www.halloriau.com
Ekonomi
BREAKING NEWS :
Dua Orang Warga Reaktif Saat Rapid Test Massal di Senapelan Pekanbaru
 
Ratusan Juta Data Pengguna E-Commerce Bocor, Pakar Sebut Indonesia harus Lebih Serius Lindungi Data Pribadi
Jumat, 15 Mei 2020 - 12:11:28 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA-Belum lama publik digegerkan dengan ramainya kabar bahwa ada lebih dari 91 juta data pengguna Tokopedia yang dicuri. Kasus ini pertama kali dibeberkan oleh akun Under The Breach yang mengklaim sebagai penyedia layanan pemantauan dan pencegahan kebocoran data dari Israel.

Selang beberapa hari, situs jual beli online Bukalapak yang ditenggarai turut diretas. Mulai dari email, nama pengguna, password, salt, last login, email Facebook dengan hash, alamat pengguna, tanggal ulang tahun, hingga nomor telepon ini dijual oleh dua akun peretas di forum yang sebelumnya menjadi tempat penjualan 91 juta pengguna Tokopedia. 

Pakar Digital, Anthony Leong mengatakan Indonesia harus lebih serius menangani hal ini.

"Indonesia menjadi negara sasaran serangan siber kedua terbesar di Asean saat ini setelah Vietnam karena transaksi di online naik 450-500% karena situasi pandemi. Kebanyakan kita masih cenderung acuh dengan potensi kejahatan yang diakibatkan dari kebocoran data pribadi seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, hingga alamat. Salah satu bahayanya adalah penipuan berbasis rekayasa sosial seperti dengan mengatasnamakan orang terdekat dengan informasi yang cukup detail. Manipulasi psikologis pengguna mereka maksimalkan," ujar Anthony Leong di Jakarta, Jumat (15/5/2020).

Menurut pengamatan Anthony, sekelompok peretas dengan nama ShinyHunters mengklaim memiliki data pengguna dari 10 perusahaan digital. Total data pengguna yang dihimpun mencapai 73,2 juta, di mana 1,2 juta di antaranya disebut merupakan data pengguna dari Bhinneka.com. Kelompok tersebut merupakan pelaku yang sama di balik peretasan data pengguna Tokopedia beberapa waktu lalu.

"Pada saat semua Work From Home dan intensitas penggunaan internet makin masif, maka perihal cyber security ini semakin rentan. Situasi kebocoran data Indonesia merupakan hal yang seharusnya ditanggapi dengan lebih serius oleh semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, kesadaran digital sudah cukup tinggi sehingga publik biasanya akan langsung menuntut. Mungkin harus ada sanksi dulu, yang bersangkutan di suspend sementara agar memperbaiki sistem mereka terlebih dahulu. Ini data yang sangat besar jangan sampai kita anggap remeh," tambahnya.

Pengusaha muda yang menjabat sebagai Ketua Hubungan Media Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini melanjutkan bahwa walaupun belum ada kabar mengenai data pembayaran seperti rekening bank dan kartu kredit yang bocor, Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk segera mengganti password dan melakukan pergantian setiap 3 bulan sekali.

"Kejadian ini dapat diambil sebagai pelajaran bagi Tokopedia dan Bukalapak, dan situs jual beli online dan e-commerce lainnya untuk lebih serius dalam menjaga data penggunanya. Masyarakat juga harus lebih peduli dan hati-hati terhadap dampak pencurian data pribadi seperti penipuan. Sebaiknya tidak menggunakan satu password untuk semua akun digital yang dimiliki. Karena situasi paceklik ekonomi imbas wabah Covid-19 membuat kriminalitas bertambah," kata Anthony.

Anthony mengatakan kasus-kasus penipuan dengan teknik rekayasa sosial dengan memanipulasi psikologis, dari masa ke masa caranya pun berubah.

"Periode 2013 hingga 2017, modus penipuan berbasis rekayasa sosial rata-rata menggunakan topik undian berhadiah, advance-fee scam, peretasan e-mail perusahaan, pemalsuan website, phising, dan "mama minta pulsa." Kalau 2018 berbeda lagi," katanya

Pada 2018, topik manipulasi psikologis mulai berkembang dengan meminta akses kode OTP untuk transaksi finansial para korban, dan meminta kode verifikasi penyedia jasa telekomunikasi melalui sms atau telepon. Sedangkan pada 2019, strateginya pun mulai berkembang dengan menghubungi pengguna pemilik dompet elektronik untuk mendapatkan OTP dengan kedok mendapatkan hadiah, atau modus penipuan dengan meminta kode verifikasi aplikasi olah pesan, hingga call forwarding.(rilis)

Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

BERITA TERKAIT    
 CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin berfoto bersama dengan Mitra Bukalapak seusai acara Peluncuran Produk Virtual Terbaru Mitra Bukalapak di Bandung, 8 Maret 2020.Integrasi Produk Virtual di Warung Seluruh Indonesia, Mitra Bukalapak Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Dialog Interaktif seputar ekonomi.CEO Bukalapak: Mahasiswa Jangan Cuma Mikir Jadi Pegawai
<font size="2">Siti Fauziah, Public Relations Executive Tokopedia. </font>Tokopedia Roadshow 2015 Sambangi Kota Pekanbaru
  Simbolisasi Kerja Sama Tokopedia - Ramayana.Kini Ramayana Department Store Hadir di Tokopedia
TokopediaKabar gembira!! Kini Pembayaran di Tokopedia Bisa Lewat Kantos Pos Lho
<font size="2">Rizki Auliadi.</font> Kisah Inspiratif di Balik Gantungan Kunci "Anti Begal"

 
Berita Lainnya :
  • Dua Orang Warga Reaktif Saat Rapid Test Massal di Senapelan Pekanbaru
  • 7 Titik Blankspot, Pemkab Kepulauan Meranti Ajukan Pembangunan BTS ke Kominfo
  • Sekdaprov Riau Kembali Diperiksa Kejati Terkait Mekanisme Anggaran di BKD
  • Walikota Pekanbaru Pimpin Penyemprotan Disinfektan dan Rapid Test Massal di Senapelan
  • Insentif Tenaga Kesehatan Baru Cair Rp500 Juta, Berasal dari APBD Provinsi Riau
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Potret Lensa
    Rotte Foundation Kunjungi Metro Riau Group
     
     
     
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2020 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved