www.halloriau.com
Ekonomi
BREAKING NEWS :
Tatap Pilkada 2020, Andi Rahman Sebut Utamakan Kader Partai Golkar untuk Maju
 
Kemudahan-kemudahan Berbisnis Ini Bikin Investor Lebih Pilih Vietnam Dibanding RI
Sabtu, 19/10/2019 - 11:20:17 WIB
 Kota Hanoi, Vietnam. FOTO: iStock
Kota Hanoi, Vietnam. FOTO: iStock
TERKAIT:

JAKARTA - Semenjak terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, banyak perusahaan yang hengkang dari China. Sayangnya mereka cenderung memilih Vietnam ketimbang Indonesia.

Vietnam pun kini menjadi salah satu negara yang cukup banyak menarik investasi perusahaan dunia. Negara ini dinilai memberikan banyak keuntungan bagi para investor.

Lalu apa hebatnya Vietnam hingga membuat para investor kepincut? Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Ibnu Hadi mengungkapnya:

Hadi menjelaskan, perusahaan yang ingin melakukan produksi suatu produk tentu mempertimbangkan cost of production saat memilih lokasi. Dari beberapa unsur di dalam biaya produksi saat ini Vietnam memang lebih unggul dari segala sisi dibanding Indonesia bagi para investor.

"Jadi kita lihat dari cost of production-nya. Kan intinya ada upah buruh, harga material, kemudian harga tanah, kemudian utilities seperti listrik, air, kemudian regulasi. Kalau itu ditotal baru kelihatan," ujarnya saat berjumpa dengan awak media di Sparks Luxe Hotel, Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Dari segi upah buruh, Vietnam masih lebih murah. Menurut catatannya UMP di provinsi kecil di Vietnam hanya sekitar US$ 90-120 per bulan atau setara Rp 1,26-1,68 juta (kurs Rp 14 ribu).

"Itu di provinsi yang remote, kalau di Hanoi juga masih US$ 210 UMR-nya (sekitar Rp 2,94 juta). Jadi memang secara rata-rata masih di bawah kita," tambahnya, dikutip detikcom.

Dari sisi bahan baku, kata Ibnu, Vietnam juga masih lebih murah dibanding Indonesia. Sementara untuk tarif listrik hingga air menurutnya cenderung sama dengan Indonesia.

Faktor lainnya yang membuat Vietnam begitu seksi di mata investor adalah fasilitas tanah yang diberikan oleh pemerintahnya.

Di Vietnam ternyata pemerintahnya bisa memberikan cuma-cuma tanah milik negara untuk investor yang ingin berinvestasi pada sektor industri yang tengah menjadi fokus pembangunannya.

"Di sana tanah kan pada dasarnya milik negara, tidak ada milik swasta. Jadi pemerintah sana memang punya tanah yang bisa dilepas. Misalnya dia mau bangun hotel sesuai industri yang mau dikembangkan, okeh you mau berapa hektare? Harganya kadang cuma harga administrasi saja," terangnya.

Tapi pemerintah Vietnam memberikan cuma-cuma tanahnya kepada investor dengan beberapa syarat. Selain membangun kegiatan usaha sesuai dengan industri yang ingin dikembangkan, juga ada persyaratan detil lainnya.

"Misalnya Anda harus kerja keras dan janji misalnya akan mempekerjakan 500 orang, atau Anda bangun infrastruktur jalan ataupun listrik dan lainnya," tambahnya.

Pemberian tanah secara cuma-cuma untuk jangka waktu tertentu itu di Vietnam bahkan diterapkan hingga taraf provinsi. Hal itu tentu sangat menggiurkan bagi investor.

"Komponen utama kan tanah. Kalau untuk tanah enggak ngeluarin, duitnya bisa dibuat untuk pembangunannya," terangnya.

Terakhir, dari sisi regulasi perizinan, Indonesia juga masih kalah. Vietnam hanya ada 2 perizinan untuk investor, yakni perizinan investasi dan sertifikasi usaha.

Untuk perizinan investasi hanya membutuhkan waktu 3 hari, sedangkan sertifikasi usaha hanya 7 hari. Keduanya bisa diurus secara bersamaan.

Kedua perizinan itu diurus di level provinsi, tidak perlu ke pemerintah pusat. Menariknya lagi, izin-izin itu meski dikeluarkan oleh pemerintah provinsi seluruhnya seragam dari segi persyaratan, format hingga waktu.

"Jadi dari 5 faktor kita kalah bersaing. Baik dari bahan baku murah, harga tanah, utilities sama harganya, perizinan kita kalah, jadi mohon maaf kita kalah," kata Ibnu

Padahal Vietnam merupakan negara komunis yang dikuasai partai komunis. Seluruh kementerian dan lembaganya diisi oleh orang partai komunis dan menjalankan prinsipnya.

Tapi dalam urusan ekonomi, Vietnam seperti bukan negara komunis. Negara ini memberikan karpet merah untuk perusahaan asing yang mau berinvestasi.

"Makanya ada paradoks ini negara komunis orang bilang kaku, tapi Vietnam seperti China, komunis hanya untuk pemerintahannya. Kalau untuk ekonominya mereka lepaskan, yang penting dia dapat uang. Jadi malah dia lebih bebas," ujarnya. (*)







Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)

 
Berita Lainnya :
  • Tatap Pilkada 2020, Andi Rahman Sebut Utamakan Kader Partai Golkar untuk Maju
  • Sambut Hari Ibu, Agung Toyota Sutomo Gratiskan 1 Liter Oli dan Diskon 50 Persen Jasa Servis
  • Kemenperin Keluarkan Izin Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
  • Viral Bahaya Injak Kecoa Bikin Cacing Masuk ke Kulit, Ini Faktanya
  • Kasus Suap Pembangunan Jalan di Bengkalis, KPK Periksa Dirut PT Darmali Jaya Lestari
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Potret Lensa
    Sapa Pelanggan Telkomsel di GraPARI Mal Ska Pekanbaru
     
     
     
    Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
    Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
    DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
         
    Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
        © 2010-2019 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved