarta-Denpasar pulang-pergi pada 2025 dengan avtur fosil yang sudah dicampur SAF. Langkah tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai produsen pertama SAF sekaligus memimpin transisi energi di kawasan Asia Tenggara hingga global. (*)



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Bambang Prayetno menyampaikan kata sambutan usai terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWI Dumai Periode 2026-2029 pada Konferkot PWI Dumai (foto/ist)Wawako Sugiyarto Buka Konferkot PWI Dumai, Bambang Kembali Terpilih Aklamasi
PWA Riau gelar diskusi parenting, orang tua diajak kenali minat dan bakat anak sejak dini (foto/ist)PWA Riau dan Umri Kolaborasi, Bahas Pentingnya Kesehatan dalam Pembangan Potensi Anak
Polisi tangkap seorang DPO Curat dana ATM yang viral di Ukui (foto/Andy)Seorang DPO Curat Dana ATM Viral Diciduk Tim Polsek Ukui di Medan
  Ilustrasi Dumai dan Inhu terbanyak (foto/int)Hotspot di Sumatra Capai 280, Riau Terdeteksi 9 Titik Tersebar di Lima Wilayah
Ditutup Wabup Hendrizal, Inhu Expo 2026 hadirkan hiburan hingga pembagian doorprize (foto/ist)Inhu Expo 2026 Resmi Ditutup, Ribuan Warga Meriahkan Malam Penutupan di RTH Rengat
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto (kanan) mendampingi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq (kiri) memberikan pemaparan kepada media seusai memimpin apel bersama tim gabungan penanganan karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026). ANTARA/HO-APHIAPHI Kerahkan Regu Pemadam dan Siapkan Sumur Bor untuk Tangani Karhutla di Kalteng
Komentar Anda :

 
Potret Lensa
Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan LKJ Raja Ali Kelana 2026
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved