www.halloriau.com
Home
BREAKING NEWS :
Hitung Cepat KPU, Sementara Prabowo Unggul di 18 Provinsi Jokowi 14 Plus Luar Negeri
 
Riau Pusat Kebudayaan Melayu di 2020
Rabu, 20/11/2013 - 12:00:51 WIB



Provinsi Riau menyatakan diri bertekad untuk menjadi pusat kebudayaan Melayu di Kawasan Asia Tenggara sekaligus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah ASEAN.

"Riau berhajat menjadi pusat pertumbuhan perekonomian dan kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara dan diharapkan terwujud paling lambat pada 2020," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, Said Syarifuddin, di Pekanbaru.

Ia mengatakan, tekad itu pada dasarnya telah ditunjang oleh letak Provinsi yang berjuluk Bumi Lancang Kuning itu yang sangat strategis dan berada dekat dengan negara-negara serumpun di Asia Tenggara.

Tak hanya dari sisi ekonomi, secara geografis, geoekonomi, dan geopolitik, provinsi Riau terletak di lokasi strategis, yaitu Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan regional dan internasional.

"Oleh karena itu kami menyadari harus dilakukan berbagai upaya strategis untuk merealisasikan cita-cita Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dan pusat pertumbuhan ekonomi baru," katanya.

Pihaknya menyatakan sedang terus melakukan penggalian, pengembangan, dan pengenalan seluruh potensi budaya dan pariwisata yang terkandung dalam "rahim" Riau kepada seluruh lapisan masyarakat.

"Publikasi dan sosialisasi melalui media massa dan sarana yang lain terus kami lakukan termasuk promosi dan publikasi secara online tentang potensi budaya Riau," katanya.

Dari sisi budaya, Riau dengan 12 kabupaten/kota masing-masing memiliki budaya berakar Melayu yang kental.

Misalnya Randai dan Festival Pacu Jalur di Kabupaten Kuansing, Riau juga memiliki Istana Siak, Bara'an di Pulau Bengkalis, Tari Zapin, hingga Ritual Bakar Tongkang.

"Kami sedang terus menginventarisir karya budaya dari masing-masing kabupaten/kota dan kami meminta mereka untuk mengembangkan dan melestarikannya di tempat asal budaya tersebut," katanya.

Sedangkan dari sisi kuliner, Riau terkenal dengan masakan khas Melayu di antaranya Gulai Asam Pedas Ikan Patin, Gulai Ikan Baung, Kuabu Paku, Patchry Nenas, dan Laksamana Mengamuk.

Bila diingat lagi, Tari zapin telah memeriahkan pembukaan PON Riau 2012 lalu di Stadion Utama Pekanbaru. Zapin merupakan representasi dari penyebaran Islam di Indonesia yang berasimilasi dengan budaya Arab. Tampilnya tarian tersebut dalam PON Riau 2012 karena dianggap mewakili budaya Riau sebagai tuan rumah.

Di Riau juga tersedia Zapin Center Riau yang dipusatkan di Gedung Idrus Tintin. Zapin Center dipergunakan sebagai pusat pengembangan seni Zapin dengan menyajikan sejarah tumbuh dan berkembangnya seni Zapin di Riau baik foto maupun audio. Seni Zapin tumbuh dan berkembang di hampir seluruh kabupaten/kota di Riau. Beberapa daerah tersebut adalah: Kabupaten Pelalawan, Bengkalis, Siak, Inhil, Kepulauan Meranti, Rohil, dan Dumai.

Bahasa Melayu yang digunakan di Riau adalah asal Bahasa Indonesia yang pernah terbina secara intensif pertengahan abad ke-19. Bahasa Melayu dipergunakan sebagai pemersatu bahasa pengantar kemasyarakatan di masa kerajaan Riau-Lingga. Bahasa melayu dinilai telah menjadi ruh bagi puak melayu dan puak lain sebagai sebuah identitas bersama bagi negara-negara di Asia Tenggara. Berikutnya Bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia telah dibina dan dipelihara oleh Raja Ali Haji dan para cendekiawan Riau masa itu.

Dua Pondasi Utama


Tekad Pemprov Riau untuk menjadi pusat kebudayaan Melayu di 2020 nanti terus diwujudkan dengan penyempurnaan berkelanjutan dalam hal dokumentasi dan pembangunan taman budaya yang representativ.

Untuk pusat dokumentasi kebudayaan Melayu, Riau memiliki perpustakaan daerah termegah di Indonesia, yakni Perpustakaan Soeman HS di kota Pekanbaru. Perpustakaan ini telah menjadi destinasi bila ingin mengetahui tentang budaya Melayu.

Dalam koleksinya di Bilik Melayu, tersedia lebih kurang 5.000-an judul buku-buku tentang sejarah dan literatur Melayu. Makanya tidak heran jika Perpustakaan Soeman Hs ditetapkan sebagai pusat buku-buku sejarah kebudayaan Melayu di Sumatera oleh Badan Perpustakaan Nasional.

Memasuki Perpustakaan Soeman Hs, akanmengundang decak kagum. Sebab bangunan yang berdiri megah di jalan Sudirman Pekanbaru ini mentereng bagaikan mall, berlantai 6 dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern pendukung perpustakaan.

Perpustakaan Soeman Hs justru bisa menjadi tempat menyenangkan untuk dikunjungi sekaligus untuk menimba ilmu dari buku-buku Melayu dan lainnya yang tersedia di sini. Pelayanannya juga sangat ramah dan siap membantu pengunjung yang memerlukan bantuan.

Dengan kondisi seperti ini Perpustakaan Soeman Hs tentunya tidak heran jika Perpustakaan Soeman Hs menjadi perpustakaan kebanggaan orang Riau. Setiap hari perpustakaan ini banyak dikunjungi masyarakat, tidak hanya mahasiswa dan pelajar saja, tapi juga masyarakat umum. Menurut data dari Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau, setiap harinya jumlah pengunjung mencapai 1.000 orang lebih.

Pengunjung tidak hanya berasal dari orang Pekanbaru saja, tapi juga dari kabupaten/kota di Riau, bahkan juga dari luar provinsi Riau. "Banyak tamu-tamu yang datang ke Pekanbaru menyempatkan diri datang ke perpustakaan ini, karena bagi mereka tidak lengkap rasanya datang ke Riau kalau tidak mampir ke Perpustakaan Soeman Hs," jelas Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau, Chairul Riski belum lama ini.

Sementara untuk Taman Budaya, Riau telah memilik Taman Budaya Melayu Riau. Taman Budaya Riau merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau yang senantiasa berusaha memberikan dukungan baik dalam hal sarana maupun pra sarana guna kemajuan Kebudayaan di Provinsi Riau.

Dengan fasilitas yang dimiliki Taman Budaya Riau saat ini, yang antara lain seperti, Gedung Olah Seni, Rumah Tari, Teater dan Rupa serta Wisma Seni, diharapkan Taman Budaya Riau mampu menampung para pelaku seni dan budaya untuk beraktifitas dalam mencipta maupun mempergelarkan karya cipta tersebut.

Tahun 2009 ini Taman Budaya Riau kembali menjadi UPT (unit pelaksana teknis) dan kembali menyadang nama Taman Budaya setelah beberapa tahun berganti nama dan fungsi menjadi Balai Penelitian dan Pelatihan Dinas Kebudayaan, Kesenian dan pariwisata Provinsi Riau. Inipun merupakan suatu perubahan positif yang diyakini mampu lebih meningkatkan kinerja Taman Budaya Riau yang akhir diharapkan dapat meningkatkan Kebudayaan itu sendiri.

Beberapa fasilitas yang di Taman Budaya dan dapat dipergunakan bagi para pelaku seni adalah antara lain Gedung Olah Seni. Fasilitas ini dapat dipergunakan untuk keperluan pergelaran karya baik itu musik, tari, teater maupun pameran seni rupa, dan lainnya. Gedung inipun telah dilengkapi dengan fasilitas genset yang dapat digunakan bila perlukan.

Fasilitas Rumah Tari Umar Umayyah yang dapat dipergunakan untuk tempat latihan tari. Difasilitasi dengan cermin agar para penari dan penata tari dapat lebih maksimal dalam bereksplori. Saat ini , sudah ada beberapa sanggar atau kelompok tari yang telah menggunakan fasilitas ini seperti, sanggar tari Malay dan Tameng Sari.

Ada juga Rumah Teater Ibrahim Sattah yang diperuntukkan bagi para pelaku teater untuk berkarya. Tak ketinggalan Teater Terbuka Bustamam Halimi dan Teater Terbuka Sulaiman Syafi'i.

Di Taman Budaya ini diharapkan bisa jadi wadah bagi para pelaku seni Melayu dalam berkarya dan mementaskan hasil karyanya. Dengan fasilitas ini, kesenian Melayu Riau yang bermuara pada Kebudayaan Melayu dapat lebih berkembang lagi. (Adv)

Junjung Tinggi Kearifan Lokal Budaya Melayu



Sebuah pepatah lama: 'Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung', menjadi ihwal atas resam adat melayu yang sudah terpatri hingga turun temurun. Inilah resam yang kian hari terus dipegang teguh oleh kalangan masyarakat di Bumi Melayu Lancang Kuning ini. Kebersamaan inilah, yang harus dipertahankan untuk membangun Riau ke depan.

Sikap menjaga marwah diri dan menjaga keutuhan budaya sesama insan, juga dinilai dapat mempertahankan citarasa sejati dari nilai-nilai semangat dan geliat positif yang menjadi warisan turun-temurun. Seperti nilai keterbukaan, nilai senasib-sepenanggungan, nilai senenek-semoyang, nilai seadat-sepusaka, sepucuk setali darah, nilai sesampan-sehaluan serta nilai menegakkan marwah dalam musyawarah dan menegakkan daulat dalam mufakat.

Demikian disampaikan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Tengku Nazaruddin Effendi yang lebih dikenal dengan Tennas Effendi. Pria yang tunak dengan semangat kemelayuan ini terus memberikan andil besar terhadap revitalisasi kemajuan budaya melayu Riau di kancah nasional.

"Setapak langkah yang harus dilakukan agar lingkar budaya Melayu tak terputus adalah memperkuat rasa peduli terhadap dinamika budaya itu sendiri. Terus memupuk semangat berbudaya dan menjadikannya sebagai acuan yang dapat membangun semangat untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar," jelasnya.

Ia juga mencontohkan ketika masyarakat melayu di Provinsi Kepulauan Riau harus terpisah secara administrasi dengan Provinsi Riau. "Jangan sampai pancang Melayu Kepri tercabut dari tanahnya sendiri, akibat masyarakat Melayu meninggalkan adat dan resamnya. Jadilah tuan dinegeri sendiri," ingatnya.

Dari mempererat persabatan inilah Gubernur Riau, Rusli Zainal SE MP bergelar adat Datuk Seri dari Negeri Melaka, Malaysia, pernah mengatakan bahwa komitmen kerja sama antara bangsa harus terus dipupuk dan dibina.

"Ini perlu kita lestarikan sebagai komitmen Riau menuju visi Riau 2020 terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan bathin, di Asia Tenggara Tahun 2020," papar Gubri.

Untuk itu, Gubri terus menggaungkan dunia melayu dan dunia Islam hingga ke Asia Tenggara, melalui kearifan lokal (local wisdom) budaya melayu. Tentunya hal ini disepakati sebagai nilai-nilai luhur dan dijadikan aturan dan norma dalam masyarakat lokal.

Komitmen ini ditegaskan Gubri saat penyerahan Gelar ''Datuk Perdana Betara Wangsa- yang diserahkan oleh Yang di Pertuan Besar T Husein Ibni Tengku Shaleh yang bertempat di balai Adat Indra Perkasa Pulau Penyengat Indra Sakti Tanjung Pinang, belum lama ini.

Kearifan lokal di peringkat etnik juga bisa bermacam-macam bidang. Misalnya untuk merespons alam sekitar manusia membuat rumah sekalian dengan aspek-aspek spiritual untuk menjaganya. Begitu juga dengan sistem perkawinan, ada yang mendasarkan kepada perkawinan di luar klen (eksogamus), perkawinan untuk kepentingan politik kekuasaan, perkawinan perempuan melamar lelaki atau sebaliknya.

Dari mengangkat kearifan lokal melayu inilah, hasil penelitian diterbitkan Alpha Amirrachman (ed), 2007 dalam 'Revitaslisasi Kearifan Lokal' yang diterbitkan oleh ICIP dan EU, Jakarta, menjelaskan diperlukan pengkajian yang lebih baik untuk memberikan penafsiran dan pemaknaan yang tepat dengan istilah kearifan lokal.

Untuk itu, batasan wilayah, masyarakat, agama, adat dan etnis dengan sendirinya menjadi batasan nilai - nilai kebajikan yang disebut kearifan lokal. Dengan kata lain, setiap komunitas (etnis, agama, daerah) tersebut pasti memiliki nilai - nilai luhur tertentu yang dipandang baik, dijadikan aturan dan norma sosial, minimal dalam komunitas itu sendiri.

Sebut saja seperti kearifan masyarakat Melayu dalam menjaga sungai, khususnya di Kampar Kiri,Kabupaten Kampar. Dengan adanya lubuk larangan harus diikuti semua masyarakat tepian sungai. Karena dalam budaya Melayu sungai berhubungan erat dengan hutan rimba dan tanah sawah ladang dan sebagainya. Oleh karena itu pertama, sungai dianggap masyarakat Melayu sebagai lambang tuah dan marwah masyarakat Melayu.

Ketua Departemen Adat, Seni, dan Budaya Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia, Muhammad Takari menilai bahwa kearifan (kebijaksanaan) sesuatu yang didambakan umat manusia di dunia ini. Kearifan tersebut tambahnya, dimulai dari gagasan-gagasan dari individu yang kemudian bertemu dengan gagasan individu lainnya, seterusnya berupa gagasan kolektif. Takari juga menyebut, kearifan lokal biasanya dicipta dan dipraktikkan untuk kebaikan komunitas yang menggunakannya.

Kearifan lokal ini bermula, jelas Takari, dari ide atau gagasan, yang kemudian diaplikasikan dalam tahapan praktik, dan penciptaan material kebudayaan.  Ia akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, intensitas pergaulan sosial, dan enkulturasi sosiobudaya.  Apalagi dalam dunia yang tidak mengenal batas seperti sekarang ini, kearifan lokal sangat diwarnai oleh wawasan manusia yang memikirkan dan menggunakannya.

Nah, perkembangannya masyarakat Melayu tinggal di pedalaman, tetapi bagi yang tinggal didaerah pesisir mereka menyebutkan dirinya Melayu, Melayu identik dengan Islam. Hal ini menjadi sebuah ketentuan karena budaya Melayu sangat bernafaskan Islam, atau budaya Melayu bersumberkan nilai-nilai ajaran Islam.

Berkaitan dengan hal tersebut maka yang dikatakan Melayu adalah berbahasa Melayu, beradat istiadat Melayu, dan beragama Islam. Selain itu falsafah Melayu bersendikan hukum agama Islam atau sebuah ketentuan dan hukum dan ketentuan itu berdasarkan Al Qur’an. "Apabila kita lihat pendapat dari berbagai ahli asing yang mengkaji tentang masyarakat Melayu, maka bisa dikatakan bahwa masyarakat Melayu adalah suku bangsa yang maju, selalu mengikuti perkembangan zaman," jelasnya.

Seperti pendapat Vallentijn (1712M), terang Takari, menyebutkan bahwa orang Melayu sangat cerdik, sangat pintar dan manusia yang sangat sopan di seluruh Asia. Juga sangat baik, sopan-santun, lebih pembersih dalam cara hidupnya dan pada umumnya begitu rupawan sehingga tidak ada manusia lain yang bisa dibandingkan dengan mereka, umumnya mereka pengembira.

Nah, setidaknya banyak yang menyebut jika tidak dari orang melayu sendiri, siapa lagi yang akan membangun negeri Bumi Lancang Kuning ini. (adv)

Mengangkat Tradisi Melayu Eratkan Persatuan

Mengangkat tradisi melayu lama itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dari tradisi lampu colok, petang megang (petang balimau), menjamu laut dan masih banyak lainnya. Inilah potensi kearifan lokal yang diwariskan nenek kepada generasi penerus.

Pepatah lama Melayu pun kembali diingatkan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat (LAM) Riau, Tennas Effendi, bahwa apabila pesukuan tak berhutan tanah, samalah artinya sebagai orang dagang, yang hidup menumpang di rimba orang, bernaung di suak (anak sungai) orang, menanti belas kasihan orang, menunggu ladang dan belukar orang. Sehingga persukuan ini ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar, di tengah tidak berbatang. Tuah habis, marwah pun hilang, suku hina kaum pun terbuang.

Inilah sebuah kearifan lokal budaya melayu yang menjadi pengingat kepada anak cucu secaar turun temurun. Hal ini juga dikatakan Budayawan Riau, Mohd Yunus, bahwa kearifan lokal itu ada yang diwariskan kepada generasi penerus, namun banyak yang terkubur akibat moderenisasi dan kurangnya minat generasi muda untuk meneruskannya.

Masyarakat Melayu, katanya, juga mengalami nasib yang sama. Menurutnya kebanyakan kearifan lokal hanya dimiliki oleh generasi tua yang kapan saja bisa meninggal dunia. Fenomina ini apabila keterusan akan merugikan masyarakat, karena kearifan generasi tua dalam suatu bidang tiada tolok bandingnya.

Namun ketika budaya melayu itu mulai terkikis ke generasi muda, salah satu karya film 'Seroja' dinilai mampu memberikan konstruksi pengetahuan budaya tertentu. Film tersebut memberikan semangat dalam renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan tentang konstruksi realitas budaya, khususnya budaya Melayu-Indonesia. Demikian dikatakan sutradara muda, Rangga Gourst, dalam Selamatan (doa) Produksi dan Jumpa Pers Produksi Film Layar Lebar 'Seroja' di Kopi Tiam Thamrin City Grand Indonesia Jakarta Pusat.

Inilah sebagai bentuk karya melayu di tengah maraknya produksi film Nasional belakangan ini. Ada kerinduan yang mendalam masyarakat akan hiburan khususnya film Melayu dan film budaya yang mengangkat keragamanan kebudayaan Nasional.

Bukan itu saja, sekitar 4.000 lampu colok dinyalakan pada pembukaan Festival Lampu Colok Pekanbaru 2013 digelar di lapangan TVRI Pekanbaru, Jalan Durian, Kecamatan Payung Sekaki. Tarian Senandung Syukur Seribu Bulan sebagai Tari Pembukaan Festival Lampu Colok dipersembahkan untuk masyarakat Riau. Dan, berbgai festival yang sama dapat pula dijumpai, di seluruh daerah di Provinsi Riau.

Festival lampu colok yang diselenggarakan sejak 1995 itu, merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi yang hingga kini masih tetap bertahan di tengah era globalisasi dan gempuran budaya asing. Lampu colok adalah tradisi melayu lama, tradisi ini bermula ketika pada masa dahulu, pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, masjid atau mushala akan semakin ramai dipenuhi masyarakat. Dan pada sepuluh hari terakhir ini pula, masyarakat yang pergi ke masjid atau mushala, pulangnya semakin larut malam dengan kegiatan beribadah.

Nah, sekarang memang sedikit terjadi pergeseran dari cara tradisi ini dilakukan. "Kalau dulu boleh dibilang inisiatif masyarakat. Namun sekarang dikoordinir pemerintah," sebut Anas Aismana, Ketua Bidang LAM Riau.

"Ini tidak lain dengan tujuan agar di tengah semakin redupnya tradisi lampu colok ini, masyarakat dan pemerintah sepakat untuk tetap mempertahankannya. Karena itu setiap tahun diadakan festival lampu colok di masing-masing kelurahan," tambah penggagas kegiatan budaya petag megang di Pekanbaru ini.

Hal ini juga diikuti dengan tradisi Petang Megang. Tradisi petang megang disebut juga tradisi petang belimau, yang artinya petang (sore) dan megang (waktu diantara sore dan mangrib). Sementara belimau artinya air limau sebagai media air yang dikemas berbagai ramuan tradisional, dengan aroma khas limau purut.

Air belimau inilah digunakan untuk menyiram diri (tubuh) sebagai pembersih. Nah, kepercayaan turun temurun air limau (belimau atau berlimau) ini diyakini juga sebagai upaya orang tua-tua dahulu untuk membersihkan diri dari kotaran-kotoran, baik kotoran yang terlihat (debu yang melekat tubuh) atau pun kotoran yang tidak terlihat (dosa).

Keyakinan air belimau untuk membersihkan diri (tubuh), diakui Datuk Dalang, tetua melayu Riau, bahwa sebenarnya tradisi petang megang dengan mandi air belimau, lebih mengedepankan membuang perbuatan-perbuatan jahat, yang selama setahun penuh dengan debu dan dosa. Agar menghadapi bulan Ramadhan seseorang akan siap menjalankan ibadah. Lebih jelasnya penekanan ini dititik beratkan pada motivasi.

Tradisi 'Menjamu Laut' dilaksanakan di Pelabuhan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kelurahan Purnama Kecamatan Dumai Barat, juga masih terlihat saban tahun di Dumai. Kegiatan ini sebagai tradisi melestarikan budaya bahari dilaksanakan dalam rangka Hari Nusantara Nasional ke-13.

Simbol-simbol yang terpatri ini harus terus dipertahankan, agar manusia sadar, bahwa hidup harus dilalui dengan motivasi dan kepercayaan bahwa Allah memberikan jalan terbaik dengan memberikan peluang-peluang atau kesempatan untuk beribadah. (adv)




 
Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved