JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar membuat sejumlah pemilik mobil diesel harus mencari cara untuk menekan biaya operasional kendaraan. Pilihan yang dilakukan beragam, mulai dari mengurangi frekuensi penggunaan mobil hingga beralih ke transportasi umum.
Kondisi tersebut dirasakan pemilik mobil diesel yang mengandalkan BBM nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Harga bahan bakar yang relatif tinggi membuat pengeluaran meningkat, terutama bagi pengguna kendaraan diesel dengan kapasitas mesin besar.
Salah satunya Pranowo Tri Adhianto, tenaga pengajar ilmu komunikasi Universitas Indonesia, yang menggunakan Toyota Fortuner generasi kedua dengan bahan bakar Pertamina Dex.
Untuk mengurangi pengeluaran, Pranowo memilih mengurangi penggunaan mobil dan mengoptimalkan transportasi umum sebagai alternatif mobilitas sehari-hari.
"Pertama, saya menyiasatinya dengan meminimalisasi penggunaan mobil. Kedua, saya lebih mau mengoptimalkan naik angkutan umum," ujar Pranowo saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.
Pranowo mengatakan, Fortuner miliknya kini lebih banyak digunakan ketika bepergian bersama keluarga. Sementara untuk keperluan pekerjaan, dia lebih sering menggunakan sepeda motor atau transportasi umum.
Menurut Pranowo, kemudahan akses dan keterintegrasian transportasi umum menjadi salah satu faktor yang membuatnya dapat mengurangi ketergantungan terhadap mobil pribadi.
"Karena aksesnya masih gampang dan cukup terintegrasi. Itu sangat membantu, walaupun awal saya mencoba itu memang tidak nyaman dan tidak mudah, dan saya yakin buat orang yang pakai mobil dari dulu, terus tiba-tiba harus berpindah ke angkutan umum, itu penyesuaiannya pasti tidak cepat," kata Pranowo.
Minim Edukasi Penghematan BBM
Selain mengurangi penggunaan mobil, Pranowo mengaku belum memperoleh edukasi yang cukup mengenai cara menghemat konsumsi BBM dari pemerintah.
Menurutnya, informasi mengenai langkah teknis untuk meningkatkan efisiensi kendaraan dapat membantu pemilik mobil menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
Pranowo mengatakan belum mengetahui secara pasti langkah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan konsumsi BBM pada Fortuner miliknya, termasuk penyesuaian teknis yang memungkinkan kendaraan menjadi lebih irit.
"Kendala terbesar saya adalah karena saya tidak punya opsi dan saya tidak punya knowledge bagaimana caranya menghemat BBM. Saya tidak tahu mobil saya harus diapain, apa yang harus diubah secara teknis agar lebih irit," ujarnya.
Karena keterbatasan informasi tersebut, Pranowo memilih melakukan penghematan dari sisi penggunaan kendaraan, bukan melalui modifikasi atau perubahan teknis pada mobil.
"Jadi, alternatif yang saya ambil, bukan mengakali secara teknis mobilnya, tapi saya mengambil faktor eksternal, yaitu naik angkutan umum," kata Pranowo.
Langkah tersebut dinilai cukup membantu menekan pengeluaran bulanannya.
Pranowo mengungkapkan, sebelum mengurangi penggunaan mobil dan beralih ke transportasi umum, biaya BBM untuk Fortuner miliknya bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan.
"Itu dulu kalau dipakai aktif, sebulan bisa keluar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Setelah menyiasati pakai transportasi umum, saya berani bilang bahwa (pengeluaran) saya berkurang 50 persen," ujarnya.
Dengan penghematan tersebut, transportasi umum tidak hanya menjadi alternatif mobilitas, tetapi juga salah satu pilihan untuk mengendalikan biaya operasional kendaraan di tengah kenaikan harga solar.
Tetap Gunakan Dexlite Meski Harganya Tinggi
Pengalaman berbeda dialami Narendra, seorang reviewer mobil yang sehari-hari menggunakan Mitsubishi Pajero Sport lansiran 2014.
Awalnya, Narendra mengandalkan Biosolar untuk kendaraan dieselnya. Namun, setelah penggunaan B50, dia mengaku mobilnya lebih sering mengalami masalah pada filter solar.
Kondisi tersebut membuat Narendra sesekali beralih menggunakan Dexlite untuk mengurangi kendala pada kendaraannya.
"Semenjak pakai B50, itu mobil jadi sering bermasalah filter solarnya, karena itu terkadang ganti ke Dexlite," ujar Narendra.
Meski demikian, penggunaan Dexlite juga berdampak terhadap pengeluaran. Harga BBM tersebut yang relatif tinggi membuat Narendra harus kembali mempertimbangkan biaya operasional Mitsubishi Pajero Sport miliknya.
Per September 2026, Dexlite dijual dengan harga Rp23.700 per liter.
Dengan harga tersebut, biaya pengisian bahan bakar menjadi salah satu pertimbangan bagi pemilik kendaraan diesel.
Narendra mengatakan, Pajero Sport miliknya sebenarnya masih memungkinkan menggunakan Biosolar. Secara administrasi, kendaraan tersebut juga telah memenuhi ketentuan untuk mendapatkan BBM bersubsidi melalui sistem barcode.
Namun, persoalan pada filter solar masih menjadi kendala yang perlu dicari solusinya.
Narendra mengaku ingin kembali menggunakan Biosolar dengan tetap memastikan kondisi kendaraan aman dan tidak mengalami gangguan.
"Untuk saat ini sih, untuk menyiasatinya, karena kan emang mobil kan bisa isi biosolar, terus secara barcode kan juga keluar, artinya kan memang boleh gitu ya. Namun, masalahnya sekarang adalah di filter solar yang sering nge-scan fault gitu, karena solarnya kotor. Jadi, sekarang lagi mau coba menyiasati, bagaimana nih caranya biar tetap bisa pakai biosolar tapi mobil aman," kata Narendra.
Pajero Sport Lebih Sering Terparkir di Garasi
Sementara itu, Defri Ibrahim, seorang wiraswasta yang menggunakan Mitsubishi Pajero Sport lansiran 2024, memilih cara berbeda untuk mengurangi pengeluaran BBM.
Defri kini lebih jarang menggunakan mobil diesel tersebut dan mengandalkan kendaraan bermesin bensin untuk kebutuhan sehari-hari.
Dia mengaku memang lebih menyukai sepeda motor untuk menunjang mobilitas. Alhasil, Pajero Sport miliknya lebih sering terparkir di garasi dan hanya digunakan untuk kebutuhan tertentu.
"Pada dasarnya, saya juga lebih suka naik motor. Jadi, memang sebenarnya dibilang Garage Queen ya iya juga sih. Tapi, memang kilometernya gondrong aja," ujar Defri.
Pajero Sport tersebut biasanya digunakan ketika Defri harus melakukan perjalanan ke luar kota atau menghadiri pertemuan tertentu.
"Kalau ke luar kota, baru kita pakai. Atau kalau harus bertemu sama orang-orang yang besar (jabatan tinggi)," kata Defri.
Pengalaman ketiga pemilik mobil diesel tersebut menunjukkan adanya berbagai cara yang dipilih untuk menyiasati kenaikan biaya bahan bakar, sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Mulai dari mengoptimalkan transportasi umum, mempertimbangkan jenis BBM yang digunakan, hingga membatasi penggunaan mobil diesel untuk perjalanan tertentu.
Bagi pemilik mobil diesel, penghematan tidak selalu dilakukan melalui perubahan teknis pada kendaraan. Pengaturan pola penggunaan kendaraan dan pemilihan moda transportasi yang sesuai dengan kebutuhan juga menjadi alternatif untuk menekan biaya operasional.