www.halloriau.com
Ekonomi
BREAKING NEWS :
Benarkah Lorenzo Jadi Test Rider MotoGP Aprilia?
 
Merajut Harapan yang Koyak Bersama Rotte Foundation
Selasa, 29 September 2020 - 11:45:29 WIB
Rotte Foundation kembali menyalurkan bantuan Program Ekonomi kepada salah seorang warga Tangkerang, Pekanbaru.
Rotte Foundation kembali menyalurkan bantuan Program Ekonomi kepada salah seorang warga Tangkerang, Pekanbaru.

Kiranya September Ceria yang didengungkan selama ini tak selamanya menunaikan janjinya. Bukan saja pandemi Covid-19 yang masih enggan pergi, cuaca belakangan juga tak semesra dulu lagi.

Adakala di tengah sengat mentari mendadak gulita menyapa lalu air langit seperti jutaaan anak panah yang menghujam bumi. Senin siang menyapa kawasan Bukit Barisan. Tengah hari begitu hawa lembab, namun udara gerah dari biasa. Lalulalang pengguna lebuh raya lengang. Padahal permulaan pekan.

Zona merah yang kembali singgah di Kota Bertuah sepertinya membuat warga berpikir ulang untuk keluar, meski sekedar urusan kantoran ataupun mencari makan. Dari lantai tiga Rotte Foundation, pandangan dilayangkan ke angkasa. Langit membiru awan bertali.

Hanya dalam hitungan detik, langit itu berubah kelabu lalu mengirim gerimis tipis-tipis. Namun tak dalam perlu dalam hitungan jam, langit kembali berwajah cerah.

Seorang perempuan paruh baya bersama seorang kawannya menyambangi Rotte Foundation siang itu. Suprihatin (61) menuturkan, sebelum mendapatkan bantuan modal dari Program Ekonomi Rotte Foundation, ia mengaku dibalut gamang. Usaha warung harian miliknya di Jalan Bunga Raya, RT003/RW006, Kelurahan Tangkerang Selatan, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru tengah dalam kondisi terpuruk.

Padahal, dari warung berukuran 3 x 2,5 meter ibu dua anak ini merengguk rezeki guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, kondisi yang dialami usaha warung harian Suprihatin amat klasik.

Tak lain lantaran dirinya kesulitan mengakses modal. Kekurangan modal memang menjadi masalah umum pedagang kecil seperti Suprihatin. Mereka dianggap tidak mumpuni sehingga tidak dapat mengakses modal.

"Apalagi sejak suami pindah cari kerja ke Koto Gasib Siak, buat nambah modal jualan susah," ujarnya terbata. Keadaan warung harian Suprihatin justru benar-benar memprihatinkan.

Imbas corona harga jual beli tak bisa diraba menjadi pemantik kesekian kali yang membuat usaha warungnya nyaris tinggal nama. Sementara buat bersaing dengan minimarket jelas bukan tandingannya. Usaha warung harian itu kian nelangsa.

Sejak setahun terakhir sang suami tercinta terpaksa mencari kerja ke kawasan Koto Gasib, Siak. Jarak antara 'ladang rezeki baru' itu dengan Pekanbaru lebih kurang 60 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit perjalanan darat.

"Sebelumnya bapak bekerja di Jalan Garuda Sakti, namun karena tak ada lagi rezeki disana, cari kerjalah ke Koto Gasib Siak," tambahnya sembari sesekali menarik masker, kadang menarik ujung jilbab berwarna merah muda yang dipakainya.

Di perantauan baru itu, rezeki sang suami hingga saat ini tak jua menampakkan titik cerah. Konon, ia berani 'banting stir' dari pekerja bangunan di Garuda Sakti, lalu menjajal diri sebagai pekerja kebun disana berharap ada seberkas sinar bakal menerangi kehidupan keluarganya.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Satu purnama pun kini berlari tanpa permisi. Sang suami belum bisa pulang dari mengais rezeki, karena upah yang dijanjikan tak jua jatuh dalam pelukan. Maka, saat menjadi penerima manfaat Program Ekonomi Rotte Foundation, Suprihatin amat bersyukur.

Warung hariannya bakal kembali berdegup dan berisi berbagai dagangan, melalui Program Ekonomi Rotte Foundation yang dikembangkan berbasis akad dana kebajikan (Qardhul Hasan), Suprihatin mendapatkan pinjaman modal usaha.

Di bagian lain, tepatnya di kawasan Simpang Tiga. Zaspi (51), salah seorang sopir oplet di Pekanbaru. Sehari-hari ayah tiga anak ini tak ubahnya seperti mengukur setiap inci sisi kota ini. Berharap, banyak penumpang yang menaiki opletnya.

Tapi itu tadi, zona merah telah membuat warga berpikir seribu kali jika hendak keluar. Bukan saja soal jaga jarak, soal memakai masker, pembatasan sosial, namun beberapa sentra belanja ataupun sektor usaha, instansi pemerintah ataupun swasta belum membuka layanan purna seperti biasa.

Apalagi dunia pendidikan, anak sekolah masih belajar dari rumah. Padahal, bukan tak mungkin para siswa berseragam itu yang girang bukan kepalang menaiki opletnya. Selimut kecemasan memagutnya tanpa ampun, kala ketiga anaknya masih mencecap usia sekolah.

Zaspi sadar betul, pendidikan salahsatu pintu utama membuka cakrawala dunia. Apalagi kini, ketiga anak itu tumbuh kembang dalam ketiadaan belaian kasih sayang sang ibu. Sang Pencipta menjemput ibu ketiga anak itu terlebih dahulu beberapa waktu lalu. Dengan adanya Program Beasiswa Yatim dan Dhuafa Rotte Foundation, si sulung Ismail (16) yang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Tahfiz Quran Munawwarah, kembali sumringah.

Bantuan biaya pendidikan yang sudah diberikan Rotte Foundation kurun 1,5 tahun belakangan kiranya meringankan langkah Zaspi dalam mengantarkan ketiga anaknya menuju gerbang cita-cita.

"Terima kasih banyak dermawan Rotte Foundation," ujarnya menerawang. Boleh jadi, potret Suprihatin dan Zaspi mewakili jalan terjal jutaan warga lainnya yang menjalani hidup sebagai pedagang kecil, sopir oplet, wong cilik, dimana harapan mereka kerap tersandung diayun gelombang kehidupan.

Apalagi pandemi yang notabene tiada sinyal hendak pamit dari muka bumi. Nah, sebagai orang yang tergolong mampu apa yang dapat kita lakukan? Tentu kita juga dapat berbuat loh Sahabat/Dermawan Rotte.

Hal ini juga menjadi kepedulian kita bersama sebagai sesama manusia untuk saling bahu membahu. Apa yang dialami Suprihatin, Zaspi dan saudara kita yang kurang beruntung dalam hidupnya, menjadi perhatian Rotte Foundation.

Sebagai lembaga yang diamanahi masyarakat mendayagunakan dana infak, sedekah dan wakaf, Rotte Foundation wajib membantu dan memberdayakan para kaum dhuafa. Sekali lagi, karena memang membantu mereka yang kurang beruntung adalah bentuk kepedulian kita bersama. [rilis]


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
7 Ritel Matahari ditutup karena terus menerus alami kerugian.Tutup 7 Gerai karena Covid-19, Matahari Rugi Rp 616 Miliar
Gubernur Riau Syamsur.Realisasi Anggaran Pemulihan Ekonomi Riau Masih 0 Persen, Gubri Jelaskan Sebabnya...
PFpreneur Menciptakan UMKM unggul serta mendorong pemberdayaan perempuan di bidang kewirausahaanPFpreneur Menciptakan UMKM Unggul Perempuan Indonesia
  IlustrasiDi Kuartal IV 2021, Ekonom Prediksi Ekonomi RI akan Pulih Sepenuhnya
Presiden Joko Widodo atau Jokowi.Presiden Jokowi Beberkan Manfaat UU Cipta Kerja untuk Masyarakat
Rotte Foundation kembali menyalurkan bantuan Program Ekonomi kepada salah seorang warga Tangkerang, Pekanbaru.Merajut Harapan yang Koyak Bersama Rotte Foundation

 
Berita Lainnya :
  • Benarkah Lorenzo Jadi Test Rider MotoGP Aprilia?
  • Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, KLH Bersama TNI dan Masyarakat Bangun KBD di 5 Desa
  • Libur Panjang, Gubri Minta Pengelola Perketat Penerapan Prokes di Tempat Wisata
  • Jalur Alternatif Lewat Kuansing Belum Meningkat Meski Jalan Lintas Riau-Sumbar di Kampar Amblas
  • MU Semangat Lawan Arsenal Usai Pesta Gol di Liga Champions
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Potret Lensa
    Exit Meeting Pelaksanaan Audit BPKP
     
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2020 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved