JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengakui pasokan listrik memiliki peran penting dalam menjaga produksi minyak di Wilayah Kerja Rokan, Riau. Perseroan kini mempercepat pengoperasian kembali pembangkit listrik di Duri yang tengah menjalani proses perbaikan.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan perbaikan mekanikal pada pembangkit tersebut telah selesai dilakukan. Saat ini, proses selanjutnya tinggal menunggu tahap pengoperasian atau start-up.
"Sampai saat ini alhamdulillah proses perbaikan mekanikal sudah selesai, mudah-mudahan kita bisa segera start-up," kata Oki dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Pembangkit yang dimaksud adalah PLTG North Duri Cogeneration yang dioperasikan PT PLN Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN), anak usaha PLN yang memasok kebutuhan listrik dan uap bagi Wilayah Kerja Rokan.
Menurut Oki, ketersediaan listrik menjadi faktor penting, terutama untuk mendukung produksi minyak berat atau heavy oil di Rokan. Produksi minyak jenis tersebut dilakukan menggunakan metode thermal oil recovery yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.
Karena itu, Pertamina turut mendukung upaya percepatan pengoperasian kembali pembangkit tersebut. Langkah tersebut dilakukan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi serta SKK Migas.
Pertamina juga telah berkoordinasi dengan PLN terkait kebutuhan konverter untuk mendukung pengoperasian pembangkit. Oki meminta dukungan DPR agar proses pemulihan dapat segera diselesaikan.
Selain mempercepat perbaikan pembangkit, Pertamina juga menyiapkan langkah cadangan apabila pasokan listrik masih belum mencukupi. Tambahan kapasitas pembangkitan dapat disediakan melalui subholding Power & New Renewable Energy.
" Kita full support untuk meningkatkan listrik karena listrik adalah kunci dari produksi heavy oil di Rokan, kuncinya di daerah Duri," ujar Oki.
Produksi Turun 18 Ribu Barel per Hari
Gangguan terhadap pasokan energi tersebut turut berdampak terhadap produksi minyak di Blok Rokan.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut produksi minyak Pertamina Hulu Rokan pada tahun lalu mencapai sekitar 151 ribu barel per hari. Sementara realisasi produksi tahun ini tercatat sekitar 133 ribu barel per hari.
Dengan demikian, produksi minyak Blok Rokan mengalami penurunan sekitar 18 ribu barel per hari dibandingkan capaian sebelumnya.
Djoko mengatakan, penurunan produksi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah gangguan, termasuk kendala pada pembangkit listrik MCTN serta kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).
Pipa gas ruas Grissik–Duri yang memasok gas ke pembangkit tersebut dilaporkan mengalami gangguan hingga dua kali pada Januari. Kondisi itu menyebabkan hilangnya pasokan gas sekitar 200 juta kaki kubik per hari atau 200 MMSCFD.
"Realisasi baru 133 ribu, tadi karena kasus pipa TGI dan juga MCTN yang sampai hari ini belum selesai dilakukan perbaikan," kata Djoko.
Blok Rokan sendiri menjadi salah satu tulang punggung produksi minyak nasional. Pertamina menyebut sejak 2021 kontribusi produksi minyak mentah perseroan secara konsisten mencapai lebih dari 65 persen dari total produksi nasional, dengan Blok Rokan menjadi salah satu penyumbang utama.
Pemulihan operasional PLTG North Duri Cogeneration diharapkan dapat memperkuat kembali pasokan listrik untuk mendukung kegiatan produksi, khususnya minyak berat di kawasan Duri, sehingga produksi minyak di Wilayah Kerja Rokan dapat kembali ditingkatkan.