www.halloriau.com
14:00 - Kecelakaan Maut Terjadi Lagi di Tol Pekanbaru-Dumai, 5 Orang Tewas 2 Luka Berat | 13:28 - Riau Akan Distribusikan 15.240 Vaksin Covid-19 untuk 3 Daerah Ini | 12:32 - Abaikan Prokes Covid-19, Kerumunan Warga Penerima BLT Dibubarkan | 18:21 - Kadiskes Riau: Rapid Test Antigen Swab Syarat Perjalanan Keluar Daerah | 18:21 - Penahanan Yan Prana, Kejati Beralasan Tersangka Menghilangkan Barang Bukti | 16:00 - Setdaprov Riau, Yan Prana Jaya ditahan Jaksa Penyidik Pidsus Kejati Riau
 
Kisah Ramin dan Cacing-cacingnya di Tengah Pandemi Covid-19
Senin, 12 Oktober 2020 - 19:42:35 WIB
Tim Pertamina EP Asset 1 Lirik Field (PEP Lirik Field) memberikan pelatihan reaktor cacing kepada para kelompok tani berkat usaha Kelurahan Ukui, Kecamatan Ukui.
Tim Pertamina EP Asset 1 Lirik Field (PEP Lirik Field) memberikan pelatihan reaktor cacing kepada para kelompok tani berkat usaha Kelurahan Ukui, Kecamatan Ukui.

Oleh: Andy Indrayanto


JARI-jemari Adi (40) begitu lincah mengais tanah hitam yang berisi cacing. Tak ada raut wajah gugup atau jijik menghias mukanya. Sepertinya, dia sudah terbiasa melakukan hal itu. Sejurus kemudian, ratusan cacing yang saling berkelindan satu sama lain itu sudah berada di kedua telapak tangannya.

"Tiap tiga bulan sekali, cacing-cacing itu kami jadikan pakan ternak ayam yang kami pelihara. Sementara tanahnya kita jadikan pupuk alam," kata Ketua Kelompok Tani Berkat Usaha (KTBU), Ramin Sunarto (51), pada penulis saat menyambangi kediamannya di Dusun Ampel Gading, Kelurahan Ukui, Kecamatan Ukui, beberapa waktu lalu.


Tak jauh dari Ramin berdiri, ada sepuluh kurungan yang terbuat dari bilah bambu, tegak merapat satu sama lain. Diikat erat tali, tabung kayu berisi ribuan cacing itulah yang disebut reactor cacing. Dengan tabung reactor cacing itulah, Ramin dan kelompoknya menjalankan program budidaya cacing dengan menggunakan tehnik vertikultur, pasca hijrah usaha dari petani sawit dan karet.

Sedari awal, tak pernah terbersit dalam benak Ramin jika nanti diusia setengah abad dia akan banting setir menjadi peternak budidaya cacing. Pasalnya, turun temurun sejak mengikuti kedua orangtuanya yang transmigrasi ke Inhu, sampai dia merantau ke Ukui kala ada program penambahan penduduk di tahun 1995, hanya soal sawit, karet dan kehidupan pertanian yang dia kuasai. Jadi jika kini dia beralih menjadi peternak budidaya cacing dengan teknik vertikultur (reactor cacing), bukan tanpa alasan.

Awal perkenalan Ramin dan KTBU-nya dengan budidaya cacing memakai tehnik vertikultur, sebenarnya tak sengaja. Dia dan kelompoknya sebelumnya memang sudah memelihara cacing namun menggunakan tehnik sederhana yakni memakai rak-rak saja yang disusun agar cacing berkembang biak. Mulanya cacing peliharaan Ramin berkembang karena saat panen akan ada pengepul dari Pekanbaru yang membeli cacingnya dengan harga 100 ribu per kilo. Sempat sumringah Ramin saat itu, dan makin bulat tekadnya untuk hijrah usaha memelihara cacing.

Namun tiba-tiba saja, badai Covid-19 yang kian hari kian melonjak intensitasnya hingga menjadi pandemi dan memporak pondakan ekonomi di segala lini, berdampak limbungnya usaha memelihara cacing yang baru dirintis oleh Ramin dan KTBU-nya. Luluh lantak segala impian dan harapan Ramin dan kelompoknya, karena pengepul yang di Pekanbaru tidak menerima cacing lagi dari peternak akibat adanya Covid-19.

"Bagaimana pengepul itu mau mangambil cacing kami, kalau mereka sendiri juga tak bisa lagi ekspor cacing dikarenakan Covid ini. Sempat bingung saya waktu itu, Bang, bahkan hampir putus asa. Tapi untungnya, di saat seperti itu datang tawaran dari tim CSR Pertamina Field Lirik menawarkan program budidaya cacing dengan teknik vertikultur atau reaktor cacing untuk menambah kesuburan tanah," Mata Ramin nampak berbinar saat bercerita soal itu.

Baginya, tawaran dari Pertamina EP Field Lirik itu membuat semangatnya kembali bangkit. Betapa tidak, ketika semangat Ramin nyaris berada di titik kulminasi terendah justru malah datang tawaran budidaya cacing dengan tehnik yang baru didengar Ramin.

"Kalau peribahasa, ini seperti pucuk dicinta ulam tiba," tawa Ramin kini lepas saat menceritakan tawaran itu datang. Tanpa pikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu. Apalagi setelah diberi penjelasan lebih lanjut, ternyata budidaya cacing dengan menggunakan tehnik vertikultur ini bisa dimanfaatkan juga dalam pertanian.

"Dampak dari tanah tempat berdiamnya cacing yang akan dikembangkan nanti, bisa menyuburkan pertanian karena kotorannya bisa dipakai sebagai kompos dan pupuk alam. Jadi saya pikir nyambung dengan latar belakang saya sebelumnya," ujar laki-laki yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

Kisah keberhasilan Ramin pun dimulai di pertengahan tahun 2019 di bulan Juni, saat Ramin beserta kelompoknya mulai mengikuti pelatihan yang digelar Pertamina EP Field Lirik. Berbagai inovasi dan inovatif untuk kesuburan tanah dari reactor cacing mulai tergambar dalam benak Ramin. Penjelasan dan pemaparan dari mentor Puji Heru Sulistiyono, pencipta sekaligus pemilik hak paten reactor cacing yang sengaja didatangkan tim CSR Pertamina EP Field Lirik dari Yogyakarta, makin melecut semangat Ramin untuk mempraktekkan ilmu yang didapat itu.

"Jadi kata Pak Heru, semua sampah bisa dimasukkan dalam reaktor tanpa harus dicacah atau dibelah bahkan jika ada kandungan plastik pun tidak masalah soalnya kandungan kimia dan berbagai kotoran bisa terurai oleh cacing dan mikroorganisme lain," kata Ramin mengutip kembali ucapan sang mentor Puji.

Dalam pelatihan selama dua minggu itu, Ramin diajarkan semuanya oleh pencipta reaktor cacing asal Yogyakarta itu. Reaktor cacing yang diajarkan oleh Puji hakekatnya berfungsi sebagai sarana mengolah sampah, baik organik dan anorganik. Meski terbilang sederhana namun inovasi yang dibuat oleh Puji sangat diperlukan oleh Ramin.

"Selain bisa menyelesaikan masalah sampah, juga pupuk alam yang dihasilkan dari reactor cacing mampu menambah kesuburan tanah," kata laki-laki yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

"Kami dilatih detil cara membuat reaktor cacing dari bilah bambu. Dimana bilah bambu yang berisi tanah tempat cacing-cacing itu berdiam, tingginya 90 cm atau 1 meter. Bilah bambu yang dibentuk melingkar atau tabung itu lalu diikat dengan tali yang erat, ditopang oleh empat bambu yang tingginya 2 meter. Bahan makanan cacing kita masukkan dari atas. Sedangkan ruang kosong di bawah tabung bambu setinggi 50 cm adalah untuk memanen cacing dan tanah kascing atau kompos yang berasal dari kotoran cacing," kata laki-laki yang menikah di tahun 1989 ini.

Ramin atau kelompoknya secara bergantian akan melakukan penyiraman ke dalam reaktor itu tiap 2 hari sekali. Penyiraman ini dilakukan untuk menjaga kelembaban di dalam reaktor cacing. Dalam 45 hari, Ramin baru memanen cacing yang dibudidayakan itu. Sebagian cacing, dia gunakan untuk pakan ternak ayam yang dipelihara sementara kotorannya dipakai sebagai pupuk alam. Tanaman buah naga yang ditanam Ramin di lahan seluas 2 hektar itu menjadi bukti keberhasilan pupuk alam dari budidaya cacing yang dikelola dia dan kelompoknya.

"Alhamdulillah, tanaman buah Naga dan tanaman lainnya, kita gunakan pupuk alam dari kotoran cacing ini, dan semua tanaman tumbuh subur," raut muka Ramin begitu riang saat menunjukkan hasil berupa tanaman buah naga yang ditanam dia dan kelompoknya di lahan seluas 2 hektar, yang jaraknya kurang lebih 1 kilo dari kediaman Ramin.


Kisah Ramin beserta kelompoknya terus bergulir. Keberhasilan mereka dalam mengembangkan budidaya cacing dengan tehnik vertikultur itu, kembali menarik perhatian Pertamina EP Field Lirik sebagai mitra bina mereka. Kelompok Ramin kembali ditawari usaha untuk mengembangkan inovasi dari produk reaktor cacing yang menghasilkan pupuk alam itu.

Masih berada di Dusun Ampel Gading, Kelurahan Ukui, di hamparan lahan seluas 2 hektar yang terletak di sebuah perbukitan yang cukup jauh dari rumah penduduk, di sanalah kelompok Berkat Tani Usaha yang diketuainya menerjemahkan kelanjutan harapan dan mimpi-mimpi mereka. Lahan bekas kebun karet miliknya itu disulapnya menjadi lahan berisi tanaman buah naga dan ternak ayam. Di sana-sini masih tersisa dahan pohon-pohon karet, sisa ditumbang. Lokasinya di perbukitan yang harus menanjak di tengah hari, membuat peluh penulis berjatuhan, saat menuju ke lokasi.

Di lahan seluas 2 hektar yang dikelilingi jaring pengaman setinggi 1,5 meter itu, berdiri dua pondok sederhana terbuat dari triplek. Satu pondok untuk tempat Ramin melepas lelah dan satu pondok lagi berupa kandang ayam, tempat ayam-ayam Ramin dan kelompoknya beristirahat jika matahari bergeser ke langit barat. Di depan pondok Ramin melepas lelah dari sengatan matahari dan hujan, ada plang tertulis nama kelompok Ramin dengan huruf kapital, persis di bawah logo Pertamina EP. Begini bunyinya:

KELOMPOK BERKAT TANI USAHA
Menyediakan:
Reaktor Cacing
Cacing Merah (Pheretima)
Pupuk Kascing (Vermikompos)

"Saya banyak menghabiskan waktu di sini, Mas, dari mulai pagi sampai malam bahkan terkadang menginap di pondok. Kalau ada perlu saja, saya baru pulang. Memberi pupuk, memberi makan ayam dan memasukkannya ke kandang jika sore," kata Ramin.

Ada senyum kepuasan terpancar di wajahnya melihat pengembangan inovasi dari budidaya cacing dengan reactor cacing yang dikelolanya sudah menunjukkan hasil yang nyata. Meski belum mengalami panen raya tanaman buah naga, namun setiap bulannya dia sudah bisa memanen buah naga dari hasil pengembangan budaya cacing yang digelutinya.

Tak hanya itu, Ramin juga kini sudah didaulat untuk memberikan ilmu budidaya cacing dengan tehnik vertikultur itu pada dua kelompok petani di dua desa di Indragiri Hulu yakni Desa Candirejo dan Rejosari. Sudah satu bulan dia membina kedua kelompok itu. Terselip bangga dan haru di dada laki-laki berperawakan tegap ini karena dinilai berhasil oleh Pertamina EP Field Lirik dalam mengembangkan budidaya cacing dengan tehnik vertikultur, sehingga diharapkan bisa menularkan keberhasilannya pada dua kelompok petani di Inhu itu.

"Saya bersyukur jika dinilai berhasil, karena yang terpenting bagi saya adalah bisa bertanggungjawab atas apa yang diberikan oleh Pertamina EP Lirik," kata Ramin merendah, namun tak urung suaranya bergetar saat berbicara barusan.

Lirik Legal & Relations Asisstent Pertamina EP Field Lirik, Turjasari, menjelaskan bahwa program budidaya cacing dengan teknik vertikultur (reactor cacing) yang berada di Dusun Ampel Gading, Kecamatan Ukui, Pelalawan ini merupakan yang pertama di Pulau Sumatera. Ini artinya, keberhasilan yang mulai ditapaki oleh Ramin diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Turja menjelaskan bahwa selaku ketua Kelompok Tani Berkat Usaha (KTBU), Ramin menjadi salah satu individu yang teridentifikasi memiliki potensi besar untuk dikembangkan berdasar kegiatan Social Mapping di tahun 2018. Social mapping adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh perusahaan setiap 4 tahun sekali untuk memetakan potensi masyarakat sekitar wilayah produksi, sekaligus menjadi dasar bagi pelaksanaan progam-program pemberdayaan masyarakat.

"Apalagi Kecamatan Ukui tempat bermukim Pak Ramin merupakan wilayah yang termasuk dalam Ring I perusahaan, tepatnya berada di sekitar distrik 2 Pertamina EP Asset 1 Lirik Field," katanya.

Dia mengatakan bahwa sebelum melaksanakan progam budidaya cacing, perusahaan sebelumnya juga telah mendukung program di bidang perikanan yang dilaksanakan oleh individu lain. Kegiatan perikanan itu dipilih karena Kecamatan Ukui merupakan kecamatan di Kabupaten Pelalawan yang komoditas utamanya merupakan hasil perikanan, sehingga diharapkan program pemberdayaan dapat bersinergi dengan program dari pemerintah setempat.

"Tapi sayangnya, progress kelompok dan permasalahan secara kelembagaan yang menyebabkan program tersebut tidak berjalan dengan baik hingga dukungan terhadap kelompok perikanan tidak diteruskan," tandasnya.

Kemudian kehadiran kelompok Ramin dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang karena KTBU ini merupakan kelompok tani yang masih aktif secara kelembagaan dan kegiatan produksi. Input kegiatan yang telah dilaksanakan oleh KTBU antara lain memenangkan lomba okulasi tanaman karet, juga beberapa kali mengikuti kegiatan studi banding ke kelompok tani di berbagai daerah lain, serta menjadi salah satu yang mendapat bantuan stimulan sarana produksi (saprotan) budidaya karet dari Dinas Perkebunan Kabupaten Pelalawan.

"Dalam prosesnya, kita dari perusahaan bermitra dengan Lembaga Pendidikan Pelatihan Penelitian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (L4PLH) untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Dari serangkaian diskusi dan pemetaan ide bersama anggota KTBU, kemudian dipilih program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya cacing dengan teknik vertikultur," ujarnya.

Lanjut Turja, ada dua alasan utama kenapa program budidaya cacing ini yang dipilih. Pertama, adanya limbah sawit dan kotoran hewan yang jumlahnya cukup banyak dan belum termanfaatkan di daerah tersebut. Dan kedua, metode budidaya sejenis yang masih jarang dilaksanakan, bahkan saat ini menjadi program budidaya cacing dengan teknik vertikultur (reactor cacing) pertama yang dilaksanakan di Pulau Sumatera.

Dia berharap di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan memberikan dampak negatif di berbagai lini ekonomi ini tak terkecuali sektor pertanian, tidak menyurutkan semangat kelompok tani Berkat Usaha yang dipimpin Ramin untuk tetap berkarya dan berinovasi.

"Kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian perusahaan dalam upaya pengembangan masyarakat agar para petani dapat lebih berdaya secara ekonomi. Dan semoga kondisi pandemi ini dapat segera berlalu sehingga aktivitas mitra binaan dapat kembali normal," katanya.

Dalam skala kecil, program CSR yang dilakukan oleh perusahaan pada masyarakat tempatan yang berada di ring satu perusahaan adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Namun dalam tataran yang lebih tinggi lagi, apa yang dilakukan Pertamina EP Field Lirik ini adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban pada bangsa dan negara.

Ia berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangan pula faktor lingkungan hidup sekitarnya. Artinya, dunia usaha kini tak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line) melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan atau biasa disebut triple bottom line. Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Jika diibaratkan perusahaan adalah manusia maka perusahaan terdiri dari dua unsur utama yakni tubuh dan jiwa. Begitu pula Pertamina EP Field Lirik. Bagi anak perusahaan PT Pertamina sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah pengawasan SKK Migas ini, tubuh perusahaan adalah bisnis yang memang harus dijalankan sementara jiwanya adalah kegiatan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) pada masyarakat tempatan.

Keberhasilan program budidaya cacing dengan tehnik vertikultur yang diberikan Pertamina EP Field Lirik pada Ramin, menunjukkan pemberdayaan masyarakat yang merupakan sebuah investasi bagi anak perusahaan PT Pertamina itu sendiri, dalam hal ini Pertamina EP Field Lirik. Dan kini, simpati dari investasi CSR itu tampaknya telah menuai hasil. Pembinaan yang dilakukan Ramin di dua desa di Kabupaten Inhu bukan tak mungkin akan menciptakan kisah-kisah Ramin lain di tengah pandemi Covid-19, yang entah kapan akan berakhir ini. Semoga!***

 


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
Manager Plasma PT IIS saat memberikan paparan terkait pemanfaatan lahan pekarangan di Kantor Plasma PT IIS Desa Bukit Agung Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak.Asian Agri Ajak Masyarakat untuk Kreatif di Tengah Pendemi Covid-19
Ikan Sarden merek FamerJack ditarik dari peredaran di Meranti.Hasil Uji Labor BBPOM Riau: Ikan Sarden Kalengan Farmerjack Positif Mengandung Cacing Gilig
  Kepala DP3AP2KB Provinsi Riau, Tengku Hidayati Elfiza Pandemi Covid-19, Tingkat Kekerasan Terhadap Perampuan dan Anak di Riau Turun

BERITA LAINNYA    
IlustrasiDalam 3 Hari Polisi Ciduk Pelaku Judi Togel di Kabupaten Pelalawan
Foto bersama.Lurah dan TNI Polri Gabung Bersihkan Gundukan Sampah di Rumpes
Ketua KPU Dumai Darwis (kanan) tengah berbincang dengan Plh Walikota Dumai Herdi Salioso dan Kapolres Dumai AKBP Andri Ananta Yudisthira usai coffe morning baru-baru ini.KPU Tetapkan Pemenang Pilkada Dumai 20 Januari
  Kegiatan donor darah IKA 4968 di Mal SKA. IKA 4968 Gelar Acara Donor Darah di Mal SKA
Ilustrasi penerimaan PPPK tahun 2021 (foto int)Tak Ada Anggaran, Pemkab Kepulauan Meranti Terpaksa Batalkan Perekrutan PPPK 2021
IlustrasiDinas Pendidikan Riau Dilema soal Sekolah Tatap Muka
Komentar Anda :

 
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2021 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved