JAKARTA - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp373 miliar. Capaian ini menjadi perhatian investor karena menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah tekanan produksi musiman dan fluktuasi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia pada 13 Mei 2026, pendapatan AALI tumbuh 6,8 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp7,5 triliun. Laba operasional bahkan melonjak 51,9 persen YoY menjadi Rp725 miliar.
Meski margin laba kotor turun menjadi 15,5 persen dari sebelumnya 20,9 persen akibat kenaikan biaya produksi, laba bersih perusahaan tetap tumbuh 34,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tekanan produksi masih membayangi kinerja perusahaan pada awal tahun ini. Produksi tandan buah segar (FFB) tercatat turun 4,5 persen YoY menjadi 835 ribu ton akibat faktor musiman. Produksi CPO juga melemah 4,1 persen YoY menjadi 259 ribu ton.
Namun demikian, tingkat ekstraksi minyak atau oil extraction rate (OER) meningkat menjadi 19,5 persen. Kondisi ini dinilai mencerminkan efisiensi operasional yang tetap terjaga meski perusahaan menghadapi tantangan usia tanaman sawit yang semakin tua.
Stabilnya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) CPO turut menjadi penopang kinerja AALI. Pada kuartal I 2026, ASP CPO perusahaan tercatat sebesar Rp14.556 per ton atau naik tipis 0,2 persen YoY.
Analis menilai stabilitas harga tersebut didukung pelemahan rupiah serta meningkatnya permintaan domestik seiring transisi program biodiesel Indonesia dari B40 menuju B50.
Di sisi lain, harga CPO Malaysia justru turun 11,4 persen YoY menjadi RM4.174 per ton. Penurunan ini dipicu tingginya persediaan CPO Malaysia yang sempat melampaui 3 juta ton pada akhir 2025.
Ciptadana Sekuritas Asia tetap mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham AALI dengan target harga Rp11.600 per saham, sedikit turun dari proyeksi sebelumnya Rp11.700 per saham.
Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 43,7 persen dibanding harga saham terakhir AALI di level Rp8.075 per saham.
Analis menilai peluang rerating valuasi masih terbuka seiring ekspektasi pemulihan produksi pada semester II 2026 dan normalisasi cuaca.
Namun, investor asing masih mencermati dampak keluarnya AALI dari indeks MSCI Small Cap yang dinilai berpotensi memengaruhi arus dana asing ke saham perseroan.
Selain itu, program replanting atau peremajaan kebun juga menjadi perhatian penting. Saat ini sekitar 42 persen pohon sawit AALI telah berusia di atas 19 tahun sehingga keberhasilan program peremajaan dinilai akan menentukan pertumbuhan produksi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
“Kinerja AALI pada kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba yang masih solid meski produksi sawit mengalami tekanan musiman,” tulis riset Ciptadana Sekuritas Asia.
Ke depan, investor diperkirakan akan terus memantau pemulihan produksi pada semester II 2026, pergerakan harga CPO global, implementasi biodiesel B50, hingga efektivitas program replanting dalam menjaga produktivitas perusahaan.