INHU - Di sebuah desa kecil yang terpencil di wilayah Kecamatan Kelayang Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, sinyal ponsel tidak selalu tersedia.
Di sinilah Sertu Ahmad Chaekal Musthofa, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 04 Pasir Penyu, Kodim 0302/Inhu, mengabdi setiap hari. Meski berada di lokasi yang tergolong sulit akses komunikasi, ia tak menyerah dalam menjawab tantangan digital.
Sudah lebih dari 15 tahun, Chaekal setia menggunakan layanan dari Telkomsel bukan semata karena loyalitas, melainkan karena pengalaman pribadi yang menunjukkan bahwa Telkomsel adalah satu-satunya operator yang masih bisa "ditangkap" sinyalnya di wilayah tersebut.
"Dulu saya pakai waktu masih dinas di kota. Tapi begitu pindah ke desa binaan, ternyata Telkomsel masih bisa dipakai, walau kadang harus naik ke atas bukit atau dekat sawah," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Namun, siapa sangka, di tengah keterbatasan sinyal, ia masih bisa merasakan manfaat dari berbagai layanan digital yang ditawarkan oleh Telkomsel. Inilah caranya bertahan dan tetap terhubung di tengah keterbatasan teknologi—sebuah cerita nyata tentang adaptasi dan pemanfaatan layanan digital secara cerdas.
Sertu Chaekal sudah hafal betul di mana sinyal bisa muncul.
"Biasanya saya ke pojok lapangan bola atau naik ke batu besar dekat pos. Di sana, sinyal Telkomsel bisa muncul, walau cuma dua bar," katanya.
Di titik itu pula, ia mengunduh film, video edukasi, dan memperbarui aplikasi di ponselnya.

Gunakan Paket Digital Lifestyle Telkomsel Secara Maksimal
Ketika berada di lokasi yang sinyalnya stabil, misalnya saat ke kecamatan, ia memanfaatkan waktu untuk menikmati berbagai layanan digital lifestyle Telkomsel. Dari menonton film di YouTube Premium dan Disney+ Hotstar, hingga mengakses Prime Video dan VIU.
"Kalau sempat, saya nonton serial di WeTV juga," ujarnya.
Selain itu, ia kerap membelikan keponakannya voucher game seperti Diamond Mobile Legends atau Free Fire sebagai hadiah.
Layanan Telkomsel juga mencakup akses musik (LangitMusik, Noice), edukasi (OWDI, Ilmupedia Tryout, Perplexity Pro), hingga keamanan digital seperti Norton Mobile Security dan ProtekSi Kecil.
"Sekarang saya juga pasang aplikasi keamanan dari Telkomsel biar HP aman. Soalnya sering saya pakai buat buka file penting dari satuan juga," tambahnya.
Belajar dan Hiburan di Tengah Tugas Negara
Tak hanya untuk dirinya, Chaekal melihat manfaat besar layanan ini bagi warga desa. Anak-anak mulai belajar lewat aplikasi, remaja mengenal cara belanja online melalui Gopay dan Zalora, dan ibu-ibu rumah tangga mulai tertarik belajar hidup sehat melalui Fita.
"Cuma ya itu, kalau sinyal naik-turun, mereka kesulitan. Banyak juga yang tanya saya, gimana caranya biar bisa stabil," ujarnya.
Bagi Sertu Chaekal, jaringan bukan sekadar untuk hiburan atau komunikasi. Ia melihatnya sebagai jembatan untuk membuka wawasan masyarakat desa. Ia berharap Telkomsel atau pemerintah bisa meningkatkan kualitas jaringan di wilayah terpencil seperti desa binaannya.
"Biar kami juga bisa nikmati layanan digital sepenuhnya. Jangan cuma kota yang dapat kemudahan," ucapnya lugas.
Kisah Sertu Ahmad Chaekal Musthofa menunjukkan bahwa keterbatasan tak harus jadi penghalang. Dengan kreativitas, adaptasi, dan memanfaatkan layanan yang ada secara maksimal, ia tetap bisa menjalankan tugas sekaligus menjaga konektivitas di era digital.
Telkomsel, sebagai penyedia layanan, telah menyediakan ekosistem digital yang luas. Namun, tantangan selanjutnya adalah menjangkau desa-desa seperti tempat Chaekal mengabdi—agar kemajuan digital tak hanya jadi milik kota, tapi juga harapan nyata di pelosok negeri.
Penulis: Diana Sari