Meranti
Pemkab Meranti | DPRD Meranti
 
+ INDEX BERITA

20:56 - Baru Dibangun, Plafon Pusk...
18:49 - Tiga Desa di Meranti Ini J...
13:22 - Program Desa Bebas Api Bua...
19:16 - Lahan Tak Bersertifikat, P...
11:45 - BPBD Meranti Salurkan Bant...
15:27 - Pemilik Swalayan Top 99 Di...
15:39 - Pembangunan Proyek di Mera...
10:33 - Dinilai Sukses Kembangkan ...
16:18 - Baru Menjabat, Kadis Perik...
10:18 - Selain Kemiskinan, Subside...
11:18 - Berbeda dengan Puslabfor M...
20:21 - Ribuan Hektare Hutan Mangr...
13:51 - Konsisten Bantu Masyarakat...
18:41 - Bupati Berang Lihat Sampah...
15:17 - Minim Kucuran Anggaran, Wa...
12:12 - Dikritik Lakukan Sidak dan...
11:55 - BBPOM Sidak Barang Tanpa I...
15:10 - Duh, Bidan dan Petugas Keb...
16:11 - RAPP Bangun Depot Air Minu...
16:37 - Jembatan Desa Tanjung Pada...
10:23 - Deklarasi Anti Hoaks, Kapo...
19:03 - Pakai Nomor Registrasi BPO...
14:12 - Bercacing, Ikan Sarden Far...
05:47 - Tiga Unit Mesin Pembangkit...
11:22 - Cetak Sawah Baru di Merant...
16:40 - Sample Dibawa ke BPOM Peka...
06:10 - KPU Meranti Tetapkan DPS P...
22:05 - Dispar Riau Sosialisasi Sa...
18:15 - Sejak 2016, 11 ASN Merant...
17:47 - Banyak Pembangunan Proyek ...
07:14 - Bahas Pengelolaan Gambut B...
19:25 - Bupati Irwan Tegaskan Siap...
19:30 - Abrasi di Kecamatan Rangsa...
11:05 - Genset Desa Diperbaiki, Wa...
23:12 - BPBD Meranti Ragukan Data ...
13:33 - Rastra Gratis, Kades di Me...
18:02 - Kepala Desa dan Kepala OPD...
17:32 - Heboh di Medsos, Istri Seb...
12:30 - Begini Potret Meriahnya Fe...
21:06 - Status Darurat Karhutla di...
19:13 - LAMR Meranti Nyatakan Pera...
22:34 - Padamkan Api, Tiga Helikop...
18:16 - Karhutla di Meranti Meluas...
06:39 - 100 Hektare Lebih Lahan Te...
16:59 - Pulau Rangsang Dapat 'Jata...
19:15 - Diekspor Tanpa Merek, Prod...
11:13 - Wacana Potongan 2,5 Persen...
18:51 - 22 Desa di Meranti Belum N...
12:36 - Tangkal Generasi Muda Mera...
18:57 - Bupati Ajak Kades Hati-hat...
 
Izin Terancam Dicabut, Mitra Bina PT RAPP dengan Ratusan Karyawan akan Kehilangan Pekerjaan
Kamis, 12/10/2017 - 08:50:06 WIB
Salah satu Mitra Bina RAPP di Teluk Meranti ikuti pelatihan ternak dan dapat bantuan 16 ekor Sapi. FOTO: Dok
Salah satu Mitra Bina RAPP di Teluk Meranti ikuti pelatihan ternak dan dapat bantuan 16 ekor Sapi. FOTO: Dok
TERKAIT:

SELATPANJANG - Di tengah berkecamuknya isu pencabutan izin operasional PT RAPP yang diduga merusak ekosistem di tanah gambut, ternyata keberadaan perusahaan industri bubur kertas (pulp) dan kertas ini telah memberikan multiplier effect atau efek penggandaan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga ke hilir.

Salah satunya yakni merangsang perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian daerah.

Dampak positif tersebut dirasakan oleh Aizan, (40) salah seorang warga Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Seiring berdirinya perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut membuat Aizan terpacu untuk bergabung dalam program pembinaan UKM atau Small Medium Entrepreneurship (SMEs) dari PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Hal tersebut sesuai dengan prinsip pendiri perusahaan, Sukanto Tanoto menjalankan bisnisnya, yakni baik untuk masyarakat (Community), negara (Country), iklim (climate) dan perusahaan (Company).

Aizan, (40) warga Pulau Padang Kepulauan Meranti kini sukses menjalankan usahanya dengan mendapatkan amanah sebagai mitra bina perusahaan kertas terbesar di Asia dengan menjadi mitra bina PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melalui program Usaha Kecil dan Menengah (Small Medium Enterprises), Community Development (CD). 

Aizan merupakan satu dari tiga warga Pulau Padang yang menjadi mitra RAPP untuk penyediaan transportasi air atau rental Speed Boat.

Diceritakannya, bahwa dirinya sudah memiliki satu unit kapal speed boat, namun pada awal tahun 2012 silam dirinya dibantu oleh PT RAPP sebesar Rp200 juta untuk modal pembuatan kapal speed boat berukuran 7 x 1,20 yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT RAPP dari berbagai daerah seperti Sungai Pakning, Bengkalis, Selatpanjang dan daerah lainnya. Untuk mengembangkan lagi usahanya, dari hasil dua unit kapal yang dimilikinya,  pemilik CV Kejora Pulau Padang ini kembali membeli kapal pada tahun 2014 seharga Rp275 juta.

Untuk penghasilan, Aizan meraup keuntungan yang besar, dimana berdasarkan pekerjaannya, pihak perusahaan membayar Rp15 juta perbulan dengan masa kontrak 5 tahun.

"Ini komitmen dan janji perusahaan terhadap warga tempatan, untuk membayar saja mereka tidak pernah telat. Semenjak bekerjasama dengan RAPP, hidup saya juga lebih tenang, tidak ada tekanan dan saya sudah memiliki pendapatan yang tetap,” ujarnya.

Saat ini, kata dia pendapatannya dan mitra bina lainnya mulai menurun, karena berhentinya operasional perusahaan akibat dari aturan baru dari pemerintah pusat bagi perusahaan HTI, begitu juga terhadap warga yang lain, imbas dari berkurangnya operasional perusahaan tidak sedikit warga yang kehilangan pekerjaannya.

"Semenjak operasional perusahaan berkurang, pendapatan kita juga ikut berkurang, begitu juga dengan warga yang lain, karena selama ini banyak warga Pulau Padang yang menggantungkan hidup mereka pada RAPP, kini banyak yang pekerjanya dibatasi, akibatnya banyak yang kehilangan pekerjaan, kalau bisa aturan yang ada tidak menghambat operasional perusahaan," kata Aizan. 

Dia pun berharap keberadaan RAPP bisa terus mampu menciptakan lapangan kerja dan mampu memotivasi masyarakat yang berada disekitar wilayah operasional RAPP untuk terus memajukan dan meningkatkan perekonomian mereka.

"Suatu saat dengan adanya kerjasama dengan PT RAPP yang berkelanjutan, seluruh pengangguran di sekitar sini dapat terserap” tuturnya.

Hal senada juga dikatakan Anwar Umar, pemilik Nursery PT Oya Makmur mitra bina usaha PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Pulau Padang, Umar mengatakan mayoritas penanaman bibit untuk perusahan HTI dilakukan oleh masyarakat, selain itu selama beroperasi PT RAPP terus melaksanakan program pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pola-pola kemitraan yang saling menguntungkan.

"Nursery tempat melakukan pembibitan bibit akasia yang saya kelola mempunyai karyawan sebanyak 150 orang yang terdiri dari lelaki dan perempuan, di Pulau Padang sendiri terdapat 2 Nursery dan 3 lahan tempat penanaman, mayoritas pekerjanya adalah masyarakat Pulau Padang. Saat ini perusahaan berhenti beroperasi akibatnya banyak masyarakat yang menganggur dan harus menjadi TKI ilegal ke malaysia demi menyambung hidup," kata Anwar.

Anwar berharap kepada pemerintah untuk meninjau ulang terhadap pencabutan izin PT RAPP, menurutnya masyarakat tidak punya pilihan lain untuk menafkahi keluarga mereka selain berkerja di perusahan.

Penulis: Ali Imroen
Editor: Yusni Fatimah


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Parkir Sembarangan, Asisten I Setdako Pekanbaru Sebut Pemilik Mobil Ini Kurang Etika
  • Diduga Korsleting Listrik, Rumah Ariadi Ludes Terbakar
  • Anggaran Perkemahan Wirakarya PTK di UIR Terkendala Anggaran
  • Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat, Walikota Dumai Resmikan Command Center
  • 20 Persen Anggaran Pendidikan di APBD Dinilai Tak Cukup untuk Rehab Sekolah di Pekanbaru
  •  
    Komentar Anda :

     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2016 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved