www.halloriau.com  
Hukrim
BREAKING NEWS :
Waduh, Orang yang Kerap Gunakan Emoji Jago Kencan dan Aktif Secara Seksual
 
Dituntut Hukuman Mati, Kuasa Hukum 5 Terdakwa 37 Kg Sabu Siapkan Pembelaan
Jumat, 16/08/2019 - 13:06:11 WIB

PEKANBARU - Tiga dari lima terdakwa 37 kilogram sabu dituntut hukuman mati, Kuasa Hukum siapkan Pledoi. Keprihatinan Kuasa Hukum Terdakwa, Achmad Taufan bukan tanpa sebab. Karena Ia menilai pembuktian temuan narkoba dalam sebuah pompong itu lemah dari sisi pembuktian.

"Jelas ini sangat ironis dan memprihatinkan penegakan hukum kita. Sudah jelas fakta dalam persidangan sangat lemah pembuktian. Bahkan majelis hakim beberapa kali menegur JPU karena pertanyaan-pertanyaan JPU tidak fokus mengarah kepada inti materi pembuktian. Hanya berputar-berputar saja," terangnya.

Meski demikian, ia percaya majelis hakim memiliki pertimbangan terbaik. Tentu dengan melihat fakta persidangan yang sudah berlangsung. Mulai dari keterangan ahli, penyidik polisi hingga terdakwa.

"Melihat fakta persidangan yang kita jalani, keterangan saksi ahli yang kita hadirkan serta pembuktian penuntut umum yang sangat lemah dapat menjadi pertimbangan terbaik majelis hakim. Kita percaya itu," tambahnya.

Kini, Achmad Taufan tengah fokus dalam menyelesaikan pembelaan. Salah satu rencananya adalah, ia akan memaparkan secara gamblang fakta persidangan sesuai rekaman sidang dan saksi -saksi. Ini diharapkam dapat menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara sesuai fakta persidangan.

"Berdasarkan fakta persidangan klien kami tidak bersalah dan tidak patut dipersalahkan dalam hal penemuan Narkotika tersebut. Mengingat lemahnya pembuktian penuntut umum dalam persidangan," ujarnya dikutip dari Riauterkini.

Sebelumnya, ahli pidana umum bidang penyidikan Dr Basuki menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kejanggalan atau "missing link" dalam perkara itu. Dosen Pascasarjana Universitas Esa Unggul tersebut menerangkan, ada beberapa kejanggalan dalam kasus itu. Bermula saat barang bukti 37 kilogram sabu ditemukan dalam kapal pompong di perairan Bengkalis, Desember 2018 lalu. Mulanya kapal pompong yang dikendarai Rozali dan beberapa temannya kehabisan minyak. Kala itu pompong ini dicurigai dan digeladah petugas kepolisian yang tengah melaksanakan patroli.

Penggeledahan berlangsung dengan disaksikan oleh Rozali dan lainnya. Penggeledahan itu tidak ditemukan barang bukti. Sehingga Rozali diizinkan untuk meninggalkan kapal guna membeli bahan bakar. Akan tetapi, sekembalinya mereka ke kapal, justru polisi menyebut telah menemukan 37 kilogram sabu-sabu.

"Barang bukti narkotika itu kan katanya ditemukan masyakarat atau polisi. Maka orang yang menemukan harus diproses dan mestinya dihadirkan guna didengar keterangannya di muka persidangan, Kalau itu ngga ada berarti ada hal prinsip yang kurang," ujarnya.

Sementara dalam proses persidangan, terdakwa sepakat mencabut berkas acara pemeriksaan (BAP) kepolisian. Mereka mengaku pemberian keterangan itu dibawah tekanan penyidik Polri.

"Keterangan saksi itu bernilai pembuktian apabila disampaikan di depan persidangan. Dalam hal pencabutan BAP berarti keterangan di penyidik tidak berlaku. Yang berlaku itu di persidangan," jelasnya.

Bukan hanya itu, Basuki juga mengatakan proses penanganan perkara narkoba harus jelas siapa saja yang terlibat. Mukai dari siapa yang membawa bahkan menguasai. "Semua bisa dipidanakan. Seharusanya tahapan ini bisa diungkap dari awal. Tapi disini ada yang terputus " missing link". Tentu kalau begitu sulit disimpulkan," bebernya.

Sementara tuntutan hukuman mati bagi tiga terdakwa yakni Suci Ramadianto, Iwan Irawan dan Rojali ini disampaikan langsung oleh Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bengkalis, Aci Jaya Saputra di Pengadilan Negeri Bengkalis, Kamis (15/08/19) petang. Sementara dua terdakwa lainnya dituntut hukuman 20 tahun penjara.

"Agar majelis hakim Pengadilan Negeri Bengkalis yang mengadili perkara ini memutuskan, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Suci Ramadianto alias Uci bin Subandi dengan pidana mati," katanya.

Dalam persidangan yang dipimpin langsung oleh Hakim Zia Ul Jannah serta hakim anggota Aulia Fatma Widhola dan Annisa Sitawari otu, JPU juga menuntut hukuman yang sama terhadap dia terdakwa lain yaitu Iwan dan Rozali.

Mereka, sesuai fakta persidangan terbukti dan bersalah melanggar tindak pidana narkotika sesuai Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun tahun 2009 atau sesuai dakwaan pertama.

Sedangkan untuk dua terdakwa lainnya yang dituntut hukuman 20 tahun penjara adalah Surya Dharma Dan Muhammad Aris. Selain penjara, keduanya juga dituntut membayar denda Rp20 miliar subsider tiga bulan kurungan. (*)

Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Waduh, Orang yang Kerap Gunakan Emoji Jago Kencan dan Aktif Secara Seksual
  • Defisit, Proyeksi Belanja RAPBD Meranti Tahun 2020 Naik Sebesar Rp1,453 Triliun
  • Wow, Kadisparbud Sebut Festival Pacu Jalur Kuansing 2019 Pecahkan 2 Rekor MURI
  • Lima Terdakwa Kasus 37 Kg Sabu Dituntut Hukuman Mati, Sampaikan Pembelaan dengan Tangisan
  • Gagal Melaju ke Babak Selanjutnya, Jonatan Tersingkir dari Kejuaraan Dunia Bulutangkis
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Potret Lensa
    Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi
     
     
    Eksekutif : Pemprov RiauPekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved